Wayang Thengul di TBJ Banyak Ditonton Anak-anak

Surabaya – Surabaya Post. Program kerja Taman Budaya Jatim (TBJ) dengan mengangkat kembali sejumlah kesenian yang dinilai teripinggirkan dan hampir punah patut diacungi jempol. Sayang, penyajiannya terkesan seadanya. Sepertinya kurang dibarengi dengan peningkatan apresiasi, mengundang pemerhati hingga dapat mengangkat dan menghidupkan kesenian itu sendiri.

Seperti pada pentas religius yang menghadirkan ‘Wayang Thengul’ (Bojonegoro) dan ‘Terbang Laro’ (Pasuruan) di Pandapa TBJ, Sabtu (23/8). Dua kesenian yang dipentaskan siang hari, mulai pukul 13.30 itu lebih banyak ditonton anak-anak.

Menurut pengamatan Surabaya Post, perhatian anak-anak menonton pentas Wayang Thengul, tentunya akan berbeda jauh jika dibandingkan melihat tayangan televisi seperti Avatar, Naruto, Badman maupun konser musik yang lagi naik daun.

Seperti saat dalang Wayang Thengul Ki Sudarno bercerita atau memainkan anak wayangnya, sebagian anak terlihat asyik dengan teman lainnya. Mereka terlihat kurang memperhatikan materi atau cerita yang dimainkan.

Menurut salah seorang seniman yang juga ikut menonton, anak-anak kurang memperhatikan wayang karena lakon yang dibawakan, kurang tepat atau tidak sesuai dengan tontonan mereka. Mestinya, jenis wayang bisa tetap Thengul namun namanya atau ceritanya disesuaikan dengan keiinginan anak-anak.

“Itu kalau kalau memang sajian wayang untuk anak-anak. Kalau untuk orang dewasa, mungkin ceritanya bisa sesuai pakem namun pentasnya harus malam hari. Sehingga apresiasinya kena. Seperti pentas wayang digelar TBJ selama ini ,” kata seorang seniman yang enggan disebut namanya itu.

Ditampilkannya seni religius, Wayang Thengul, Gembrung Kibar dari Kuncen, Madiun dan Terbang Laro dari Desa Cendana, Pasuruan, kata

Kepala TBJ Drs Pribadi Agus Santoso, karena perkembangannya tidak sama menggembirakan.

“Karena itu, TBJ berusaha memwadahi mereka dan tujuannya untuk memberi semangat para seniman yang menggeluti dan sekaligus sebagai wahana apresiasi pada masyarakat,” ujar Agus dalam sambutannya.

Sementara itu, kesenian Gembrung Kibar, tambah Kasi Penyajian TBJ, Drs Arif Rofiq, kalau dikatakan punah juga tidak. Buktinya masih ada. Namun tingkat apresiasinya sudah semakin tidak mendapat tempat. Fungsinya selama ini sebagai pengiring acara jagong bayi (upacara kelahiran).

Namun dengan perkembangan zaman, acara jagong bayi sepertinya hampir tidak ada, kalau tidak bisa dikatakan punah. “Padahal, kesenian ini sarat akan tutur dan banyak memberikan petuah tentang kebaikan bagi kehidupan manusia,” jelas Rofiq.

Sementara Wayang Thengul dari Bojonegoro, kondisinya sudah lebih baik jika dibandingkan dengan kesenian lainnya. Selain di daerahnya sendiri, wayang ini banyak pentas ke Tuban, Nganjuk, Lamongan hingga ke Jawa Tengah. Bahkan, dalam sebulan kesenian ini bisa pentas sampai 15 kali.(gim)

Surabaya Post, | Senin 25/08/2008 12:45:20 |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: