Pegiat Budaya dan Seni PKL Sriwijaya, Apa Kabarmu Kini?

Forum 28 dan Forum Rebo-an Tetap Hidup

Era 2000 sampai 2005, komunitas budaya Kota Malang tumbuh begitu pesat. Tak perlu ruang khusus bagi mereka untuk berkreasi. Jalanan dan gang sempit pun jadi tempat berkreasi. Tapi, dua tahun ini keberadaan mereka seakan-akan lenyap tertelan bumi.

Neny Fitrin

———-

Kawasan PKL (pedagang kaki lima) Jl Sriwijaya pertengahan September tahun 2003. Malam itu, gang dengan lebar tiga meter yang biasanya jadi jalan utama di sepanjang deretan PKL Sriwijaya terlihat lain. Lampu-lampu temaram sejak sore menghiasi jalan sepanjang 100 meter tersebut.

Deretan lukisan dan panggung sederhana lengkap dengan alat musik tradisional tampak tertata rapi. Bahkan, kawanan waria yang sering nongkrong di tempat itu menjadi bagian penting dari perhelatan dengan durasi tiga hari full.

Memang, kawasan di depan Stasiun Kota Baru tersebut sempat menjadi bukti sejarah lahirnya kampung budaya Malang. Sebuah pengenalan budaya yang tak mengenal batas ruang dan waktu. Juga, satu upaya membudayakan kehidupan PKL yang nyaris tak pernah bersentuhan dengan pendidikan tinggi, apalagi dengan dunia politik.

Sederet nama budayawan dan seniman nasional makin meramaikan ajang itu. Sebut saja W.S. Rendra, Butet Kartaredjasa, Sindunata, sampai Joko Kempit. Tak ketinggalan novelis Malang Ratna Indraswari Ibrahim yang tak pernah absen dari kegiatan di sana.

Sebenarnya kampung budaya Malang sendiri hanya agenda tahunan. Tapi, forum-forum kecil tetap membuat hidup kawasan tersebut. Salah satunya, Forum 28 yang selalu dihelat tiap tanggal 28 bulan apa pun. Sayang, peradaban yang ingin menggiring komunitas seni dan budaya Malang seperti kawasan Malioboro itu kandas. Pelaku-pelaku seni yang umumnya mahasiswa tak lagi konsentrasi di sana. Domisili luar kota dan tuntutan kehidupan membuat pelaku-pelaku itu hengkang mencari sesuatu yang lebih pasti. “Hanya bertahan tiga tahun. Setelah itu, buyar tidak berbekas,” ungkap Mohammad Nashir, di Toko Buku Poestaka Rakjat miliknya, kemarin.

Nashir pada 2003 lalu menjadi salah satu dedengkot lahirnya kampung budaya Malang. Laki-laki kelahiran 4 Juli 1970 ini memiliki satu bedak buku lawas di kawasan Sriwijaya bergabung dengan PKL-PKL buku yang bertebaran di sana. Lima tahun Nashir berkecimpung dengan buku-buku bekas di area itu. “Sejak awal di sana, saya ingin menyatukan politisi, seniman, dan budayawan di jalanan. Media ini saya rasa paling tepat mengangkat masyarakat kalangan bawah,” bebernya.

Satu tahun, dua tahun, sampai tiga tahun berjalan. Upayanya menggiring kawasan PKL Sriwijaya layaknya kawasan Malioboro sedikit terwujud. Apalagi, sebelum benar-benar terjun dan menelurkan konsep itu, sekitar 10 tahun bapak satu putri ini berkeliling beberapa kota besar Indonesia. Di antaranya Denpasar, Jogjakarta, Surabaya, Bandung, dan Jakarta. Semua itu dilakukan hanya untuk studi banding tentang kehidupan PKL. “Kadang tiga bulan saya menetap di kawasan PKL tertentu. Baru kemudian geser ke tempat lain,” kata dia.

Apa hendak di kata, kekuatan lokal -dalam hal ini pelaku PKL kawasan Sriwijaya- kurang mendukung. Sampai akhirnya, putra pasangan M. Syifa dan Nurul Hidayati itu hengkang dan pindah lokasi. Memulai kehidupan yang sama meski di tempat berbeda. Tepatnya di kawasan Jl M.T. Haryono seberang kampus FIA Universitas Brawijaya. “Kampung budaya di sini memang tak ada lagi, tapi Forum 28 tetap hidup,” kata Nashir.

Tak hanya Forum 28, Forum Rebo-an juga menambah ramai toko buku kecilnya. Forum Rebo-an selalu dihelat dua minggu sekali tepat Rabu. Lokasi di depan kampus besar membuat pergerakan Nashir lebih mantap. Mahasiswa dari berbagai jurusan yang tertarik dengan dunia seni, budaya, dan politik tak pernah sepi di sana. Apalagi, tema-tema itu selalu diangkat menjadi topik menarik untuk didiskusikan. “Belum lama ini Mayjen Saurip Kadi dan Fajrur Rahman berbicara di sini. Ya…diskusi seputar politik, budaya, dan seni,” bebernya.

Meski perhatian mahasiswa yang tertarik dengan kemasan diskusi itu jumlahnya tak sedikit, Nashir tetap merasa tak puas. Budaya pragmatis mahasiswa yang cenderung menggeluti keilmuan sesuai bidang membuat forum kurang menggelitik. “Rasa memiliki seni, budaya, dan bangsa mahasiswa jadi kurang. Mereka hanya akan jadi robot-robot karena berkutat dengan satu ilmu,” ungkap dia.

Hal lain yang tetap membuatnya tak puas adalah kawasan PKL Sriwijaya. Harapannya keluar dari lingkungan itu ternyata tak membawa perubahan besar. Bahkan, tak ada pergerakan berarti untuk menghidupkan PKL di sana. “Mereka tetap apatis dengan keilmuan dan politik. Ternyata urusan perut tak bisa dinomorduakan,” kata laki-laki asli Malang itu.

Karena itu, meski sempat merasa kecewa karena kekuatan lokal tak mendukung, Nashir berjanji tak pernah berhenti membangun derajat PKL. Apalagi, pembelajaran arus bawah yang paling bisa menyentuh adalah lewat kebudayaan. Dia berharap, ke depan pemerintah bisa lebih bersinergi dengan kondisi ini. Paling tidak menyadari bahwa kebudayaan memiliki arti penting membangun budaya lokal. “Ini hanya masalah penataan. Tinggal bagaimana keberanian pemerintah membangun masyarakat bawah,” tandas alumnus MAN I Malang lulusan 1989 itu. (yn)

Radar Malang, [ Selasa, 02 September 2008 ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: