Laki-Laki Basah Budi Darma

Buku ini memuat lima belas cerpen terbaik Budi Darma, sastrawan yang juga guru besar sastra Universitas Negeri Surabaya. Ilustrasi sampulnya menarik. Ada topi baja, selongsong peluru, pena, dan sampul surat bercaplak pengarang.

Jagat sastra di negeri ini tahu bahwa Budi Darma, yang memperoleh gelar doktornya di Bloomington University, Indiana, AS, memang seorang datuk sastra yang piawai. Kepiawaiannya mengupas teori dan kelincahannya mengocok kata-kata tentunya lekat dengan budaya Jawa dalam dirinya.

Dalam peribahasa Jawa orang mengenal ungkapan randha teles yang maknanya janda ”berkebolehan”. ”Boleh” dengan segala ”keistimewaan” yang dimilikinya. Dan, keistimewaannya itu mengundang serta menyenangkan bagi banyak penggemarnya. Istilah randha teles membawa tautan antara teori dan praktik kata-kata, yang sedikit-banyak, mampu menggelitik dan menggiring daya cipta Budi Darma untuk menelorkan satu istilah baru: jaka teles atau dalam bahasa Indonesia ”laki-laki basah”.

Kebolehan dan keistimewaan ”laki-laki basah”, menurut Budi Darma (dalam karyanya yang lain, Rafilus) adalah ”…kekuatan hebat untuk membayangkan dan kemampuan luar biasa hebat pengarang untuk mengungkapkan apa-apa yang dibayangkannya. Meskipun kadang-kadang pengarang tampak mengada-ada, orang cenderung percaya kepadanya. Sedangkan pengarang sendiri tidak sadar berada di mana dan tidak tahu apa sebenarnya yang sedang dikatakannya. Jaringan otaknya tersusun sedemikian khas sehingga menyebabkan pengarang terayun antara bayangan dengan kenyataan, dan antara kenyataan dengan bayangan…”

Cerpen Laki-Laki Lain dalam Secarik Surat merupakan cermin kekuatan hebat ”laki-laki basah”. Pengungkapan luar biasa hebat Budi Darma tentang bayangan-bayangan yang hebat memang merupakan kedahsyatannya memadukan teori dan praktik sastra. Tampak pengungkapan teori-praktik konflik dalam kisah anak manusia ketika berinteraksi dengan dunia sekelilingnya maupun dengan kediriannya sendiri. Konflik ini nyata dan jelas pada kisah LakiLaki Setengah Umur dalam mencari jati dirinya.

Masa ”setengah umur” adalah masa sulit bagi semua laki-laki karena mereka berada dalam masa ”setengah”, masa mentah tidak dan matang pun belum. Penentuan jati dirinya terayun-ayun antara mengikuti pola gambar orang tua, kakek, dan kakek buyut atau berjalan lurus terus. Laki-laki setengah umur dibentuk Budi Darma tanpa nama, dan hanya diberi label ”laki-laki setengah umur” sepanjang kisah.

Di sinilah letak kepiawaian teori konflik, bukan hanya antara anak-ayah melainkan juga antara anak serta seluruh buyut ayahnya. Dan di sini jualah letak kelincahan dan kejelian Budi Darma mengocok kata-kata: emphasis pada predikat ”setengah umur” menjadi lebih penting dan nyata dibandingkan dengan pemberian nama pronominal -Budi Darma, misalnya.

Laki-laki basah menjadi identik dengan Budi Darma dengan segala kepiawaian dan kelincahannya. Kalau Laki-Laki Lain dalam Secarik Surat kemudian diidentikkan dengan ”Laki-Laki Basah tanpa Secarik Cawat” hanyalah karena basah-basah itu akan menjadi jelas dan nyata apabila keseluruhan keberadaan laki-laki itu polos. Kepolosannya inilah yang akan membawa orang pada pemandangan atau pemikiran yang benar-benar menakjubkan.

Dalam cerpen Penyair Besar, Penyair Kecil Budi Darma memeragakan kepolosan tokoh penyair besar dalam dialognya dengan tokoh penyair kecil ”…begini, mengenai sajakmu itu begini. Kalau kauizinkan aku mengutip pendapat Sapardi Djoko Damono yang pernah diucapkan kepadaku, dan kalau kutipanku ini tidak keliru, sajak semacam sajakmu yang terakhir itu adalah hasil karya orang yang diletan…”

Segala yang dikatakan oleh tokoh penyair besar kepada tokoh penyair kecil merepresentasikan kepolosan tokoh penyair besar akan kebesarannya. Kepolosan ini tertuang dalam empat aspek. Pertama, permohonan izinnya untuk mengutip pendapat orang lain; kedua, penyebutan nama Sapardi Djoko Damono sebagai nara sumber yang pernyataannya dikutip; ketiga, kejujurannya pada kekuatan memorinya; dan keempat keterus-terangannya menyebutkan predikat letan kepada tokoh penyair kecil walaupun predikat itu membuat yang bersangkutan jengah.

Dua aspek ”laki-laki basah” dan ”tanpa secarik cawat” dalam buku kumpulan cerpen Laki-Laki Lain dalam Secarik Surat memberi pencerahan kepada pembaca, sebagaimana diungkap pada sampul halaman akhir bahwa ”tokoh-tokoh Budi Darma adalah manusia ganjil, terkadang keji, dan cenderung asosial. Namun, di sisi lain, mereka juga bisa menjadi begitu na�f, baik hati, dan jujur. Dengan gaya bertuturnya yang lembut, tapi penuh kejutan, Budi Darma akan membawa kita ke dalam pemenungan mendalam tentang manusia dan kemanusiaan.”

Itulah Budi Darma, sang begawan. Semoga pembaca dapat menikmati kebasahannya tanpa secarik cawat dalam tulisan-tulisannya, terutama dalam Laki-Laki Lain dalam Secarik Surat. (*)

Judul Buku: Laki-Laki Lain dalam Secarik Surat

Penulis: Budi Darma

Penerbit: Bentang Jogjakarta

Cetakan: Pertama, 2008

Tebal: xiv + 265 Halaman

Prof Dr Fabiola D. Kurnia

Guru Besar Sastra di Universitas Negeri Surabaya

Jawa Pos, [ Minggu, 26 Oktober 2008 ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: