Henky Kurniadi dan Lukisan Potret Diri

Surabaya – Henky Kurniadi adalah pengusaha dan kolektor lukisan. Ia banyak mengoleksi lukisan-lukisan potret diri, karena dari lukisan itu Henky merasa bisa bercermin. Dari lukisan sosok yang dibuat oleh puluhan pelukis, orang juga bisa belajar banyak tentang filosofi hidupnya.

“Pohon pisang itu, walaupun dipotong berkali-kali kalau belum berbuah tidak akan mati. Artinya kita tidak boleh putus asa,” kata Henky mengomentari lukisan “Lelaku” karya Bagas Karunia Putera.

Henky, pengusaha yang mantan aktivis mahasiswa serta Bengkel Muda Surabaya (BMS), tempat berkumpulnya seniman itu, mengomentari lukisan potret dirinya karya puluhan seniman nasional, lokal, bahkan luar negeri.

“Lelaku” merupakan salah satu lukisan garapan seniman dengan obyek potret diri Henky. Saat ini ia sudah mengumpulkan lebih dari 30 lukisan potret dirinya dalam berbagi tafsir pelukisnya.

Pada karya Bagas yang dalam Bahasa Indonesia, “Lelaku” berarti perilaku, jajaran pohon pisang dengan gaya dekoratif menjadi latar belakang dari penggalan potret diri Henky. Lukisan berukuran hampir tiga meter lebih dengan tinggi 1,5 meter itu berisi penggalan-penggalan tentang “lelaku”.

Di ujung kanan, Henky dilukiskan bersama rajawali yang selalu jeli mencari makan, meskipun sasarannya berada di dalam air. Rajawali menggambarkan kreativitas sekaligus kekuatan untuk mencari peluang dari posisi bebas di udara.

Henky juga bersama semut yang menurutnya adalah hewan paling rajin dan selalu melakoni hidup secara sistemik, meskipun tidak harus ada pemimpinnya. Gerombolan semut selalu berjalan seirama dalam satu jalur bersama.

Pada sisi lain ia berada di depan jangkar, di atasnya ada mahkota dan kunci. Jangkar melambangkan kekokohan prinsip sehingga manusia tidak mudah terombang-ambing, mahkota melambangkan kehormatan yang harus dibela.

“Sementara kunci melambangkan sikap bagaimana kita seharusnya berperan dalam kehidupan ini. Kita seharusnya bukan menjadi masalah bagi kehidupan, tapi sebaliknya, pemecah masalah. Kita harus menjadi kunci untuk menyelesaikan persoalan,” katanya.

Alumni Ubaya yang kini menggeluti usaha properti, pertambangan dan penerbitan Henk Publika itu juga meneladani tawon. Semua komponen dan yang dihasilkan hewan berbisa itu memberi manfaat bagi kehidupan.

Teratai yang menjadi dasar dari lukisan itu melambangkan konsistensi hidup. Sebab teratai akan selalu mengambang dan berbunga indah. Ia tak peduli, apakah berada di air jernih atau keruh.

“Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk menjadi buruk, walaupun kita hidup di lingkungan yang buruk kalau kita meneladani teratai ini,” kata pengusaha yang banyak bergaul dengan kalangan seniman, nelayan dan elemen lainnya itu.

Pada merpati putih yang terbang indah di atas kepala Henky, manusia bisa belajar mengenai kesucian jiwa. Merpati melambangkan keadamaian kehidupan.

Bagas menjelaskan bahwa karyanya itu tidak berpretensi untuk menunjukkan, itulah Hekny. Ia hanya menunjukkan bahwa manusia bisa memilih jalan dari perilaku satwa maupun tumbuhan yang dilukisnya.

“Kalaun obyek utamanya adalah Henky, itu kan hanya pilihan saja. Saya bisa saja melukis wajah lain. Saya memilih Henky karena ia juga seniman. Cuma dia seniman konsumtif, saya seniman produktif,” katanya.

Di dua lukisan lainnya, yakni karya Suminto asal Banyuwangi dan Ivan Haryanto, juga asal Banyuwangi dan kini tinggal di Surabaya, rajawali menjadi bingkai filosofisnya.

Bahkan di karya Ivan, sosok Henky lebih lengkap. Ada rajawali kemudian pengelanaan yang dilengkapi dengan tiga ‘Henky’ sedang merenung. Semburat cahaya juga melatari kompleksitas diri Henky.

Di karya seniman muda asal Krian, Sidoarjo, Jansen Jasien, sosok Henky tampil sebagai pengelana. Lukisan itu menggambarkan bagaimana pengelanaan fisik maupun batin Henky telah melampaui batas-batas bangsa, negara, dan agama.

Menurut Henky, ia suka mengembara atau berkelana ke berbagai tempat. Namun, pengembaraan itu juga diikuti pengelanaan batin. Karena ia lebih pas menyebut perjalanan kemusafiran dirinya itu dalam kata, ziarah sunyi.

“Pengelanaan batin Henky menurut saya banyak memberikan pelajaran tentang perjuangan,” kata Jansen Jasien.

Dwijo Sukatmo dalam karyanya tahun 2006 tentang perjalanan, menggambarkan pengelanaan manusia dari lahir hingga menunju alam lain. Sebagai orang Jawa, wajar jika penggambaran perjalanan itu menggunakan media wayang.

Lukisan abstrak itu menggambarkan peran manusia dari sebagai Arjuna yang selalu berada di depan dalam berbagai peran kehidupan hingga Semar. Pada perjalanannya, manusia mundur dari Arjuna menjadi Kresna yang berada di belakang. Saat itu Kresna hanya memegang “remote control”.

“Pada perjalanan selanjutnya, kita harus menjadi Semar. Semar sejatinya adalah dewa yang mewujud menjadi rakyat jelata,” kata penasehat “Surabaya Haritage” itu.

Pluralisme

Inilah semangat pluralisme yang ditunjukkan Henky hingga ia bisa “bermesraan” dengan berbagai kalangan dalam lintas budaya, agama, negara dan personal itu.

Meskipun tampaknya tidak terlalu sesuai dengan Henky, pelukis dan dalang Sujiwo Tejo melukisnya dalam banyak “baju agama”. Dalam lukisan itu sosok “Henky” terlihat berkalung salib sedang duduk salat menggunakan jubah Buhda dan di depannya ada pura.

Bagi Henky, penggambaran seperti itu tidak ada masalah karena itulah hak prerogatif seniman untuk berkarya. Bahkan di karya lukisan penyair Zawawi Imron, Henky lebih banyak ditampilkan mirip kiai.

Ada sekitar empat lukisan karya Zawawi dengan obyek Henky. Salah satunya adalah karya yang diambil dari puisi Prof Dr Abdul Hadi WM, MA (penyair asal Madura) dengan judul, “Meditasi Api”.

Lukisan itu menggambarkan lingkaran api yang di dalamnya ada sosok Henky. Kemudian di bawanya ada wadah dikelilingi tulisan huruf Arab.

“Bagi saya tidak ada masalah karena tulisan Arab itu bukan dari Alquran, tapi puisi Abdul Hadi WM. Semuanya menunjukkan Zawawi yang terbingkai dalam religiusitas. Itu semua menunjukkan kedalaman batin pelukisnya,” katanya.

Ia mengemukakan, pluralisme yang ia bangun ibarat mozaik yang semuanya memiliki peran masing-masing. Ia juga menggambarkan hal itu seperti campuran kopi, gula dan air panas.

“Ketiga komponen itu kan bercampur dengan indah dan enak dalam wujudnya masing-masing, tanpa kehilangan jati dirinya, baik sebagai gula, air maupun kopi,” katanya.

Mengenai koleksi karya lukisan dengan obyek dirinya, Henky mengemukakan bahwa hal itu sesuatu yang lumrah dan tidak ada kaitan dengan megalomania.

“Saya sudah mengoleksi ratusan karya lukisan, tapi semuanya tidak jelas dan tidak saya kenal. Ada penari Bali dan lainnya,” katanya.

Ia mengemukakan, dirinya sudah banyak menemui tokoh seni yang menyimpulkan bahwa mengoleksi gambar diri dari lukisan itu sangat penting. Hal itu, karena ada hubungan yang sangat dekat antara kolektor dengan pelukis dan lukisannya.

“Saya mengoleksi lukisan potret diri ini bukan sebagai Henky pribadi, tapi sebagai manusia. Jadi pesan-pesan yang ada dalam lukisan tentang potret saya itu berlaku untuk semua manusia,” kata pengusaha muda di Surabaya itu.

Selain karya pelukis Indonesia, karya potret dirinya juga berasal dari lukisan seniman asal Amerika Serikat, Roma, Praha dan Denmark.

Wakil ketua “Surabaya Heritage”, Freddy H Istanto mengatakan bahwa potret diri seringkali diartikan sebagai sikap menyenangkan diri sendiri. Padahal sebenarnya tidak selalu seperti itu.

“Hanya saja kita harus menerima lukisan potret kita yang menurut kita tidak sesuai. Karena barangkali itulah diri kita dari sudut pandang pelukis itu,” katanya.

Keterangan Foto: Henky Kurniadi sedang menjelaskan konsep pengelanaan batin di depan lukisan “Napak Tilas” karya pelukis muda asal Krian, Sidoarjo, Jansen Jasien.

Masuki M. Astro
antarajatim, Kamis, 23 Okt 2008 10:45:56

3 Responses

  1. catatan yang menarik. salam hangat

  2. kalau bisa buat kompetisi potret diri bapak dari 2 dimensi sampai 3 dimensi, dan peserta bisa dari seluruh indonesia.
    salam budaya.

  3. Salam hormat untuk Pak Henky Kurniadi, saya sangat antusias dan apresiatif dengan sikap budaya bapak sebab figur seperti bapak di Indonesia masih sangat sedikit bahkan kalau dihitung belum ada kolektor lukisan “Potret Diri”. Makanya saya sangat perlu jumpa dengan bapak dan wawancara dengan bapak, karena saya membutuhkan data genetik faktor tentang lukisan “Potret Diri”. Terima kasih pak. Salam kami dari Bandung. (Bambang Sapto)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: