Melanglang Buana Menunggang Seni

Di Surabaya ada begitu banyak seniman mumpuni. Mereka tak hanya berkiprah di wilayah kota. Kepiawaian olah seni mereka pun telah terbukti di berbagai ajang di luar negeri. Bermodal seni, mereka menjelajah berbagai negeri.

HERI Prasetyo sangat ”berjodoh” dengan Australia. Beberapa kali pria bernama ”keren” Heri Lentho itu terbang ke Negeri Kanguru tersebut. Dia kali pertama unjuk kebolehan menari di Australia pada 1996.

Ketika itu, Heri terbang ke benua selatan tersebut bersama Achmad Fauzi dan Meimura, koleganya di bidang seni. Heri, pria kelahiran Malang, 13 Mei 1967 itu, diundang mengisi acara ArtRage Festival di Perth Institute of Contemporary Arts, Australia. Pada even tahunan di Australia Barat tersebut, dia mengusung tari bertajuk Upacara.

Tahun berikutnya, pria berkepala plontos itu kembali tampil di festival tersebut. Dia datang bersama seniman Syaiful Hajar. Mereka menghadirkan pertunjukan seni instalasi berjudul Rakus. ”Saya menjadi performer-nya,” kata lulusan pendidikan seni tari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Surabaya (sekarang Universitas Negeri Surabaya) tersebut.

Rakus adalah pertunjukan yang tidak biasa. Syaiful menampilkan sebuah patung torso berukuran besar berisi daging busuk. Patung tersebut ditempatkan di tengah-tengah labirin dan Heri menari di labirin itu. ”Kami ingin menyampaikan korupsi di Indonesia,” jelasnya.

”Festival itu termasuk ajang seni pinggiran. Meski begitu, kemasannya menarik dan terkonsep,” ungkap Heri yang tampil selama seminggu berturut-turut di festival itu.

Selain Australia, sebelumnya karya tari Heri pernah singgah ke Vancouver, Kanada, 1995. Bersama akademi balet Dewi, Heri menampilkan balet kontemporer Dwi Warna.

Sayang, lantaran keterbatasan dana, hanya karya Heri yang melanglang ke negeri berlambang daun maple itu. Heri sendiri harus tinggal di tanah air. ”Nggak masalah buat saya. Yang penting saya bisa menitipkan karya hingga ke negeri orang,” ujar pria yang mengenal dunia tari sejak usia 15 tahun tersebut.

Undangan tampil di berbagai festival mancanegara itu tak mampir begitu saja. Ada kisah kerja keras di balik pembangunan jaringan ke luar negeri tersebut.

Awalnya adalah kegelisahan Heri ketika banyak yang melabeli Surabaya sebagai kota yang ”malas’berkesenian”.’Ingin mengubah image tersebut, bersama Achmad Fauzi dan Arif Rofiq, dia mengadakan Kiat Tari pada 1992. Itu merupakan wadah para seniman tari untuk saling menunjukkan kreasi tari dan berdialog. Kegiatan tersebut mengundang seluruh seniman Jawa Timur untuk berpartisipasi. Kiat Tari mendapat apresiasi positif.

Bahkan, gaung kegiatan itu terdengar hingga ibu kota dan tercium Sal Murgianto, salah seorang kritikus tari yang tinggal di Jakarta. Dari Sal, Heri dikenalkan kepada Crissy Parrot, seniman tari asal Australia. ”Hubungan kami semakin dekat sejak Surabaya dan Perth menjalin sister city,” jelasnya.

Hubungan baik itu ditindaklanjuti dengan undangan Heri ke ArtRage Festival di Perth, Australia. ”Kami saling bergiliran mengundang. Ketika Festival Seni Surabaya dihelat, kami juga mengundang seniman-seniman Australia,” jelas suami Siti Khamimah tersebut. Berawal dari situlah jaringan internasional terbuka.

Lulusan SMAN 5 Malang itu juga membangun jaringan kesenian di Jakarta, Bandung, Solo, dan Bali. Menurut dia, kota-kota tersebut mempunyai kantong-kantong kesenian yang cukup besar di Indonesia.

Heri pun berkeliling ke seluruh kota di Indonesia menampilkan tari kreasinya. Bahkan, pria yang pernah menjadi dosen tari di sebuah perguruan tinggi negeri tersebut sengaja memilih tempat-tempat yang tidak biasa untuk menggelar pertunjukan kesenian. ”Saya memilih menggelar pertunjukan di hutan, jalan raya, bahkan di kereta api. Saya pernah menggelar tari di sebuah kereta api jurusan Surabaya-Blitar,”’ungkapnya.

Kerja kerasnya tidak sia-sia. Namanya dikenal seniman-seniman di seluruh pelosok Indonesia. ”Melihat kiprah saya, banyak rekan seniman yang menyarankan agar saya membuat festival Heri Lentho,” kata Heri.

Julukan Lentho, penganan dari singkong yang digoreng, itu muncul bukan lantaran Heri berkepala botak. Heri dijuluki Lentho karena itu adalah judul salah satu karyanya yang terkenal.

Namun, ide festival tersebut tak bisa diwujudkan Heri. Sebab, kata dia, masyarakat Surabaya masih belum mengenal seniman dari kiprahnya, melainkan dari nama besarnya. Sementara Heri hanya dikenal di kalangan seniman. Merasa belum pantas menggunakan namanya sebagai sebuah nama festival, Heri menggagas nama Cak Durasim sebagai nama festival. Akhirnya tercetuslah Festival Cak Durasim (FCD) pada 2001.

Heri mengemas FCD sebagai festival yang merakyat. Promosi dan sosialisasi dilakukan gencar-gencaran. Dia datang ke media, membawa seniman ke sekolah-sekolah. Membuat atraksi di jalan raya. FCD pun dikenal di Kota Surabaya. ”Saya ingin kesenian ini dinikmati masyarakat luas mulai remaja hingga kaum lansia. Jangan sampai kesenian hanya dilihat seniman dan teman-temannya,” tegasnya.

Sukses membuat FCD membuat Heri Lentho dilirik oleh sebuah universitas di Australia. Dia mendapat beasiswa untuk kuliah singkat mengenai stage management. Namun, lagi-lagi karena tingginya biaya, kuliah singkat itu tak bias dihelat di Australia. Pelaksanaannya di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Solo. Heri menjadi lulusan terbaik. Sejak saat itu, kiprahnya di dunia manajemen panggung semakin luas.

Berbagai festival dia garap. Di antaranya, Festival Budaya Jawa Timur, Kahyangan Arts Festival, G-Walk Percussion Festival, Surabaya Dance Festival, serta membantu beberapa pertunjukan tari, musik, dan teater dari kelompok kesenian dari luar Provinsi Jawa Timur yang akan tampil di Surabaya.

Dia menggelar pentas tari Korea, Dance of the Millenium, Journey of A Soul dengan koreografer Kook, Soo Ho DIDIM Dance Company di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, 2005. Heri juga mengadakan pertunjukan tari enam Negara (Hongkong, Indonesia, Korea Selatan, Meksiko, Singapura, dan Thailand) dengan judul MATA. Itu merupakan pertunjukan yang dihasilkan oleh Asian-Central America Dance Exchange pada 2007. Heri juga ditunjuk untuk menghadiri Australian Performing Arts Market pada 2002.

Ada satu cita-cita Heri yang belum terwujud. Dengan jaringan yang sudah dibangun sekarang ini, dia berharap lebih banyak seniman local yang bisa berkiprah di dunia internasional. ”Dengan begitu, mata dunia pun lebih banyak melihat bahwa Surabaya banyak menyimpan bakat-bakat luar biasa,” ujarnya. (ign/dos)

Jawa Pos, Minggu, 31 Agustus 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: