Kadaruslan, Penggiat Seni di Surabaya

Sertifikat Rumah pun Digadaikan

“Saya lahir Jumat Kliwon tahun 1931 di Surabaya. Kampung Maspati,” kata Kadaruslan. “Ojok takon tanggal yo, aku ora eling (jangan tanya tanggal, saya lupa),” lanjutnya cepat-cepat. Maklum, kata dia, seperti kebanyakan orang zaman dulu, keluarganya tidak memiliki kebiasaan mengingat tanggal lahir.

Meski begitu, di Surabaya nama Kadaruslan cukup diingat. Pria yang akrab disapa Cak Kadar tersebut tidak bisa dipisahkan dari perkembangan seni metropolis. Arek Suroboyo asli itu merupakan salah seorang yang giat melakukan upaya untuk menghidupkan seni. Padahal, dia tidak memiliki latar belakang seni. Dulu, dia justru mengenyam pendidikan guru.

Satu peristiwa yang membuat hatinya tergerak mendedikasikan hidup untuk seni adalah peristiwa pada 1945 ketika berakhirnya masa penjajahan Jepang. Saat itu, terjadi revolusi. Sebagian tentara Jepang yang tertangkap dikumpulkan di sebuah penjara (lokasinya ada di belakang BG Junction). Rakyat diberi kebebasan untuk membalas dendam kepada mereka.

“Saya waktu itu ikut-ikutan ingin balas dendam. Sudah bawa sangkur saya,” kenang pria yang kini menjabat sebagai penasihat Yayasan Seni Surabaya dan ketua umum Pusura itu. “Tetapi ketika tiba di lokasi, dia justru urung. Ngeri lihat orang dibantai. Saya sampai gemeteran,” lanjutnya.

Dari situlah, Cak Kadar mulai berpikir bagaimana cara melembutkan hati manusia. Kejadian yang dilihat olehnya tadi menyadarkan bahwa betapa mereka tidak memiliki kemanusiaan. “Menurut saya, senilah yang bisa menjadi solusi,” tegas anak pertama di antara 11 bersaudara itu. “Seni bisa membuat manusia menikmati keindahan yang sudah diberikan oleh Tuhan,” imbuhnya.

Masa pendidikan Cak Kadar dimulai di VILO (Voor Indonesia Lager Onderwijs), Surabaya. Seperti halnya orang yang hidup pada masa penjajahan, pendidikan yang dilaluinya bisa dikatakan semrawut. “Kalau sekarang kan jelas tingkatan dan waktunya,” ujarnya.

Pada zaman itu, kondisi negara memengaruhi ritme pendidikan. “Kalau tiba-tiba ada perang, ya sekolahnya berhenti,” tuturnya. Ayah tujuh anak tersebut menyelesaikan SMP saat berumur 19 tahun. Setelah itu, dia melanjutkan ke SMA 3 Surabaya dan lulus 1953. Sembari menyelesaikan pendidikan SMA, Cak Kadar mengambil KGB (Kursus Guru B) pada 1951. Dia lalu nyambi mengajar di SD Negeri Hang Ko 2 hingga 1954, kemudian berhenti. “Saya nggak cocok,” jelasnya.

Selepas itu, Cak Kadar bekerja di NV Gaptindo (Gabungan Pemintal Tali Indonesia). Ditugaskan di Jakarta, gajinya lumayan kala itu. Sebesar Rp 400 per bulan. Karena pekerjaannya tidak membutuhkan banyak waktu, Cak Kadar kembali nyambi mengajar di SR Mangga Besar 2. Dia juga sempat kuliah di ekstensi Fakultas Ketataniagaan dan Ketataprajaan Universitas Indonesia. ”Tapi, saya cuma kuliah dari tahun 1956-1958,” ungkapnya.

Pada 1959, Cak Kadar memutuskan pulang ke Surabaya. Selama dua tahun mulai 1964, dia sengaja menganggur. Hingga akhirnya pada 1968, dia menjadi wartawan di harian Berita Yudha Jakarta dengan pos di Surabaya.

Saat itulah, hobi berkesenian Cak Kadar makin menemukan tempat. Dia membentuk Teater Remaja Yudha dan Kelompok Musik Remaja Yudha. Dia juga menjadi pembina Teater Keliling Jakarta mulai 1974. “Fasilitas yang didapat ketika menjadi wartawan saya gunakan untuk keliling hingga pelosok Indonesia untuk mengenalkan teater,” jelas pria yang juga pernah bergabung dengan teater Aksera (kumpulan Akademi Seni Rupa Surabaya) itu.

Pada 1979, Cak Kadar pindah ke Kalimantan. Di sana dia banting setir menjadi pengusaha ternak ayam. Bertemu dengan orang-orang pendatang yang berasal dari Surabaya, Cak Kadar lalu membentuk PKBS (Peguyuban Keluarga Besar Surabaya). “Saya bikin ludruk bersama PKBS,” tuturnya.

Apa yang dilakukan oleh PKBS merangsang pendatang dari daerah lain untuk membentuk peguyuban yang menonjolkan seni daerah masing-masing. ”Kalau 17-an, kami pentas beramai-ramai. Seperti festival,” ungkapnya.

Pada 1992, dia kembali ke Surabaya. Namun, sebuah kekecewaan didapat. Di matanya, kesenian Surabaya tengah mati suri saat itu. Cak Kadar tak tinggal diam. Semangatnya tergugah. Dia lantas berusaha mengumpulkan seniman-seniman koleganya untuk mengadakan sebuah pameran lukisan.

Tak berhenti di situ. Cak Kadar mulai memikirkan diadakannya sebuah festival seni. Maka, tercetuslah Pekan Seni Surabaya 700 pada 1993. Pekan seni tersebut memperingati HUT ke-700 Kota Surabaya. “Itu murni inisiatif pekerja seni. Nggak ada sponsor-sponsoran, ” tuturnya.

Tahun berikutnya, dia membuat hal serupa. Hingga akhirnya Cak Kadar mengadakan Parade Seni W.R. Supratman pada 1995 yang mulai mendapatkan perhatian dari daerah, nasional, hingga internasional.

Pada 1996, bersama sejumlah rekan, dia mendirikan Yayasan Seni Surabaya yang kemudian memutuskan bahwa festival seni dijadikan agenda tahunan. “Lalu, diberi nama Festival Seni Surabaya (FSS),” ucapnya.

Saking semangatnya, tahun itu FSS digeber sebulan penuh. Saat itu pun belum ada sponsor. Setelah selesai gawe, barulah dia sadar bahwa ternyata banyak permasalahan dana yang harus diselesaikan. “Untuk menyelesaikannya, saya sampai menggadaikan sertifikat rumah saya,” kenangnya.

Namun, Cak Kadar tidak kapok. Baginya, kegiatan seni sudah menjadi salah satu nadi kehidupan. “Berkat kegiatan FSS itu, dunia seni Surabaya makin menggeliat,” imbuh suami Soepiyati itu. (jan/ayi)

Jawa Pos,

[ Rabu, 17 September 2008 ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: