Festival Teater Remaja Dibuka Tampilkan Para Jawara

Surabaya – Surabaya Post
Festival Teater Remaja (FTR) gelaran Taman Budaya Jatim (TBJ) kali ketujuh, dibuka Sabtu (2/8) pagi tadi. Pementasan yang melibatkan sepuluh kelompok ini, berbeda dengan ajang sebelumnya. Kali ini hanya menghadirkan jawara (juara FTR sebelumnya) dan tidak memunculkan juara, tapi lebih menitikberatkan pada apresiasi, tukar pengalaman dan wawasan.

Sepuluh kelompok yang bakal tampil, diberi kesempatan dua hari hingga Minggu (3/8). Penampil pertama mulai pukul 10.30 pagi tadi, menghadirkan Teater SMAN 3 Madiun. Dilanjutkan Teater SMA Mojokerto dan SMAN 2 Tuban. Setelah itu berhenti dan dilanjutkan pelatihan mulai pukul 15.00. Nara sumbernya, kata Kasi Penyajian TBJ, Drs Arif Rofiq, Jumat (1/8) malam, AGS Arya Dwipayana dari Jakarta di Ruang Sawungrono.

Pementasan dilanjutkan lagi mulai pukul 19.00 dengan menampilkan Teater SMAN 2 Bangkalan, Madura dan Teater SMAN 9 Surabaya. Sekitar pukul 22.00, acaranya bebas. Mereka bisa berdiskusi atau sekadar ngobrol, antara satu kelompok dengan kelompok lain atau antara satu kota dengan kota lainnya. Kalau mau istirahat juga tidak apa-apa.

Keesokan harinya, sekitar pukul 08.00, mereka juga sudah harus siap lagi di arena pementasan, Gedung Cak Durasim. Penampil pertama, Teater SMAN 21 Surabaya. Setelah itu berhenti dan dilanjutkan pelatihan di Pendapa Jayengrono dengan pemateri, Eko Ompong, pemerhati teater dari Jogjakarta.

Pukul 11.00, dilanjutkan pementasan dengan menampilkan Teater SMAN 1 Tuban, Teater SMAN 6 Surabaya, SMA Kediri dan ditutup penampilan Teater SMAN 1 Kalisat, Jember. Setelah itu penutupan dengan acara bebas. Meski acara bebas, namun Kepala TBJ, Drs Pribadi Agus Santoso, MM, ingin membuat acara yang bisa dikenang mereka.

“Kalau bisa, dibuat malam keakraban dengan menghadirkan api ungun. Kemudian hidangannya pala pendhem (ubi-ubian dan lainnya). Mereka diharapkan bisa tampil secara spontanitas dari keterampilan masing-masing. Kalau ada yang bisa menyanyi, melawak dan lainnya, dipersilakan,” jelas Agus.

Perbedaan FTR tahun ini dengan tahun sebelumnya, tambah Rofiq, untuk menghindari kejenuhan atau monoton. Karena, selama tujuh tahun FTR berlangsung, konsep penyanjian begitu-begitu saja dan kurang ada apresiasi. Biasanya, kata dia, peserta setelah tampil, kemudian pulang. Begitu juga peserta yang lainnya.

Sepertinya, tambah dia, melihat dan mengapresiasi penyanyian kawannya mereka tidak sempat. Karena itu, tahun ini yang tampil para juara tahun sebelumnya. Diharapkan, masing-masing peserta bisa saling melihat, baik kelebihan dan kekurangan dari kelompok yang tahun lalu juara. “Sehingga, mereka ini bisa saling berkaca,” jelas dia.

Dalam penampilannya, masing-masing peserta bebas membawakan naskah, baik karya sendiri maupun karya orang lain. Kalau sebelumnya, mereka tampil dengan “kacamata kuda”, karena harus membawakan naskah dari TBJ.

Meski mereka bebas tampil, namun juga tetap “dijaga” oleh dua pemerhati teater, yaitu Eko Ompong dan AGS Arya Dipayana. Setelah tampil, mereka akan dikritik dan diberi masukan tentang segala hal yang baru dilakukan. Jadi, mereka bisa tahu kelemahan dan kelebihannya.

Karena ini sifatnya festival dan apresiasi, kejuaraannya tidak ada. Semuanya ini telah dijelaskan panitia FTR, Antok Agusta. “Jadi, pementasan ini tidak ada perebutan kejuaraan. Tapi bukan berarti tampilan semaunya. Kalian harus tetap optimal dan tampil habis-habisan. Ini juga demi kebaikan kalian nanti,” jelas dia.

Untuk memberi ruang bebas, para peserta ini tidak diinapkan di “hotel” TBJ tapi dibuat tenda yang cukup besar dan digelar di halaman. Setiap tenda diberi papan nama peserta. Mereka juga dipsahkan antara peserta pria dan wanita. “Jangan sampai ada yang pindah tempat ya,” ingat Antok.(gim)

Surabaya Post, | Sabtu 02/08/2008 – 11:00:23 |

2 Responses

  1. harmoniskan dulu iklim perteateran dijombang, baru bisa diadakannya festival.
    tidak hanya dijmbg aja tapi di keseluruhan perteateran yang ada di jmbng.
    mana KELBINTERBANG yang dulu?
    jika masih ada dapat dipastikan perteateran akan guyub rukun seperti dulu.
    bls coment saya
    saya butuh keterangan

  2. wah jambore teater…
    saya juga salah satu anggota teater HITAM PUTIH SMA N 1 tuban.
    bener2 acara yang perlu dilestarikan.

    tapi apakah jambore teater kemaren itu sebagai akhir dari FTR?
    sayang sekali kalau FTR ditiadakan..
    event itu bisa membangkitkan semangat seni dan budaya di kaula muda…

    saya tunggu kabar FTR tahun ini ya..?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: