Mengenal Pak Ketut, Pelukis yang Juga Dai asal Pulau Dewata

Selalu Bagi-Bagi Bawang Putih dan Sayur

Banyak cara untuk berdakwah. Salah satunya adalah dengan merangkai seni sebagai kekuatan menyampaikan pesan agama. Seperti yang dilakukan H.M.I.K. Ketut Sugama FGh SH atau yang akrab dipanggil Pak Ketut. Seperti apa?

KUN WAZIS, JEMBER

——————————————————

SORE menjelang petang, kabut tipis menyaput kawasan Kebonsari Jember. Suara teriakan bocah terdengar samar-samar dari dalam Padepokan Pelukis Cilik Pak Ketut. Setiap hari, anak-anak itu berlatih melukis dari kawasan Jl Letjen Soeprapto VI itu.

Di deretan dinding bangunan berarsitektur seni, lukisan Pak Ketut masih banyak terpampang. Goresan-goresan lukisan pallet melekat kuat menunjukkan sang pelukisnya sudah punya nama, dikenal banyak pecinta, dan penikmat seni.

Melukis sudah menjadi bagian hidup Pak Ketut. Jauh sebelum masuk Islam, Pak Ketut telah merintis nama besar sebagai pelukis cilik. Dan sampai sekarang Pak Ketut tetaplah menjadi pelukis, di samping berkonsetrasi menjadi dai. Baginya, melukis dan berdakwah adalah dua sisi keping mata uang yang memiliki makna spiritual.

Hanya saja, sebagai pelukis kawakan, Pak Ketut tak ingin ilmunya dinikmati sendiri. Maka, para penikmat lukisnya pun banyak yang meniru gaya dan aliran Pak Ketut yang realis itu. Bahkan, sampai sekarang masih banyak yang mengincar lukisan Pak Ketut. “Tapi saya menjadikan lukisan ini sebagai amal dakwah saya,” ujarnya.

Bagi Pak Ketut, dari sanggar itulah sebuah gerakan dakwah dimulai. Berangkat dari seorang mualaf yang mengikrarkan diri bersyahadat pada 1996, pria kelahiran Bali itu muncul sebagai sosok baru yang khas dalam dunia dakwah.

Pakaian yang serba putih dengan sorban dilipat erat, adalah salah satu ciri khasnya. Juga Kijang kotak “butut” warna hijau tua yang selalu menemaninya. Dakwahnya tidak hanya dari gedung birokrat, musala desa, namun hingga perhelatan pengajian di desa-desa pun disentuh oleh Pak Ketut.

Selain berdakwah dari tempat di luar lingkungan rumahnya, Pak Ketut juga berdakwah melalui lantai II tempat tinggalnya. Memasang sound system berukuran cukup keras, setiap pagi mulai 05.15 – 06.00, Pak Ketut berceramah dengan beragam tema setiap harinya. Mulai dari masalah ibadah hingga persoalan ekonomi dan sosial.

Ketut pun menyebut ritual dakwahnya ini sebagai “Bisnis Ilahiyah”, sebuah profesi baru yang kini terus digelutinya. “Berbisnis dengan Allah bukanlah bisnis untung rugi seperti perniagaan di dunia. Tapi, “bisnis” dengan Sang Khaliq kompensasinya jauh berlebih,” katanya. “Allah selalu melipatgandakan apa yang dilakukan oleh manusia itu jika mereka yakin dan melaksanakan perintahNya,” tambahnya.

Karena “bisnis” itu sudah dijadikan jalan hidup hingga akhir hayat, maka dakwah kecil-kecilan yang dirintisnya, menjadi embrio besar. Paling tidak, rata-rata kurang lebih 40 kali dakwah setip bulannya, termasuk kuliah subuh. Bahkan, dalam momentum penting, Pak Ketut bisa menembus 60-70 titik di sejumlah tempat.

Salah satu keunikan dakwah Pak Ketut adalah selalu menyiapkan bawang putih dan sayur sebagai bonus bagi warga yang mengikuti pengajiannya. “Sedekah itu akan mendatangkan berkah. Umat ini harus yakin bahwa sedekah yang sedikit itu akan mendatangkan imbalan yang banyak,” ujarnya.

Saking yakinnya dengan perintah Allah, Ketut seperti tidak pernah berpikir dari mana biaya dakwah itu mengalir. Citra sebagai seorang seniman lukis yang dikenal secara luas, baik di dalam maupun di luar negeri, ternyata menjadi kekuatan dan pendukung dana Pak Ketut. Dari melukislah, perjalanan dakwah itu dimulai.

Pak Ketut mengakui, penguasaan ilmu agama itu diperoleh dari membaca buku, alam, dan pengalaman. Tiga hal ini menjadikan dimensi keilmuannya terasah. Pak Ketut selalu ingat dengan salah satu hadits Nabi yang memberikan paparan jelas bagaimana seseorang harus meraih ilmu yang mengesankan.

“Bila kamu ingin pintar tanpa seorang pun menjadi gurumu, tapi Allah menjadi gurumu. Bila kamu ingin tahu tanpa seorang yang memberitahumu, tapi Allah memberitahumu, maka berzuhudlah,” demikian bait hadits yang dijadikan landasan oleh sosok Pak Ketut dalam mengarungi pengembaraan hidup di dunia fana ini.

Usai berhaji, nama Pak Ketut pun ikut “direinkarnasi” agar semangat spiritual selalu melekat dalam dirinya. Dia tidak ingin riya (pamer diri), tapi ingin namanya diingat sebagai doa. Nama Ketut pun berganti Haji Muhammad Imam Karimullah Ketut Sugama Fathulbalil Ghuraba (FGh).

Zuhud, jelas Pak Ketut, adalah sikap hidup yang menjadikan kebahagiaan tergantung pada apa yang dimilikinya dan materi. Tapi, seorang zahid (orang yang berpola hidup zuhud, Red) adalah orang yang berbahagia jika kebutuhan spiritualnya dipenuhi sesuai dengan kehendak Allah.

Untuk itu, dalam prinsipnya, Pak Ketut ingin menjadi pelajar seumur hidupnya. Maka, ketika mendengarkan orang berbicara maupun sedang berbicara di depan jemaah, maka dia merasakan dalam keadaan belajar, dan belajar itu telah menjadi bagian dari hidup dan kehidupannya.

“Sayang, banyak di antara manusia yang menyakiti alam, merusaknya, dan malah tidak melindunginya. Sehingga Allah menunjukkan kekuasaan dengan beragam bencana dan musibah yang menimpa manusia,” ujar pengasuh Ponpes Terbuka Telaga Zam-zam ini.

Mestinya, papar dia, manusia menyadari, alam yang diciptakan Allah telah memberikan banyak rezeki yang turun deras tiada henti. Sayang, tidak sedikit yang tidak berlapang dada terhadap pemberian Allah itu.

“Kalau berpikir demikian, maka manusia tidak merasa kekurangan ataupun takut, kecewa akan kemiskinan. Apalagi, yakin bahwa Allah akan melihat apa yang kita butuhkan. Kalau sudah demikian, maka kita adalah salah satu seseorang yang mengenal Allah lebih dalam,” ujarnya. (*)

Radar Jember, Sabtu, 06 September 2008

One Response

  1. Saya seorang pengrajin kaligrafi terbuat dari jarum pentul dan dirangkai dengan benang emas, adakah tempat untuk memamerkan karya saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: