Pameran Art Goes to Sun

SURABAYA – Setelah pameran lukisan Reproduksi rampung pada 23 Agustus lalu, Galeri Surabaya langsung disambut dengan pameran lukisan abstrak dan mix media bertema Art Goes to Sun. Pameran yang diprakarsai delapan pelukis tersebut berlangsung mulai 24 hingga 30 Agustus.

Para pelukis itu adalah Anwar Djuliadi, Yonosan, Hery Poer, Nomo Dwi Atmoko, Qusta, Nur Cholis, Djunaidi Kenyut, dan Sugeng Pribadi (Klemins). Awalnya, delapan pelukis tersebut sering bertemu dalam pameran di berbagai kota di Jawa Timur. Karena sering bertemu, muncul gagasan membuat pameran bersama.

Art Goes to Sun, menurut Cholis, sebenarnya terjemahan dari Agustusan. Masih dalam suasana kemerdekaan, pameran tersebut menjadi wujud para seniman itu untuk meramaikan HUT Kemerdekaan RI. Tapi, sebenarnya Art Goes to Sun adalah harapan agar seni bisa menuju pencerahan. “Seperti matahari yang menjadi sumber kehidupan,” ungkapnya.

Dalam pameran tersebut, dua belas lukisan dipamerkan secara berjejer. Terdiri atas sepuluh lukisan abstrak dan dua lukisan mix media. “Sebagian besar di antara kami memang pelukis abstrak,” lanjutnya.

Misal, lukisan Cholis yang berjudul Perang-perangan Jadi Perang Beneran dan Bukan Agustusan. Kedua lukisan tersebut saling berkaitan cerita. Pada judul pertama, Cholis menggambarkan hubungan antarmanusia dalam menjalani kehidupan. Dulu teman, jadi lawan, dan sebaliknya.

Sedangkan di lukisan Bukan Agustusan, ada tiga peristiwa yang digambarkan. Pada baris pertama diperlihatkan suasana perang. Perang tersebut berhenti sesaat ketika 17 Agustus tiba. Itu dituangkan pada baris kedua. Terakhir, perang diceritakan terjadi lagi.

Cholis menyatakan lebih menyukai lukisannya yang berjudul Perang-perangan Jadi Perang Beneran daripada Bukan Agustusan. “Bukan Agustusan saya buat ketika kondisi hati sedang tidak menentu,” ungkapnya.

Itu terlihat dari lukisannya yang memakai banyak warna. Selain hitam, ada warna biru, kuning, merah, dan hijau. Sedangkan di lukisan satunya, dia merasa lebih mantap hati. “Lihat warna yang saya pakai. Hitam, putih, dan abu-abu,” tutur lulusan seni rupa Unesa tersebut.

Selain abstrak, terdapat lukisan mix media karya Hery yang berjudul Peradaban Sisa. Dalam karya itu, dia menggunakan media kain perca, karung goni, kertas koran, kardus, dan benang.

Bahan-bahan tersebut dipotong olehnya, kemudian disatukan dengan teknik kolase (tempel). Di salah satu bagian, terdapat potongan koran yang dibingkai dengan kaca tapi menyatu dengan bagian-bagian lain. Lukisan berukuran 90 x 183 cm tersebut terdiri atas dua panel. (jan/ayi)
Jawa Pos, Selasa, 26 Agustus 2008 ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: