Pertahankan Kesenian Tradisional

MembutuhkanDukungan Dana dari Berbagai Pihak
Surabaya, Kompas – Paguyuban Seniman/Seniwati Taman Hiburan Rakyat Surabaya tetap mempertahankan kesenian tradisional dalam situasi apa pun. Pasalnya, kesenian tradisional seperti ludruk, ketoprak, maupun wayang orang adalah bagian dari sumber penghidupan, selain kehendak menjaga kelestarian kesenian tersebut.

Koordinator Paguyuban Seniman/Seniwati Taman Hiburan Rakyat Surabaya Sugeng “Rogo” Wiyono, Rabu (10/9), mengatakan, kehendak menjaga dan melestarikan kesenian tradisional, khususnya kesenian ludruk, ketoprak, dan wayang orang agar tetap hidup di THR Surabaya itu bukan saja keinginan seniman dan seniwati tradisional, melainkan pula kehendak Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Periwisata Kota (Disparta) dan Unit Pelaksana Teknis Taman Hiburan Rakyat (UPT THR) Surabaya.

“Tidak munafik, orang memang butuh uang untuk menopang hidupnya, apalagi seniman dan seniwati THR ini juga punya anak yang membutuhkan biaya sekolah dan sebagainya,” kata Sugeng.

Agenda pentas

Dikatakan, awal tahun 2007, pihak Disparta Surabaya bersama UPT Taman Hiburan Rakyat Surabaya memberikan subsidi kepada komunitas seniman dan seniwati THR Surabaya agar tetap menghidupkan tempat hiburan rakyat ini dengan agenda kegiatan pentas kesenian tradisional ludruk, ketoprak, dan wayang orang.

“Kami seniman dan seniwati menyambut dengan baik dan membentuk komunitas ludruk Gatra Budaya, ketoprak Setyo Budoyo, dan wayang orang Suryo Budoyo, walaupun anggotanya adalah seniman dan seniwati lama yang pernah bergabung dengan kesenian ludruk, ketoprak, ataupun wayang yang dahulu sempat mengisi dan meramaikan THR,” tuturnya.

Ia mengatakan, komunitas ludruk Gatra Budaya, komunitas ketoprak Setyo Budoyo, dan komunitas wayang orang Suryo Budoyo bentukan baru itu, akhirnya mampu bertahan hingga sekarang ini dengan dukungan subsidi dari Disparta dan UPT THR Surabaya.

“Pihak Disparta melalui UPT THR Surabaya memberikan kami subsidi sebesar Rp 3 juta, tapi subsudi sebesar itu kami pakai untuk dua kali pementasan sehingga kami mampu memperpanjang umur pementasan setiap Jumat malam sampai dua tahun. Walaupun sebenarnya uang subsidi Rp 3 juta itu untuk sekali pementasan,” kata Sugeng.

Sugeng yang juga pimpinan komunitas ludruk Gatra Budaya mengaku gembira karena anggota Paguyuban Seniman/Seniwati THR Surabaya bersepakat untuk memanfaatkan uang subsidi sebesar Rp 1,5 juta setiap kali pementasan untuk honor pemain.

Bantuan parpol

Diungkapkan, dalam situasi politik negeri ini yang mulai memanas, partai politik pun mulai melirik komunitas seniman THR Surabaya. Pasalnya, melalui kesenian tradisional tersebut, eksistensi parpol kerap kali diperhitungkan di kalangan seniman dan seniwati tradisional.

“Sudah ada parpol yang mendekati kami dan berjanji akan membantu kami, tapi semuanya itu kami serahkan kepada Payuguyan Seniman/Seniwati THR Surabaya,” ujarnya.

Sugeng mengatakan, pihaknya tidak menampik bantuan dari partai politik dan bersedia bekerja sama, namun yang terpenting adalah kepedulian dari pihak parpol untuk bersama-sama menghidupkan kesenian tradisional.

“Keberadaan kami yang sudah eksis ini memang membutuhkan dukungan dana dari pihak lain, walaupun kami sudah dapat subsidi dari Pemerintah Kota Surabaya. Kami sangat membutuhkan bapak asuh yang peduli kepada seniman dan seniwati tradisional,” tuturnya. (TIF)

Kompas, Kamis, 11 September 2008 | 16:13 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: