Pentas ‘Pak Martoyo’ Mencoba Eksis Di Tengah Pesimistis

Kediri – Surabaya Post – Seniman kelahiran Kediri berkaitan dengan peringatan HUT RI 63 mencoba menunjukkan karyanya kepada publik, sekaligus menunjukan bahwa seni di kota tahu masih eksis. Karya yang dihadirkan di Kota Tahu, tepatnya di Taman Sekartaji, Sabtu (23/8) menghadirkan Pak Martoyo dan Detik Ini dan Di Sini.

Pementasan ini digelar, salah satunya untuk mengikis sinyalemen bahwa para seniman merasa tidak optimistis berkiprah di kotanya sendiri. Sehingga, seniman dari Kediri, jika ingin eksi dan karyanya diakui harus tinggal atau menetapa di kota lain, seperti Jogjakarta dan lainnya.

Bagus Budi Indarto yang berkarya lewat Pak Martoyo mengatkan, setelah menempa seni koreografi, dia terpaksa tetap bertahan hidup di Jogjakarta untuk bisa tetap karyanya eksis. “Saya merasa tidak optimistis bisa hidup di Kediri. Saya merasa sulit berkarya di ke Kediri, karena tingkat apresiasinya belum tumbuh,” jelas Bagus.

Dengan tinggal dan berkaya di Kota Gudeg, Bagus bisa membuktikan karyanya terapresiasi dan akhirnya mampu mengantarkan dirinya ke pentas internasional. “Beberapa hari lalu saya pentas di Paris. Ini bukti bahwa Jogja mampu mengantar karya saya ke pentas dunia,” tambah dia.

Sementara karya “Pak Martoyo” berbicara tentang keberdaan atau pertemuan kembali seorang petani yang hidup pada Generasi Bunga pada 1965. Di mana perjalanan pop Indonesia yang mencekam tidak perlu dipertanyakan kembali. Generasi Bunga adalah generasi dunia seniman yang hapir terputus, tentunya oleh suasana politik saat itu.

Lagu Juwita Malam atau Dinda Bestari, rasanya cukup mewakili sebuah perjalanan rock’n roll, keroncong bahkan kesenian tradisional jaranan sekalipun. “Seandainya tidak ada peristiwa 1965, dipastikan seni akan berkembang luar biasa di Nusantara ini,” ujar koreografi Pak Martoyo yang diperankan Aji (Sahabat Bagus).

Sementara itu, Dwi Aris Setiawan seniman yang sama dan pencipta Detik Ini Dan Di Sini, selama ini mencoba bertahan di Kediri. “Saya bereksebisi pada pementasan ini, di mana selama ini masih bertahan pada pakem,” kata Aris. Ditambahkannya, penembusan batas berekspresi bisa ditempuh meski tanpa membuang pakem. Sehingga seni bisa berekspresi lebih luas.

Karya Aris bercerita tentang seringkali kita tenggelam dalam romantisme keindahan masa lalu. Kita sering larut dalam penyesalan masa lalu bahkan sering kali membunuh waktu masa kini demi menanti dan menunggu masa depan yang masih ilusi. Hidup adalah momen waktu masa kini untuk menatap masa depan lebih siap.

“Saya juga ingin membuktikan bahwa karya koreografi hidup di Kediri. Semoga pementasan ini mampu membangkitkan gairah seni di Kediri,” ungkap Aris.

Untuk lebih memperkuat karyanya, Aris menggandeng tokoh seni Kota Kediri Mbah War sebagai aransemen musiknya sekaligus memainkan biola dalam pementasan itu. (d1)

Surabaya Post, | Senin 25/08/2008 – 12:45:22 |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: