Lim Keng, Pelukis yang Hidup di Dunia Hitam-Putih

Nikmati Hidup dalam Kesederhanaan

Hitam-putih memang abadi. Tampaknya, itu pula yang dirasakan Lim Keng, pelukis senior yang menekuni jalur sketsa, jalur hitam-putih. Sebagai seniman dengan nama besar, dia memilih menjalani hidup dengan sederhana. Sesederhana hitam-putih sketsa yang dia geluti sekian lama.

LIM KENG, pelukis yang namanya sering disebut banyak orang sejak dekade 1970-an, kini sudah berumur 73 tahun. Menapaki hidup selama tujuh dekade, dia belum mau mengakhiri kiprahnya. Meski terbilang mulai jarang menghasilkan karya, gejolak berkesenian pria kelahiran 3 September 1934 itu memang belum pudar.

Di tengah-tengah kesibukan mengelola bisnis toko kelontong, Lim masih menorehkan kuas. “Biasanya, waktu toko tutup, saya cari objek lukisan,” ujarnya. Hal yang kerap dituju adalah suasana perkotaan, jalan-jalan, pasar, hingga aktivitas manusia. Dalam memburu objek, dia bisa sampai ke luar kota. “Tapi, kalau malas, paling ke pasar-pasar,” tuturnya.

Namun, Lim mengakui, meski hasrat berkarya tetap besar, dirinya sudah mulai kesulitan mencari objek yang sesuai. Menurut kakek tiga cucu itu, jika seorang seniman sudah mencapai tingkat tinggi, objek lukisan kian sulit ditemukan. “Kadang-kadang saya sudah keliling, tapi tidak menghasilkan lukisan sama sekali,” ungkap Lim yang mengaku selama setahun ini hanya bisa menghasilkan dua lukisan itu.

Meski begitu, hal tersebut belum memupus nama besar Lim di bidang olah seni sketsa. Banyak pengamat bilang lukisan sketsa Lim dikenal pada kekuatan dan kedalaman garis. Selain itu, pria yang tinggal di kawasan Undaan Kulon tersebut terkenal akan spontanitas maupun kecepatannya menghasilkan sebuah lukisan sketsa.

Untuk mengasah kemampuan melukis sketsa, Lim menghabiskan sekitar 30 tahun dalam hidupnya. Bukan waktu yang singkat. Dalam durasi waktu tersebut, dia melalui masa-masa sulit demi mewujudkan keinginan menjadi pelukis sketsa andal.

Bakat berkesenian sudah tampak pada Lim kecil. Kegemarannya menggambar tokoh-tokoh kartun di kertas buram terbawa hingga remaja. Ketika menempuh pendidikan di bangku SMA sekitar akhir 1950, kecintaan pada menggambar makin tak terbendung.

Belum genap dua tahun bersekolah, Lim memilih keluar dari sekolah. Dia berguru pada dua pelukis andal, Nurdin B.S. dan Iwa Kustiwa. Awal mula belajar, dia menekuni teknik drawing, melukis dengan pensil. Berikutnya, dia mulai merambah lukisan cat air dan cat minyak.

Setelah itu, pada 1962 Lim mendaftar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Jogjakarta (kini Institut Seni Indonesia). Di situ, dia hanya menghabiskan dua semester. Selebihnya, dia berkeliling ke sejumlah daerah bersama teman-temannya. Bali adalah tempat favorit Lim. Di Pulau Dewata, dia menghasilkan banyak karya. Karya-karyanya itu dijual di art shop setempat. “Kalau beruntung ya ada yang beli, lumayan buat biaya hidup,” kenangnya.

Puas berkarya sambil menjelajah berbagai daerah, Lim sudah menguasai teknik melukis dengan menggunakan tiga media, yakni cat air, cat minyak, dan pensil. Namun, pria kelahiran Tanggulangin, Sidoarjo, tersebut belum puas. Pada 1972 dia mulai menjajal sketsa. Di situ, dia mengaku mengalami kesulitan luar biasa. “Dari tiga media yang saya kuasai, melukis sketsa menggunakan tinta bak (tinta hitam dari Tiongkok, Red) justru yang paling sulit. Kalau sekali gores sudah salah, ya nggak bisa diulangi. Harus gambar lagi mulai awal,” tuturnya.

Tapi, semangat Lim untuk menaklukkan teknik melukis sketsa masih menggebu. Dia akhirnya berhasil. Keseriusan menekuni lukisan sketsa membuatnya meninggalkan cat minyak dan cat air. Akhir 1970, dia memberanikan diri ikut berpameran bersama rekan-rekannya.

Karya-karya Lim mulai dikenal di kalangan para seniman Surabaya. Lukisannya dicari banyak kolektor.

Berbagai pameran bersama pernah dia ikuti. Namun, Lim selalu ogah berpameran tunggal. Alasannya, pameran tunggal kerap dihubungkan dengan segala sesuatu yang wah. “Saya nggak suka yang gitu-gitu (pameran tunggal, Red) karena sepertinya hura-hura,” ujarnya polos.

Setelah berkali-kali menolak, pada 2001 ada yang berhasil membujuk Lim. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari kegigihan pihak galeri Candhik Ayu itu. “Gimana mau nolak, orangnya datang terus tiap hari, terus telepon. Akhirnya, saya iyakan,” jelasnya.

Pameran bertajuk Garis dalam Hidup Saya tersebut memajang seratus karya-karya Lim yang dihasilkan selama menekuni jalur sketsa.

Pada 2004 Lim kembali diminta berpameran tunggal oleh pusat kebudayaan Prancis di Surabaya, CCCL. Dalam pameran tersebut, dia memajang karya sketsa bergambar potret dirinya. “Saya gambar pakai cermin,” tutur pelukis yang bisa menjual karyanya paling murah Rp 15 juta itu. Pameran bertajuk gambar-gambar Surabaya tersebut merupakan pameran tunggal kedua dan terakhir.

Kini, Lim menghabiskan lebih banyak waktu dengan menjaga toko warisan ayahnya.(ken/dos)

Jawa Pos, [ Rabu, 03 September 2008 ]

2 Responses

  1. saya sangat terharu dengan pak liem keng karena saya juga penggemar seni, sungguh takjub saya melihat karya seni yang dibuat pakai hati.kenapa saya bilang begitu karena saya pernah sekamar sewaktu beliau ada di rumah sakit.dengan beliau, bahkan beliau sendiri yang bercerita tentang pengalamannya.

  2. Terima kasih pak Nugroho, kami dari pihak keluarga juga masih perlu banyak belajar dari keteladanan beliau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: