Kunir dan Keluak pun Jadi Kaligrafi

SURABAYA – Seekor burung garuda mencengkeram puncak Tugu Monas. Tepat di bawah tugu, gedung-gedung pemerintahan tenggelam akibat diterjang air bah. Pada saat bersamaan, di langit terdapat tulisan Arab berbunyi Astagfirullah. Itu salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran lukisan kaligrafi bertajuk Firman-Mu Sumber Keteduhan Hati di Galeri Surabaya kemarin (5/9).

Pameran bersama tersebut memajang 25 lukisan karya enam pelukis kaligrafi Jawa Timur. Mereka adalah Budi Sulaiman, Bambang Tri E.S., Salim N.D., Zaid Jubir, M. Djuhadi Djauhar, dan A. Rachman. Meski sama-sama menekuni seni lukis kaligrafi, mereka memperlihatkan gaya masing-masing dalam mempresentasikan ide. Sebagian pelukis juga memilih media “tidak biasa” untuk karya mereka.

M. Djuhadi Djauhar, misalnya. Pelukis asal Kediri itu menggunakan media rempah-rempah (kunir, keluak) dan kapur sebagai pengganti cat. Guru seni rupa itu juga memanfaatkan jelaga, kuning telur, dan arang dalam lukisannya. Kadang dia juga mencampurkan bunga kesumba sebagai tambahan.

Benda-benda tersebut bisa menghasilkan warna mirip cat minyak. “Misalnya, kunir untuk warna kuning dan keluak untuk warna cokelat tua,” jelas pria 60 tahun itu.

Ditanya kenapa menggunakan benda-benda pengganti cat tersebut, pelukis kelahiran 31 Oktober 1948 itu menyebut dua alasan. Salah satunya, itu cara mencari identitas sebagai pelukis. “Yang kedua, ini salah satu upaya memanfaatkan kekayaan alam Indonesia,” jelasnya.

Tak seperti Djuhadi yang berkreasi dengan rempah-rempah, A. Rachman memilih memadukan akrilik, lem tembok, dan pasir sebagai media lukis. Mengusung jalur kontemporer, pelukis asli Surabaya tersebut menciptakan lukisan kaligrafi dengan goresan-goresan spontan. Itu, misalnya, terlihat pada karyanya yang bertajuk Demi Masa. Dari jauh, lukisan kaligrafi bertulisan Wal Ashr (demi masa) itu tampak seperti lukisan cat akrilik biasa. Namun, bila dilihat dari dekat, akan tampak sekumpulan pasir yang menghiasi beberapa huruf Arab itu.

Pameran tersebut juga menampilkan kaligrafi timbul karya Bambang Tri E.S. Memanfaatkan bidang dan garis, seniman asli Sidoarjo itu memakai geiso (semacam pasta) dipadu akrilik untuk menuangkan ide.

Pameran lukisan yang dijadwalkan berlangsung hingga 13 September itu, menurut Djuhadi, merupakan salah satu upaya menaikkan kembali pamor lukisan kaligrafi. “Pameran bersama ini diharapkan membuka mata masyarakat bahwa lukisan kaligrafi memiliki muatan sejajar dengan karya seni rupa lain,” jelasnya. (ken/soe)

Jawa Pos, Selasa, 09 September 2008 ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: