Kesenian Kuda Lumping yang Nyaris Terlupakan

Perlu Ritual saat Latihan, Peminatnya semakin Berkurang

Kuda lumping nasibnya nungging

Mencari makan terpontang-panting

Aku juga dianggap sinting

Sebenarnya siapa yang sinting…(Swami)

AIRLANGGA, Jombang

———————————————————————-

SUARA musik gamelan terdengar dari dua buah speaker yang terpasang melalui microphone untuk mengeraskan suara penabuh gamelan yang memecah heningnya malam di salah satu ruas jalan di Desa Mojongapit, Kecamatan/Kabupaten Jombang.

Di antara musik gamelan tersebut, terdengar suara teriakan orang seakan-akan memberikan semangat kepada dua orang pemain yang berdiri di atas kuda-kudaan yang terbuat dari bahan anyaman. Suara tersebut berasal dari seorang yang juga penabuh gamelan. Terkadang suaranya dibuat seolah-olah menyeramkan untuk memacu ketakutan penonton.

Di tengah penonton yang berdiri melingkar di pertigaan jalan desa, dua orang menari dengan mengibas-ngibaskan ekor kuda-kudaan seakan-akan seperti kuda sungguhan. Kaki mereka yang diberi lonceng meliuk-liuk mengikuti iringan gendang.

Saat dua orang penari beraksi, mereka juga sesekali melakukan adegan-adegan yang aneh dan terkadang tidak wajar yang tiba-tiba muncul, seperti seekor binatang yang sedang merayap-rayap, berguling dan melompat-lompat. Hal ini membuat Jaran Kepang yang berasal dari Kecamatan/Kabupaten Jombang memiliki daya pikat yang luar biasa.

Selepas para penari menyuguhkan tarian yang atraktif, seorang sesepuh atau yang dituakan di komunitas jaranan mendatangi kedua penari. Sesepuh yang menggunakan busana serba hitam yang dibantu dua orang lainnya lalu melepaskan kuda kepang dari lilitan para pemainnya.

Saat itulah keanehan terjadi. Para pemain yang sudah tidak berada di kudanya tiba-tiba mengalami kejang-kejang. Kedua pemain berguling-guling di lantai karena kerasukan sesuatu.

Para penonton yang semula berdiri mendekat tiba-tiba mundur dengan sendirinya karena ketakutan. Mereka mulai merasakan merinding di sekujur tubuhnya. ”Saya takut rohnya masuk ke tubuh saya, makanya saya mundur,” ujar Lani, 35 seorang penonton.

Tak lama kemudian, sesepuh yang berusia sekitar 50 tahun lalu membaca mantra-mantra dan membakar kemenyan yang diletakkan di sebelah gamelan. Terkadang, sesepuh juga mengusap-usap rambut pemain dan juga mengoleskan minyak wangi kepada hidung para pemain kuda lumping.

Pertunjukan kesurupan para pemain atau yang biasa disebut ndadi ternyata tidak hanya memperlihatkan perilaku nyleneh pemainnya, melainkan juga perubahan wajah pemain yang semula tersenyum saat menari berubah menjadi wajah menyeramkan dengan sorot mata yang tajam. Terkadang kedua bola mata hitam para pemain tidak nampak. Pertunjukan malam itu semakin mencekam tatkala dua pemain semakin melakukan atraksi kesurupannya.

Suasana mistik pun sangat terasa di tengah pertunjukan terutama dengan adanya aroma kemenyan yang semakin menyengat di hidung para penonton. Keanehan para pemain saat pertunjukkan sangat terasa saat pemain mulai melakukan kegiatan yang tidak dapat diterima akal sehat. Kedua pemain memakan beling yang disediakan. Tidak hanya itu, arang yang masih terdapat api pun dilahap oleh pemain.

Penonton semakin merinding saat salah satu pemain memakan anak ayam yang masih hidup. Pemain membelah leher anak ayam dengan menggunakan kedua tangannya dan memakannya mentah-mentah.

Para pengunjung dibuat smakin terheran-heran saat tiba-tiba salah seorang pemain tiba-tiba keluar dari arena pertunjukan dan berlari menuju arah makam desa setempat.

”Setiap ada pertunjukan, salah seorang pemain yang kesurupan selalu mendatangi makam terdekat dengan tujuan meminta izin kepada yang sing mbaurekso atau yang menguasai daerah sini,” ujar Ketua Paguyuban Turonggo Seto bernama Toto Widyanto, 46. Pertunjukan akhirnya berhenti setelah hampir satu setengah jam pemain melakukan atraksinya.

Saat akan berhenti, sesepuh yang dibantu tiga orang menyiapkan kain jarik bermotif batik warna coklat. Pemain yang kesurupan dipanggil dengan cara menggunakan pecut. Dua pemain yang mengikuti pecut digiring menuju kain dan ditidurkan. Setelah berbaring di atas kain, sesepuh membacakan mantra. Seketika itu para pemain mulai sadarkan diri.

Salah seorang pemain bernama Iwan, 20, mengungkapkan, saat kesurupan dirinya sama sekali tidak sadarkan diri. Iwan sendiri sudah lama tergabung di paguyuban kuda lumping. Ia mengaku sudah berlatih selama enam tahun. ”Saya tidak ingat saat kesurupan, setelah selesai pertunjukan tubuh saya lemas,” katanya.

Ditengah pertunjukan, Toto menjelaskan, untuk menjadi pemain jaran kepang tidaklah mudah. Perlu latihan yang serius dan melakukan ritual tertentu. ”Untuk latihan menjadi pemain biasanya lebih dari dua tahun,” kata Toto.

Sebelum dilakukan permainan kuda lumping, biasanya dilakukan juga ritual untuk memanggil roh. ”Bahan-bahan ritualnya antara lain kembang tujuh rupa, sesajen, kemenyan dan kelapa hijau,” katanya.

Toto juga menjelaskan, kesenian jaran kepang menceritakan tentang dua prajurit yang bertarung dengan gagah berani di atas kudanya. Mereka berdua bertarung untuk menegakkan keadilan melawan kejahatan.

Menurutnya, kesenian kuda lumping atau jaran kepang kini sudah jarang ditampilkan di muka umum. Hal tersebut karena kurang minatnya penonton yang menyaksikan kesenian jaranan. Toto juga menjelaskan, selain menggelar kesenian jaranan, paguyuban yang didirikannya sejak tahun 1981 juga terdapat kesenian barongan, tari topeng, reog dan campursari. ”Tidak semuanya menggunakan ilmu magis,” jelasnya.

Paguyuban yang didirikannya merupakan paguyuban turun-temurun. Penerus generasi kesenian ini tidak pernah terputus karena darah kesenian jaranan sudah mengalir dari kakeknya. ”Saya hanya meneruskan kesenian ini dari jaman kakek saya, tidak ada kesulitan,” katanya.

Dan hampir semua anggota paguyubannya berdarah seni jaranan mulai kakek buyutnya. Dalam setiap pentas, para penanggap tidak harus mengeluarkan biaya mahal. Cukup dengan uang sekitar Rp 1 juta hingga 1,5 juta, paguyubannya siap menghibur para penonton dengan pertunjukan keseniannya. (yr)

Radar Mojokerto, Kamis, 21 Agustus 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: