Tika Anjarsari, Penari Seblang Tersingkat dalam Sejarah

Bangga, Meski Hanya Tampil Menari Satu Hari

Terpilih menjadi penari seblang, merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh keturunan penari Seblang di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Tika Anjarsari merupakan satu-satunya penari seblang tersingkat dalam sejarah. Dia hanya tampil sehari dari jatah tujuh hari, seperti yang dilakukan para penari Seblang sejak tahun 1930.

ALDILA AFRIKARTIKA, Banyuwangi

———–

Suasana Desa Olehsari, sedikit berbeda pada musim lebaran kali ini. Sudah menjadi tradisi tahunan, mereka menggelar ritual adat Seblang selama tujuh hari berturut-turut.

Masyarakat desa tersebut menyambut dengan antusias upacara bersih desa itu. Mereka bersuka cita dan menyiapkan segala perlengkapan upacara tersebut. Mulai pentas, ubo rampe (perkakas), hingga menyusun kepanitiaan.

Prosesi pemilihan penari pun dilakukan dengan sakral. Sebab, penari yang terpilih harus menari selama tujuh hari berturut-turut. Selain itu, penarinya harus punya garis keturunan penari-penari seblang sebelumnya.

Seluruh tetua adat, pawang, hingga tata rias khusus penari Mbah Asiyah juga hadir dalam acara pemanggilan roh yang dilakukan hari Kamis malam Jumat dan Minggu malam Senin sebelum lebaran.

Setelah dilakukan ritual, Tika Anjarsari, 15, terpilih menjadi penari Seblang tahun 2008. Dia menggantikan Wahyuni, penari Sebalng yang terpilih tahun sebelumnya.

Orang tua Tika, pasangan Sugito dan Surati langsung diberitahu oleh tetua adat desa. Dikatakan, bahwa anak mereka terpilih menjadi penari seblang tahun ini. ”Waktu itu, yang ada dalam benak pikiran saya hanya pasrah,” kata Sugito.

Karena, Sugito sudah merelakan dan mengikhlaskan sejak Tika lahir di dunia. Apabila besar kelak, pasti akan menjadi penari Seblang selama tujuh hari berturut-turut. Ini karena ibu Sugito, Mbah Tuya merupakan turunan penari Seblang.

Masyarakat setempat mempercayai, apabila terpilih menjadi penari Sebalng harus bersedia. Jika mereka menolak menjadi penari Seblang, sesuatu yang buruk akan menimpanya. ”Kata orang tua di sini, kalau tidak mau menari, bisa jadi gila,” ujar Sugito didampingi anak semata wayangnya, Tika.

Hari sakral pun tiba. Tika bersiap menjadi penari Seblang. Omprog (mahkota), bedak, bunga tujuh rupa sudah disiapkan oleh Mbah Asiyah. Selain itu, gelang kaki, sewek, kemben, gelang tangan, juga sudah dipersiapkan.

Tepat pukul 12.00, acara selamatan dimulai. Seluruh warga sudah tumplek blek di pentas seblang Olehsari. Warga rela berjubel demi sekadar melihat penari Seblang. Warga juga berebut membeli bunga yang dipercaya bisa menyembuhkan penyakit dan membuat enteng jodoh itu.

Tika yang saat itu sudah siap, diarak keliling kampung hingga memasuki pentas. Ribuan mata memandang ke arahnya. Aroma dupa yang menyengat, tercium di seluruh penjuru pentas. Gending seblang-seblang juga sudah terdengar nyaring. Cring…cring…suara gemerincing gelang kaki Tika, menambah suasana semakin sakral. Gending seblang-seblang sebagai gending pembuka terus dinyanyikan. Mbah Saleh selaku pawang menggunakan busana khas hitam komat kamit membaca mantra pemanggilan roh. Tika yang saat itu memegang nampan anyaman bambu langsung memejamkan matanya. Ini pertanda bahwa roh halus sudah merasuki dirinya. Plak… Seketika itu, nampan terjatuh dan Tika langsung menari dengan lincah dengan kondisi mata terpejam dan tak sadarkan diri.

Hari pertama ritual Seblang berlangsung lancar tanpa ada hambatan. Memasuki hari kedua, sesuatu yang aneh terjadi pada ritual tersebut. Kondisi ini membuat seluruh warga desa bingung. Tika tidak menari dan roh yang dipanggil tak kunjung datang. Ini berlangsung hingga tiga hari berturut-turut. Pawang dan tetua desa sangat terpukul atas kejadian itu.

Menurut mereka, ritual itu ditunggangi parpol tertentu. Tak ayal, panitia langsung menggelar rapat terbatas. Akhirnya, pentas seblang pindah lokasi. Tika sebagai penari juga langsung diganti oleh penari baru. Penari pengganti itu bernama Saudah, yang tak lain adalah saudara sepupu Tika.

Kondisi ini juga sempat membuat Tika terlihat murung. Wajahnya tak lagi tampak ceria seperti sebelumnya. Dia sedih dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Tepat didepan pintu rumah Tika, terdapat beras hitam yang ada di daun. ”Maaf Tika masih tidak bisa diganggu,” kata Surati, ibu Tika waktu itu.

Memasuki hari keempat, pentas Seblang dimulai lagi. Warga akhirnya bisa lega setelah Saudah juga bisa menari dengan lincah. Begitu pentas Seblang berlanjut, Tika akhirnya bisa kembali tersenyum.

Tika pun kembali terbuka. Dia langsung mau berbagi pengalaman dengan wartawan koran ini. Dia mengisahkan apa yang dialaminya saat menjadi Seblang menari tanpa sadar selama beberapa jam. Selama kerasukan, dia seolah diajak berjalan kaki dengan orang tidak dikenal. Perjalanannya jauh, keluar masuk hutan rimba. Dalam alam tak sadar itu, Tika seolah juga melintasi gunung-gunung dan menemui binatang seperti kuda. ”Saya jalan tapi tidak sampai-sampai,” tutur gadis kelahiran 3 Juni 1993 itu.

Tika mengaku bangga ketika dirinya terpilih menjadi penari Seblang. Saat terpilih, Tika hanya pasrah dan langsung menyetujuinya. ”Saya senang dan bangga,” katanya.

Ketika gagal menari, Tika mengaku tidak tahu penyebabnya. Yang dirasakan waktu itu, dadanya sakit dan tidak bisa tidur semalam suntuk. ”Keesokan harinya, saya langsung mandi dan rasa sakit itu langsung hilang,” jelasnya.

Tika mengaku pasrah ketika tidak menari lagi. ”Semuanya sudah saya serahkan sama Allah dan saat ini saya merasa lebih tenang dari hari sebelumnya. Bahkan saya bisa melihat Saudah menari meski harus didampingi ayah,” katanya.

Sugito mengaku, selama tujuh hari tujuh malam Tika harus dijaga ekstra ketat. Untuk bertemu orang yang mencintainya atau pacarnya, Tika dilarang. ”Kata orang tua, tidak boleh sembarang. Takut terjadi apa-apa. Nanti kalau sudah selesai tujuh hari dan sudah dilungsur, baru boleh ketemu siapa saja. Kalau tidak, malah kualat nanti,” jlentreh Sugito. (bay)

Radar Banyuwangi, Senin, 13 Oktober 2008

One Response

  1. salam kenal browwwwwwww?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: