Sudiono, Perajin Sekaligus Dalang Wayang Krucil

Prihatin Wayang Hanya Sebagai Pajangan

Kesenian wayang kulit mulai dijauhi generasi muda. Apalagi wayang kayu yang biasa disebut wayang krucil. Mungkin hanya satu dua perajin wayang jenis ini. Salah satunya Sudiono, yang tinggal di Desa Garu, Kecamatan Baron. Sayang, pesanan datang bukan untuk dipentaskan. Namun untuk kerajinan pajangan.

AHYA ALIMUDDIN, Nganjuk

———-

Tangan pria separo baya itu cekatan mengukir kayu di hadapannya. Hanya berbekal pisau kecil, dalam sekejap mahkota Anoman itu sudah terbentuk. Itulah satu diantara sekian banyak tahapan pembuatan wayang kayu alias wayang krucil. Berbahan kayu mentaos, pembuatan satu wayang bisa memakan waktu hingga satu minggu.

“Tapi kalau wayangnya kecil cukup tiga sampai empat hari saja,” ujar Sudiono. Perajin itu dibantu dua asisten. Setiap hari, dia dan asistennya berkutat dengan kayu-kayu itu. Mulai memotong, mengukir, mengamplas hingga mengecat. Hanya saja, khusus mengukir, Sudiono sendiri yang melakukannya. “Lainnya tidak bisa (mengukir),” tutur pria yang sudah berusia setengah abad ini.

Bapak dua anak itu berkarier sejak 1977. Mendapat bakat turunan dari ayahnya, Sudiono mampu mengembangkan keterampilannya hingga mampu menghasilkan. Dalam sebulan, tak kurang 5 pesanan diterimanya. Rata-rata pemesan 1-2 wayang.

“Tapi kalau yang pesan dalang ya bisa sampai seratus buah, Mas,” ujar suami Musiani ini. Tapi pesanan sejenis itu sangat jarang. Seringkali, pesanan wayang diperuntukkan untuk pajangan. Harga wayang krucil itu berkisar Rp 1,5- Rp 2 juta, tergantung ukurannya.

Tidak hanya wayang kayu, pria yang pernah meraih juara dalam lomba dalang se-Jawa Timur itu juga mampu membuat wayang kulit. Bahkan mampu juga memainkannya. “Tapi pesanan yang banyak adalah wayang kayu,” ujar pria yang memakai nama panggung Sudiono Kuncoro Carito ini.

Menetap di desa kelahirannya, hasil karya Sudiono sudah merambah hingga ke luar negeri. Tepatnya di negara Paman Sam, Amerika. Tapi Sudiono prihatin karena hasil ciptaannya hanya menjadi pajangan. Padahal wayang-wayang tersebut akan lebih bermakna bila dimainkan.

“Saat ini wayang krucil sudah tidak banyak dikenal. Padahal ini bisa menjadi alat menggali kebudayaan adiluhung,” ujar pria yang juga dalang wayang krucil ini.

Berbeda dengan wayang kulit, lakon wayang krucil lebih beragam. Meliputi peristiwa-peristiwa kerajaan Jawa seperti Majapahit, Kadiri dan Demak. Ada juga yang berkisah tentang perjuangan kemerdekaan.

Kini, Sudiono memimpikan bisa menambah jumlah produksi. Tetapi niat tersebut terhalang dengan pengerjaan wayang yang masih manual.

“Saya berharap bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah. Saya ingin beli mesin pemotong kayu,” pungkas pria berkacamata itu. (dea)

Radar Kediri, Selasa, 22 Juli 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: