Maestro yang Suka Mbemo

NAMA besar Lim Keng sebagai pelukis sketsa papan atas ternyata luruh ketika dia berkutat dalam kehidupan sehari-harinya. Ya, sebagai pelukis besar, Lim Keng menjalani hidup secara bersahaja. Lim Keng sehari-hari kerap menghabiskan waktu di tokonya sambil membaca koran. Toko merangkap tempat tinggal di kawasan Undaan Kulon itu juga tak mewah, khas bangunan lawas yang sudah berumur di atas 20 tahun.

Kesederhanaan Lim Keng juga terasa dari kebiasaannya mbemo alias naik bemo (angkutan kota). “Saya nggak punya kendaraan,” ujarnya. Karena itu, bemo menjadi pilihan transportasi saat dia hunting objek lukis. Sambil membawa peralatan gambar, tinta, kertas yang digulung, hingga tripleks kecil untuk alas, Lim Keng kerap berkeliling kota mencari objek. Jika ketemu objek yang sreg, dia akan turun.

Sebelum melukis, Lim Keng berusaha merekam seluruh aktivitas objek yang dilihatnya. Setelah itu, dia akan mencari tempat tersembunyi untuk melukis. Karena selalu menggambar on the spot, dia tak punya studio di rumahnya. “Saya lebih suka keluar. Cari objek, lalu melukis langsung,” ujarnya.

Sebagai pelukis yang punya nama, Lim Keng kerap “dilamar” sebagai guru. Dia mengatakan pernah menerima lima murid. Namun, semuanya tak bertahan lama. Para murid itu kesulitan terhadap teknik melukis sketsa. Selain itu, ujar Lim Keng, para murid tersebut tak bisa diajak susah. “Sering saya ajak keliling pasar, terus melukis langsung di sana. Mereka sering mengeluh panaslah, kenapa nggak di studio saja lah, dan lain-lain,” tuturnya.

Sejak saat itu, Lim Keng tidak pernah lagi menerima murid. “Anak-anak muda sekarang nggak mau diajak susah,” ujarnya.

Meski hidup sederhana, di usianya yang sudah di kisaran tujuh puluhan, gerak-gerik Lim Keng masih lincah. Dia masih doyan keluyuran sendirian ke luar kota. Lim Keng sering menyempatkan berjalan-jalan keliling daerah tempat tinggalnya dua kali seminggu.

Dalam usianya sekarang, Lim mengaku tidak pernah terserang penyakit berat. “Paling-paling cuma mag,” ucapnya.

Menurut Lim, kebugaran tubuhnya itu bersumber dari kehidupannya sebagai seorang vegetarian. Sejak 30 tahun lalu, Lim tidak makan daging. “Saya ini kebiasaan makan yang nggak enak-enak. Makannya tahu, tempe, dan sayur,” ucapnya.(ken/dos)

Jawa Pos, [ Rabu, 03 September 2008 ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: