Gali Tuntunan Dalam Tontonan Budaya

SETIAP produk seni dari kebudayaan dipercaya memiliki nilai dan kandungan tuntunan di dalamnya. Namun, era pasar seringkali tidak seimbang dalam menyajikan nilai-nilai tuntunan tersebut pada masyarakat. Sehingga, masyarakat seringkali lupa pada pesan yang ingin disampaikan dalam berbagai tontonan kesenian yang ada hingga saat ini.

Pria pemilik nama lengkap H Parso Adiyanto SPd MM MBA inilah yang mencoba menggali kembali nilai-nilai tuntunan dam setiap kesenian lokal. Meski di beri mandat mengurusi kesenian di 38 kabupaten se Jawa Timur, dia tak pernah melupakan kesenian dari tanah kelahirannya sendiri, yaitu Madura.

Sebelum menjabat sebagai Kasi Nilai-nilai Budaya di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Jatim, pada tahun 1977 pria yang akrab disapa Parso ini bekerja sebagai guru SD dan pengajar seni tari dan silat di Pamekasan. Sebagai anak yang dibesarkan di lingkungan seni, Parso tidak hanya memiliki keahlian seni secara tradisional. Tetapi juga memerdalam bidang seni di lingkungan akademik.

“Tahun 1977 saya pernah mengajar sebagi guru SD di Pamekasan. Lalu, tahun 1980 sampai 1982 saya belajar seni secara akademik di STKW (Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta, Red.) Surabaya. Di sana saya memelajari seni tari dan karawitan,” tuturnya.

Lulus diploma di STKW, dia diangkat sebagai dosen terbang di tempatnya belajar seni tari dan karawitan tersebut sambil tetap mengajar sebagai guru SD. Kemudian, tahun 1989 dia diangkat sebagai Penilik Kebudayaan di Dinas P dan K Kabuaten Pamekasan. Dari sinilah dia semakin tekun mendalami segala aktvitas kebudayaan yang berlangsug di tanah kelahirannya tersebut.

Dipandang memiliki kelebihan dalam seni, pemerintah provinsi mulai meliriknya dan akhirnya mengangkat Parso sebagai kasi nilai-nilai budaya di bagian kebudayaan. “Nah, dinas P dan K itu kan pendidikan dan kebudayaan. Saya ditempatkan di bidang kebudayaannya,” terangnya.

Kali ini tugasnya jauh lebih berat, yaitu mengangkat kembali, mendokumentasikan serta menginventarisasi semua kebudayaan yang ada di Jawa Timur. “Segala hal yang berkaitan dengan kebudayaan Jawa Timur misalnya adat-istiadat, pola dan system kekerabatan, system budaya yang terkemas dalam lingkungan kebudayaan, saya yang menggarapnya,” jelas bapak satu anak ini.

Nah, dari sekian banyak tanggung jawabnya tersebut, menggali nilai-nilai tuntunan dari setiap seni kebudayaan adalah salah satu kegemarannya. Pasalnya, menurut dia, masyarakat seringkali hanya mengenal produk seni budaya secara entertaint saja. Maksudnya, kandungan budaya yang tidak tersentuh entertainment tidak dikenali oleh masyarakat.

Padahal, banyak informasi, pesan dan tuntunan yang berusaha disampaikan pada masyarakat lewat berbagai seni budaya. Sebagai contoh, seni ludruk Surabaya yag diciptakan oleh Cak Durasim. Pada dasarnya, kesenian tersebut berusaha menampilkan dan menyampaikan pesan-pesan moral perjuangan masyarakat jelata dalam menghadapi sebuah permasalahan.

Begitu juga dengan kesenian-kesenian sandur yang bekembang di masyarakat Madura. Berbagi ungkapan yang muncul dalam pementasan seperti teppong anja’ duli lejjar kagabay nangga sareh, mompong gi’ kana’ duli ajar ma’ ta’ kasta budhi areh (selagi muda belajarlah, supaya tidak menyesal di belakang hari). “Hal-hal seperti itu (ungkapan, Red.) kan jarang diserap masyarakat. Padahal, itu kan mengandung pesan penuntasan wajib belajar, termasuk pesan moral,” tegasnya.

Minimnya penyerapan pesan moral inilah yang membuatnya bersemangat untuk mengembalikan seni budaya pada tempatnya. Tidak hanya sebagai tontonan yang hanya menghibur, tetapi juga memberikan nasehat secara tidak langsung. Dengan demikian, masyarakat yang menyaksikan setiap pagelaran seni tidak hanya pulang dengan rasa puas karena terhibur. Tetapi juga bisa merenungkan setiap pesan yang disampaikan.

Berbagai cara dilakukan Parso bersama timnya di Dinas P dan K Provinsi. Di antaranya dengan menghubungi dan memfasilitasi para tokoh budaya di semua daerah, termasuk Madura. Sehingga, para tokoh yang memiliki kompetensi di bidang tersebut dapat dengan leluasa memberikan pandangannya terhadap kekayaan seni yang dimiliki daerahnya.

Dari pertemuan-pertemuan tersebut akan muncul lokal-lokal genius budaya yang bisa dijadikan acuan kesenian dan budaya. Untuk kemudian disatukan dalam sebuah referensi.

“Kita di dinas mendokumentasikan dari setiap seni kebudayaan. Kemudian, dikaji manfaat dan dampak dari nilai-nilai itu bagi masyarakat. Langkah selanjutnya, didokumentasikan dan diimplemetasikan dengan menyampaikannya kembali ke masyarakat dalam bentuk referensi,” papar peraih penghargaan nasional Pemuda Pelopor di Bidang Seni Budaya tahun 1991 ini.

Metode penyampaiannya sederhana. Di bidang pendidikan, nilai-nilai budaya yang sudah terdokumentasi dimasukkan dalam pelajaran muatan lokal, misalnya pendidikan bahasa daerah. Sedangkan pada masyarakat, metode yang digunakan adalah dengan menggelar kegiatan-kegiatan seni dan upacara adat lainnya dengan pesan-pesan tuntunan di dalamnya.

“Misalnya dalam gelar seni sandur, paling tidak kita menyeimbangkan nilai tuntunan dalam tontonan tersebut. Kalau ada etika yang kurang baik dalam tontonan tersebut kita coba minimalisasi supaya tidak ada kesan kesenian merendahkan nilai-nilai kehormatan,” ujarnya. (nra/ed)

Radar Madura, [ Selasa, 02 September 2008 ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: