Keramik Artistik Tak Berjudul

SURABAYA – Setiap orang memiliki persepsi berbeda akan sebuah karya seni. Karena itu, perupa satu ini memilih tidak memberikan judul pada setiap karya seni yang dipamerkan.

Pribadi Agus Santoso ingin memberikan kebebasan bagi para pengunjung dalam menginterpretasikan sekitar 50 keramik karyanya yang dipamerkan di gedung Sawunggaling, Taman Budaya Jatim, mulai kemarin (12/9). “Saya tidak ingin membelenggu interpretasi pengunjung. Jika diberi judul, mereka akan manut sama judul tersebut,” tuturnya.

Keramik-keramik karya kepala Taman Budaya Jatim tersebut kaya akan bentuk. Meski tanpa nama, Cak Agus -panggilan akrab Pribadi Agus Santoso- mampu menyajikan sejumlah karya dengan bentuk-bentuk yang khas. Hampir setiap karyanya kaya akan lekukan-lekukan yang menghasilkan bentuk-bentuk figuratif artistik. Pengunjung bisa menyaksikan bentuk-bentuk menyerupai asbak dengan aksen berbentuk bibir di atasnya. Ada juga bentuk tubuh wanita bagian dada hingga pinggul.

Keluwesan lekukan tersebut, menurut lulusan Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (sekarang bernama Institut Seni Indonesia/ISI) itu, timbul dengan sendirinya, tanpa direncanakan sebelumnya. “Saya hanya mengikuti lekukan-lekukan tersebut. Ke mana arahnya, ya itu hasilnya. Karena itu, kesannya lebih natural,” jelasnya.

Perlu waktu setahun untuk menciptakan sekaligus mengunpulkan 50 keramik tersebut. Pria kelahiran Surabaya, 28 Maret 1956 itu hanya berkreasi dengan keramik ketika ada waktu senggang di sela-sela pekerjaannya.

Dalam pameran bertajuk Tanah Liat Mata Batinku tersebut, Cak Agus menggunakan dua jenis tanah liat, yaitu tanah liat dari Karang Pilang dan tanah liat dari kawasan Dinoyo, Malang. Penggunaan dua jenis tanah liat tersebut bisa dilihat dari warnanya. Keramik berwarna putih adalah produk Dinoyo, sedangkan keramik berwarna oranye kecokelatan berasal dari Karang Pilang.

Mengenai kualitas, dua jenis tanah liat tersebut memiliki perbedaan. Menurut Cak Agus, kualitas tanah liat Dinoyo lebih bagus dibandingkan dengan tanah Karang Pilang. “Tanah liat Dinoyo tahan panas sehingga tahan dibakar beberapa kali. Tapi, tanah liat Karang Pilang bisa pecah kalau dibakar dalam suhu terlalu panas,” jelasnya.

Untuk menciptakan warna dalam pameran itu, Cak Agus menghadirkan keramik dengan bentuk-bentuk segitiga. Keramik berwarna dari bahan glasir juga dipamerkan. Ada keramik yang berwarna hijau, cokelat, hingga keabu-abuan. Selain itu, dia menciptakan keramik yang terdiri atas pilinan tanah liat yang ditata bertumpuk.

Bagi Cak Agus, pameran keramik itu merupakan ajang berkreasi dengan dengan tanah liat. “Latar belakang pendidikan saya memang banyak bersentuhan dengan tanah liat dan kayu. Tapi, baru kali ini saya bisa mewujudkan keinginan untuk bisa berpameran keramik,” jelasnya. (ken/ayi)

Jawa Pos, [ Sabtu, 13 September 2008 ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: