Improvisasi Tari di Festival Reog

SURABAYA – Prabu Klono Sewandhono dari Kerajaan Bantarangin (Ponorogo) bermaksud melamar Dewi Songgolangit dari Kediri. Tapi, di tengah jalan dia dihadang Singo Barong. Terjadilah pertempuran yang berakhir dengan kekalahan Singo Barong. Dan, Singo Barong pun menjadi pengikut sang prabu.

Itulah cerita yang harus dibawakan dalam Festival Reog di Taman Surya kemarin. Festival yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) bersama Purboyo (Persatuan Reog Surabaya) itu diikuti oleh sebelas sanggar tari reog.

Acara dibuka dengan penampilan reog mini yang dimainkan anak-anak SD dari sanggar Singo Mudo Pradopo. Kemudian dilanjutkan penampilan peserta. Arif Rofiq dari Dewan Kesenian Surabaya (DKS) sebagai ketua juri dengan anggota Tri Broto W. dan Shodiq Pristiwanto (Disparsenibud Ponorogo).

Tiap sanggar minimal terdiri atas 30 orang, mulai penari sampai pemain musik. Penampilan dibatasi 20 menit. ”Jika lebih dari 20 menit akan didiskualifikasi,” tegas Somin Riyanto, ketua panitia festival.

Tarian reog yang dibawakan pada peserta memang agak berbeda dengan aslinya. Di Ponorogo –tempat asal reog, jumlah penari disesuaikan dengan juklak. ”Misalnya penari dadak merak harus dua orang, sedangkan warok sepuluh orang,” jelas Shodiq, juri yang juga koreografer tari reog. Tapi, di festival, jumlah penari tidak dibatasi.

Di Ponorogo, alat-alat musik yang dimainkan untuk mengiringi reog ada lima buah, gendang, tipung, gong, terompet, dan angklung. Dalam festival peserta boleh berkreasi dengan menambahkan alat musik gamelan.

Peserta juga diberi kebebasan melakukan gerakan tari dan kostum. ”Selama substansi ceritanya tidak berubah, tidak masalah,” kata Shodiq. ”Justru itu akan merangsang perkembangan tarian reog sendiri,” lanjutnya.

Secara keseluruhan komposisi tarian yang dimainkan peserta sesuai dengan tarian asli. Diawali kemunculan warok tua yang berjalan sambil membawa tongkat. Kemudian muncul warok muda yang dimainkan oleh penari laki-laki sambil membawa tali. ”Tarian warok muda minimal dimainkan enam orang,” kata Somin.

Selanjutnya muncul penari wanita memegang kuda-kudaan. Tarian itu disebut Jathilan, disusul tarian Pucang Ganong. Penarinya mengenakan topeng kera. Mereka melakukan gerakan melompat, salto, dan rolling. Lalu muncul Klono Sewandhono. Bagian terakhir adalah gambaran pertarungan antara Klono dengan Singo Barong yang diperagakan penari memakai dadak merak.

Salah satu peserta, Sanggar Setro Bakti Budoyo mencoba menampilkan reog yang dimasuki kultur modern. Jika beberapa peserta memakai satu penari Pucang Ganong, sanggar ini memakai 20 penari, semuanya usia anak-anak SD. Selain melakukan gerakan salto, mereka juga membentuk piramid layaknya penari cheerleader.

Tarian reog dalam festival itu, kata Maulisa Nusiara, kabid kebudayaan Disbudparta Surabaya, lebih ditekankan pada teknis garapan dan kemasan. Peserta boleh berkreasi dalam musik, gerakan, dan kostum. ”Asal, masih mengacu pada tarian aslinya,” katanya.

Juara festival itu direbut sanggar Tunggal Budoyo, pemenang kedua sanggar Singo Mangkujoyo, dan pemenang ketiga sanggar Setro Bakti Budoyo. (jan/cfu)
Jawa Pos, [ Selasa, 19 Agustus 2008 ]

3 Responses

  1. bagus sekali info ini

  2. its okay infonya, karena aku sebagai orang ponorogo asli juga sangat bangga dengan hadirnya festival reyog diluar ponorogo. hanya saja klo boleh aku kasih saran beberapa kata dan istilah yang salah ketik atau kekurang telitian mohon bisa diperiksa kembali dan diperbaiki, agar tidak menimbulkan salah persepsi, maturnuwun,

  3. tolong d kasih brita2 yg lbh mdtil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: