LIM KENG: Jalani Cinta Backstreet

SEJATINYA, perjalanan “cinta” Lim Keng pada karya lukis, terutama di jalur sketsa, tidak mulus. Rasa suka Lim Keng pada aliran seni yang tak banyak ditekuni orang itu terhalang tentangan sang ayah. Dibesarkan di keluarga pedagang Tionghoa, Lim Keng diharapkan sukses sebagai penerus trah dagang keluarganya. Karena itu, Lim Keng muda menjalani cintanya pada dunia lukis melalui jalur belakang alias backstreet.

“Ayah sering bilang, melukis bikin hidup susah. Tiap hari keluyuran tapi nggak ada hasilnya,” kenang Lim Keng. Memang, suami Ernawati tersebut dulu tidak terlampau menurut kepada orang tuanya. Alih-alih berdiam menjaga toko, dia kerap keluyuran membawa setumpuk kertas gambar dan tinta bak, tinta hitam pekat dari Tiongkok.

Tiap Minggu, saat toko tutup, Lim Keng keluar mencari objek. Agar tidak ketahuan, malam sebelumnya Lim Keng menitipkan 20 lembar kertas gambar beserta peralatan lukis kepada tetangganya. “Jadi, waktu mau berangkat saya baru ambil,” tuturnya.

Lim Keng baru pulang saat ayahnya sudah tidur. Seluruh hasil hunting-nya dia bawa ke kamar. Dia lantas memilih gambar yang bagus. “Yang tidak bagus saya bakar di sungai biar ndak ketahuan,” katanya.

Untuk menambah pengetahuan dan mengasah skill, Lim Keng kerap menemui sejumlah seniman metropolis untuk berdiskusi. Dari situ, kiprah Lim sebagai pelukis sketsa mulai dikenal luas.

Pada suatu hari, seorang kolektor dari Jakarta datang ke toko tempat tinggalnya. Kolektor tersebut ingin melihat karya-karya Lim Keng. Setelah melihat, dia langsung tertarik untuk membeli dengan harga tinggi. Namun, Lim Keng yang merasa belum puas dengan hasil karyanya menolak tawaran tersebut. Kolektor itu pun pulang.

Sang ayah yang kebetulan sedang berada di situ spontan marah kepada Lim Keng. “Waktu itu ayah saya bilang gini, Bodoh kamu. Maling saja mau uang, kamu kok malah nggak mau,” katanya. Sejak saat itu, Lim Keng didiamkan selama seminggu oleh ayahnya.

Namun, itu tidak berlangsung lama. Beberapa saat kemudian, datang lagi seorang kolektor dari Surabaya untuk membeli karya Lim Keng. Karena sudah puas dengan karyanya, Lim Keng menjual karyanya dengan harga yang cukup tinggi. Hasil penjualan tersebut sebagian besar langsung diserahkan kepada ayahnya. Sisanya digunakan Lim Keng untuk membeli peralatan gambar dan kertas gambar.

Sejak kejadian tersebut, sang ayah tidak pernah lagi melarang Lim Keng untuk menggambar. Pada 1991, ayah Lim Keng meninggal. Pelukis itu pun meneruskan cita-cita ayahnya, menjadi pedagang barang kelontong tanpa meninggalkan dunia seni. (ken/dos)

Jawa Pos,

[ Rabu, 03 September 2008 ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: