PAMERAN BERSAMA: Kaligrafi Tidak Akan Pernah Mati

Surabaya – Surabaya Post, Dunia seni lukis, terutama kaligrafi di Jawa Timur (Jatim), masih terasa terpinggirkan. Tingkat apresiasi dan juga termasuk pamerannya masih sangat jarang terjadi. Apakah itu di galeri alaternatif, galeri komersial dan di hotel berbintang. Namun keberadaan lukisan kaligrafi tidak pernah mati.
Begitu juga kaitannya dengan minat kolektor atau pasar yang kini terus berkembang pesat. Masih sangat jauh jika dibandingkan dengan lukisan umumnya, terutama lukisan kontemporer yang kini sangat diburu pasar.

”Lukisan kaligrafi belum ada apa-apanya. Masih sebagian kecil saja jika dibandingkan dengan kondisi lukisan kontemporer atau lukisan lainnya,” kata seorang pelukis yang cukup konsisten di jalur kaligrafi, B Sulaiman di Balai Pemuda Surabaya, Rabu (3/9).

Tingkat apresisiasinya saja, kata pria kelahiran Jombang 1963 ini, juga sangat jarang. Kalau dilihat, di Surabaya saja, pameran lukisan umum, baik yang digelar di Galeri Surabaya (GS) dan galeri besar lainnya, hampir setiap minggu ada. Bahkan, dalam satu minggu bisa dua, tiga dan empat tempat.

Melihat kondisi seperti ini, sebagai seniman, dia merasa ada kegelisahan tersendiri. Bisa juga dikatakan ingin ”menandingi”, baik apresiasi maupun pasar, seperti karya umumnya. Namun kondisi belum memungkinkan.

”Betapa tidak, tingkat apresiasi atau pameran seni lukis kaligrafi juga sangat jarang. Dalam setahun paling satu kali. Itupun, biasanya ada kaiatnnya hari besar Islam, kegiatan partai berbasis Islam dan berkaitan dengan suasana Ramadan, seperti ini,” kata Sulaiman.

Pameran dalam suasana Ramadan, tambah pria yang aktif berpameran sejak 1992 ini, sepertinya sangat tepat. Karya yang ditampilkan diharapkan bisa bertambah menyejukan masyarakat yang berpuasa. Namun dalam suasana ini, biasanya orang jarang keluar, tidak seperti hari-hari biasanya.

Tentang pasar lukisan kaligrafi, diakui oleh pria yang pernah pameran tunggal di Safira House Jakarta (1992) dan di Universitas Islam As Syafi’iah Jakarta (1997) ini, juga masih jauh jika dibandingkan dengan lukisan umum. Termasuk yang kini diminati pasar, yaitu lukisan Nyoman Massriadi, Agus Suwage dan ”duplikat” lukisan Yue Minjun.

Lukisan yang lagi diperebutkan itu, jelas dia, harganya sudah bukan jutaan rupiah tapi sudah puluhan hingga ratusan juta rupaih. ”Kabaranya sampai menyentuh M (miliar) rupiah,” jelas dia.

Sementara lukisan kaligrafi, kata Sulaiman yang didampingi pelukis kaligrafi lainnya, Zaid Zuber, wilayah pasarnya masih tradisonal. Jalinannya masih sistem gethok tular (dari mulut ke mulut) dan kolektornya masih pribadi, dari rumah ke rumah dan belum menjadi pasar seperti lukisan lainnya.

Meski begitu, Sulaiman dan Zaid masih merasa optimistis bahwa lukisan kaligrafi tidak akan pernah mati. Pasarnya, meski tidak banyak, ada saja. ”Tahunya, dari mulut ke mulut, karena memang apresiasi lukisan kaligrafi jarang terjadi,” kata dia.

Melihat kondisi seperti itu, Sulaiman bersama dengan pelukis sealiran, bakal berpameran bersama di GS – Kompleks Balai Pemuda mulai Jumat (5/9) besok. Pelukis lain yang tampil, di antaranya Bambang Tri E.S, Salim ND, M Djuhadi Djohar dan A. Rachman. Temanya ”FrimanMu Sumber Keteduhan Hati”.

Pembukaan dijadwalkan pukul 16.00 dan dilanjutkan dengan berbuka atau takjil bersama. Sebagai penggunting pita atau penggoresan pertama di kanvas kosong adalah Pimpinan Pondok Pesantren An Nur Gresik, Nyai Nur Hasanah.(gim)

SP/Gimo Hadiwibowo
Surabaya Post – | Kamis 04/09/2008 – 10:35:24 |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: