Diproduksi Masal, namun Menurun Kualitas Seninya

Melihat Damar Kurung setelah Ditinggal Maestronya, Mbah Masmundari

Damar Kurung, Karya seni mirip lampion asli Gresik itu sekarang telah dijadikan salah satu ikon bagi Kota Santri Gresik. Bagaimana upaya pelestariannya, terutama setelah ditinggal maestronya, Mbah Masmundari?

Adi Tri Pramono, Gresik

Berbentuk kotak dengan warna-warni meriah, damar kurung yang terpasang di taman kota perempatan Sentolang itu membuat kesan tersendiri. Apalagi saat melihat gambar-gambar di empat sisinya, Damar Kurung seakan kontras dengan hiasan taman yang lain. Karya seni ini sekarang sudah semakin luas dikenal. Sebab, selain menghiasi taman kota, Damar Kurung mulai diproduksi masal sebagai suvenir khas Gresik. Sayang, upaya pelestarian ini ternyata masih belum tuntas terutama jika dibandingkan dengan makna Damar Kurung yang sesungguhnya. Mengapa? Sebab, komersialisasi Damar Kurung justru berujung pada minimnya makna seni yang seharusnya ada dalam tiap bingkai lukisan Damar Kurung.

Almarhum Mbah Masmundari adalah pelukis Damar Kurung yang hingga di usianya yang ke-115 masih tetap setia mempertahankan karya seni yang sudah ada sejak zaman Sunan Giri tersebut. Melalui tangan dan imajinasinya, Damar Kurung masih dikenal hingga sekarang. Di masa hidupnya, Mbah Masmundari adalah satu-satunya seniman Damar Kurung yang tidak lagi membutuhkan pengakuan akan kesenimanannya. “Saya berani menjamin, sekarang tidak ada lagi seniman damar kurung sekaliber Mbah Masmundari. Dia seperti memiliki ruh damar kurung,” jelas Syaikhu Busiri, mantan manajer Mbah Masmundari, kepada Jawa Pos kemarin sore (17/10). Saat melukis, kenang Syaikhu, Mbah Masmundari memiliki sense tersendiri dalam menyimpulkan suasana yang akan digambarnya. Berbagai aktivitas maupun suasana alam pernah digambar Mbah Masmundari. Mulai suasana Ramadan hingga hiruk-pikuk Pabrik Petrokimia Gresik pernah dituangkan dalam Damar Kurung.

“Sensibilitas dalam menyimbolkan suasana itulah yang tidak dimiliki seniman lain,” tukas Syaikhu. Mbah Masmundari biasanya menuangkan lukisannya dalam 3-4 segmen cerita yang terangkum dalam satu sisi Damar Kurung.

Membuat Damar Kurung, menurut Syaikhu, tidaklah semudah yang dibayangkan. Sebab, lukisan damar kurung selalu memiliki makna yang bisa diceritakan bila membacanya benar. “Lukisannya sendiri juga tidak sembarangan,” imbuh Syaikhu.

Dia menjelaskan, dulu lukisan Damar Kurung adalah sebuah relief seperti yang terdapat di candi. Selayaknya di candi, relief ini sebenarnya menggambarkan aktivitas tertentu. Seperti aktivitas Ramadan, misalnya. Lukisan dalam Damar Kurung pasti akan menggambarkan aktivitas tarawih, tadarus, hingga suasana Lebaran. “Aktivitas tersebut digambarkan secara runtut,” jelas Syaikhu yang ditemui usai mengajar ini.

Karena runtut, cara membacanya juga tidak sembarangan. Secara umum, ada dua macam Damar Kurung, yakni sakral yang biasanya digunakan dalam upacara, serta Damar Kurung Profan (populis) yang digunakan dalam perayaan tertentu. “Yang sakral cara membacanya dari bawah ke atas kemudian diputar ke kanan, sedangkan yang profan membacanya dari atas ke bawah dan tetap diputar ke kanan,” jelasnya.

Pakem itulah yang saat ini tidak ada dalam damar kurung sepeninggal Mbah Masmundari. Karena itulah, meskipun berhasil dilestarikan, Syaikhu masih merasa geregetan. “Saya mengharap, ada upaya bersama untuk tetap mempertimbangkan makna dari Damar Kurung itu,” pinta Syaikhu.

Dari keluarga Mbah Masmundari, upaya pelestarian Damar Kurung tetap diteruskan dengan memproduksi masal. Hanya, menurut Syaikhu, itu masih belum tuntas. “Setelah ditinggal Mbah Masmundari, keluarga lebih melihat aspek produksi masalnya,” jelas Syaikhu.

Selain keluarga, yang getol dalam melestarikan Damar Kurung adalah pemkab. “Memang, kami menjadikan Damar Kurung sebagai salah satu ikon Gresik,” ujar Sadiman, salah satu staf humas Pemkab Gresik.

Sehingga tak jarang, Damar Kurung kini banyak dijumpai di sudut kota maupun di perkampungan warga. Salah satunya, yang terdapat di Kampung Sindojoyo, Kroman Gresik. Damar kurung di Sindujoyo ini dihiasai dengan gambar bernuansa Lebaran. Antara lain, beberapa orang yang sedang menggunakan baju koko maupun gambar orang yang sedang menabuh bedug.

Damar Kurung di Sindujoyo ini adalah versi yang sekarang. Sedangkan yang asli buatan Mbah Masmundari kebanyakan dimiliki oleh para kolektor. (end)

Jawa Pos, Sabtu, 18 Oktober 2008

One Response

  1. damar kurung sekang masih ada,dan masih akan ada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: