SARASEHAN BUDAYA JOMBANG Gagas Festival Ringin Contong

Jombang – Surabaya Post Sarasehan Seni Budaya Jombang (SBJ) yang digelar sebulan sekali, akhirnya memunculkan gagasan yang dinilai menarik dan sepertinya terus mengerucut. Judulnya Festival Seni Budaya Ringin Contong (FSBCR). Gagasan itu, kini terus bergulir dan saling bersambut. Sarasehan ketiga, Agustus nanti akan lebih matang.

Demikian diungkapkan Koordinator sarasehan SBJ, Iswandi yang dihubungi, Kamis (31/7). Sarasehan ini digelar di sanggar-sanggar kesenian. Sarasehan kedua digelar di Sanggar Sakkal Dadi, Sabtu (19/7). Tema yang diangkat, mewujudkan festival seni rakyat Jombang dan tercetuslah FSBCR.

Ajang FSBCR, kata Iswandi, mucul dari Guntur lewat Ringin Contong Art Forum (RCAF) yang kemudian menjadi FSBRC, sebuah festival rakyat yang melibatkan banyak pihak. Kegelisahannya disertai alasan bahwa selama ini Jombang belum menemukan icon yang bisa menggerakkan kehidupan masyarakatnya.

Lontaran Guntur, pria asal Magetan direspon oleh Arifin (Ketua KONI, mantan Parbupora Jombang). Arifin pun membahas beberapa even budaya di Jombang seperti MTQ, Ultah Pramuka dan meberikan peluang bagi seniman menampilkan kreasi, khususnya seni islami.

Selanjutnya dia mempertanyakan kenapa gagasan yang disampaikan para budayawan di Jombang selama 10-15 tahun, jalan ditempat?. Sepertinya di kota ini perlu ada organisasi sebagai wadah bagi seniman dan budayawan yang tersebar di berbagai lokasi dan ragam fokusnya.

Bagaimana dengan rencana pembentukan Dewan Kesenian Jombang ?

“Jogja punya gudeg, dagadu, dan lainnya. Jombang mengapa rumit menemukan, menjalankan dan mengembangkan temuan itu?. Ludruk di Jombang (sebagai Icon), bagaimana kehidupannya sekarang?,” kata dia.

Kemudian Fathurrohman, menambahkan, setuju dengan ide pasar seni Ringin Contong secara rutun. Perlu dikoordinasikan dengan instansi pemerintah daerah dan tidak berhenti pada gagasan semata.

Dari perwakilan Parbupora Kabupaten Jombang, Nasrulloh Illahi ikut urun rembug dan menguraikan beberapa program yang dilakukan Parbupora. Bisakah pasar malam alun-alun, Kebonrojo dijadikan icon yang bernilai ekonomis dan tempat mengembangkan seni dan budaya?

Gagasan tentang Dewan Kesenian Jombang telah beberapa kali dilakukan, melalui musyawarah besar seniman Jombang, dilanjutkan dengan tim perumus, merancang program pengembangan seni dan budaya Jombang. Kenapa terhenti?”

Cak Nas, panggilan akrab Nasrulloh menambahkan, agar pasar seni Ringin Contong perlu disponsori pihak ketiga dan Parbupora, terutama fasilitas pentas kesenian. Perlu formulasi yang efektif dan efisien, serta perlu pendekatan yang saling menguntungkan.

Jabar Abdullah dari komunitas Lembahpring, menanyakan kenapa seni budaya selalu terbentur dana. Bagaimana implementasi dan distribusinya sehingga seni jaranan Cak Kandar dan Cak Slamet, tidak pernah dibantu oleh pemerintah sampai hari ini.

Pembicara kunci sarasehan Drs Arif Rofiq Msi dari Taman Budaya Jatim (TBJ) menjelaskan, menggasas festival seni-budaya, gampang di gagasan, susah implementasinya. Perlu diperkuat dukungan dari bawah, tidak bisa berharap banyak dari atas (pemerintah).

Suatu gagasan penting di prosesnya. Tidak perlu berharap instan dan langsung jadi. Banyak pengalaman event organizer (EO) festival seni-budaya, jatuh bangun ketika mewujudkan gagasan. Menurut Rofiq, gagasan yang spesifik dan perlu dilaksanakan oleh mereka yang memiliki bakat spesifik pula.

Perlu sinergi dukungan. Pemerintah memiliki fasilitas. Bagaimana yang lain dan ketika diintegrasikan bisa diwujudkan. “Kuncinya adalah kesamaan visi dab bertemu di misi. Diwujudkan atas dasar kejelasan berbagi peran. Karena masing-masing memiliki kemampuan menyediakan fasilitas berbeda,” kata dia.

Rofiq memberi contoh Jember Fashion Carnival (JFC). Meski muncul dari kota kecil, JFC menarik perhatian secara nasaional. Dan setiap tahun bisa menjadi pijakan mereka yang akan datang ke Jember.

Gagasan yang berorientasi proyek akan mudah gagal di tengah jalan seperti Kya-kya di Surabaya, karena pengaturan kepentingan tidak tuntas diawal. “Sistem untuk mewujudkan aksi dan menjaga keberlangsungannya perlu dirumuskan dan dijaga. Mereka yang terlibat harus konsisten. Demikian halnya dengan rencana Festival Seni Budaya Ringin Contong. (gim)

6 Responses

  1. seandainya festifal itu terealisasi akan memunculkan kantong-kantong seni yang sangat menggairahkan.

  2. Mudah-mudahan perjuangan dan gagasan untuk memunculkan ikon Jombang melalui seni & budaya dapat terwujud. Tidak mudah memang, perlu pengorbanan dan perjuangan yang tidak boleh berhenti…, salam dari negeri Jiran [bakul donat kampung di Jombang].

  3. Mudah-mudahan perjuangan dan gagasan untuk memunculkan ikon Jombang melalui seni & budaya dapat terwujud. Tidak mudah memang, perlu pengorbanan dan perjuangan yang tidak boleh berhenti…, salam dari negeri Jiran, [bakul donat kampung di Jombang].

  4. kapan festival teater remaja kali ini akan diadakan? tgl,bulan,tahun pelaksanaannya.

  5. sebelum mengadakan festival benahi dulu iklim perteateran di jombang.
    tolong rasakan bedanya sebelum dan sesudah KELBIN TERBANG TIADA.
    kalo q pribadi menyarankan guyubkan dulu teater yg ada dslruh jmbng
    jgn smpai ajang festival dijadikan ajang saling menghancurkan satu dgn yang lain.

  6. buka pintu lebar lebar dngn perteateran diwilayah lain,
    jangan angkuh dngn teatermu sendiri,
    jangankan ajang festival ajang porseni kmrin aja dijadikan ajang akal akalan,siapa yang “pinter”dialah……..
    saya rasa tali persaudaraan skrng smkn renggang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: