'Kartini Berdarah' Juara. Penulis Jatim Mendominasi

Surabaya – Surabaya Post Hasil Lomba Penulisan Naskah Teater Remaja (LPNTR) 2008 gelaran Taman Budaya Jatim (TBJ), dinilai mengejutkan. LPNTR kali pesertanya berubah, begitu juaranya. Kalau tahun – tahun sebelumnya, pada pemenangnya lebih didominasi dari luar kota atau luar propinsi namun kali ini direbut oleh Jatim sendiri, yaitu Amanatia Juanda dari Porong, Sidoarjo.

Begitu juga pesertanya, kalau tahun sebelumnya banyak didominasi dari Jogjakarta dan sekitaranya, kini terbalik berbalik ke Jatim. Menurut Kasi Dokumentasi dan Informasi TBJ, Drs Karsono M.Pd, saat jumpa pers, Kamis (21/8), peserta terbanyak dari Jatim, yaitu 41 peserta yang datang dari 17 kota di Jatim.

Selain Surabaya, kata dia, ada dari Gresik, Sidoarjo, Lamongan, Mojokerto, Tuban, Jombang, Tulungagung, Magetan, Ngawi, Madiun, Blitar, Malang, Nganjuk, Bojonegoro hingga Madura (Bangkalan dan Pamekasan). Dari luar Jatim, sebanyak 19 peserta yang datang dari Jogjakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat hingga Jakarta.

Pengirim naskah terbanyak, tambah dia, masih didominasi penulis dari Jogjakarta, yaitu delapan naskah dan Jawa Tengah tujuh naskah. Sementara dari Jatim, pengirim terbanyak dari Surabaya (5), Sidoarjo (5), Mojokerto (5) dan Tulungagung (4). Selebihnya, ada yang mengirim satu hingga tiga naskah.

Status peserta, jelas Karsono, juga terlihat njoplang. Penulis pelajar “dikeroyok” seniman. Penulis yang mengaku sebagai seniman, sangat mendominasi, jumlahnya mencapai 54 orang. Kemudian mahasiswa tiga orang, guru seorang dan pelajar dua orang.

Jika dilihat dari perkembangan data tersebut, kata salah seorang juri dari Jakarta, Bos Teater Koma, Nano Riantiarno, ada progres yang siknifikan dan mengejutkan. Perkembangan penulisan naskah drama di Jatim maju pesat. Pesertanya lebih banyak jika dibandingkan tahu lalu dan pemenangnya juga dari Jatim.

“Hebohnya lagi, pemenangnya adalah pelajar SMA dari Porong, Sidoarjo. Judul karyanya juga tidak kami duka sebelumnya, Kartini Berdarah,” jelas Nano yang didampingi dua juri lain, yaitu penulis Agus Noor dari Jogjakarta dan dramawan AGS Arya Dwipayana dari Jakarta.

Saat penjurian dari sejumlah karya yang terkumpul, tambah suami dramawati Ratna Riantiarno, diambil dan tampa melihat siapa penulisnya. Begitu juga setelah ditentukan pemanangnya, mulai juara I hingga harapan serta nominasinya, ternyta pemenangnya adalah siswa SMA dari Sidoarjo sendiri.

Juara II dimenangkan Buchori Ali Masrono/Putut Buchori dari Growongan Kidul, Jogjakarta dengan Hmil/Hamil dan juara III, MS Nugroho dari Mojoagung, Jombang dengan judul Wewe Gombel.

Juara harapan I, Muhammad Asrori dari Sooko, Mojokerto dengan judul Kotak Surat Terakhir dan harapan II, diraih Hardjono WS dari Ds Jatidukuh, Mojokerto dengan judul Melawan Kutukan.

Kemudian nominasinya, Dheny dari Bandung, Tulungagung dengan judul Kebo Nyusu Gudel (Kerbau Menyusu Anakanya), Hamis Salad dari Manguwoharjo, Jogjakarta dengan judul Tak Ada Bintang di Dadanya, Juma’ali dari Ngadilangkung, Malang lewat karya Kesurupan, Herlina Syarifudin dari Bintaro Kesehatan, Jakarta Selatan karyanya Taplak Meja dan MS Nudroho dari Jombang dengan karya Malin/The And Scene.

Dari sekian banyak peserta yang menang dan masuk nominasi, kata Nano, teknik penulisannya yang perlu disempurnakan. “Sayang kalau mereka mempunyai bakat yang luar biasa, terutama dari kalangan mudanya, tapi tidak disalurkan sesuai bakatnya. Salah satu caranya, dibekali dengan pelatihan,” sarannya.

Selain itu, tambah dia, ajang seperti ini perlu ada kelanjutannya. Sehingga, para peserta mempunyai kemampuan yang bagus dan ada wadahnya. Kalau TBJ mempunyai lomba Teater Remaja, sepertinya sangat tepat. “Kalau ini bisa dilakukan, Jatim mungkin akan menjadi gudang naskah, baik itu untuk teater, sinetron dan film,” kata dia.

Adakah perbedaan penulisan naskah yang dilalukan antara peserta berpengalaman (tua) dengan yang lebih muda? Secara keseluruhan, ujar AGS Arya Dwipayana, bedanya tipis. Biasanya kalau penulisnya orang tua dan berpengalaman, bicara kebaikan dan keburukan itu terasa hitam putih.

“Gaya penulisnya mewakili remaja. Tapi kalau penulisnya remaja, dia akan bicara dirinya. Dialog dan gurauannya gaya mereka. Kebenaran dan keburukan bagi remaja masih abu-abu,” jelas Arya.(gim)

Surabaya Post, | Senin 22/08/2008 14:15:47 |

3 Responses

  1. MamPir DuLu akhh. . . . . . . . ., Mampir juga ke Punyaku ya. . . . . . !!!!

  2. kalau dilihat dan di baca reserensinya,,, bnoleh dong yudi monta dikirim naskahnya to persiapan pentas teater hari kartini…
    kontak gw yah 081-237-214-518
    gw minta bantuannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: