DIPATIK SARASEHAN SASTRA Beri Peluang Penyair Muda

Mojokerto – Surabaya Post Dunia kesenian, terutama sastra, berusaha dibangkitkan lagi di Mojokerto. Sebagai pematiknya, pekan lalu digelar pembacaan puisi yang melibatkan 16 penyair muda Kota Onde-onde. Dilanjutkan diskusi sastra dan bedah buku dengan pembicara Aslan Abidin (Makassar) dan sesepuh seniman Mojokerto, Hardjono WS.

Sarasehan Sastra yang digelar di Aula Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dispparbud) Kabupaten Mojokerto pekan lalu, kata salah seorang penitianya, Abdul Malik, berlangsung meriah dan dihadiri sekitar 50 seniman, baik dari Mojokerto dan Jombang.

Pembukaannya, kata Malik yang ditemui di Surabaya, Senin (21/7), diisi komunitas musik “Oyotmimang” pimpinan Saiful Bakri. Lagu-lagunya banyak bicara yentang lingkungan, nasionalisme dan kerakyatan yang menghibur. Di antaranya Pesta Panen, Gulagalugu, Kalimas, dan lainnya.

Hardjono yang juga Ketua Umum Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto (DKKM) mengatakan, buku kumpulan Antologi Aslan Bahaya Laten Malam Pengantin ini, termasuk sajak terang dan bukan puisi gelap hingga mudah dicerna dan ditangkap pembacanya.

Hardjono yang selama ini mengikuti sastra dari Makassar, merasa kagum pada I La Galigo sebagai karya sastra terpanjang di dunia dan telah dipentaskan dalam bentuk teater hingga keliling beberapa kota di Eropa, New York , Singapura, Jakarta oleh sutradara ternama Robert Wilson.

“Saking kagumnya, saya sampai menulis lagu yang judulnya juga I La Galigo dan saya tampilkan khusus untuk malam apresiasi sastra ini,” kata seniman serba bisa ini.

Sarasehan sastra semacam ini, tambah pria berambut putih ini, perlu diteruskan dan ditingkatkan. Dengan begitu, anak-anak muda yang potensial dan semangat menulis puisi, bisa saling saling bertukar pengalaman dan wawasan.

Saat itu, acara yang digelar DKKM dan Disparbud, juga memberi peluang

para penyair bergantian membaca puisi Aslan maupun karya sendiri. Aslan membaca karyanya Rajah di Antara Kedua Buah Dada, sebuah puisi yang dipersembahkan kepada Bapak Haji Muhammad Soeharto.

Mbak Ewid, asal Sulawesi Selatan, yang juga isteri Hardjono, membaca sajak Mangkawani. Karya ini bercerita tentang Dewi yang baik hati, lalu menghilang dan akan kembali lagi ketika keadaan membaik, semacam Mesias.

Suliadi, asal Gedeg, Mojokerto yang pernah memberi workshop kerajinan eceng gondok di Sulawesi dan Kamboja, tampil sederhana namun memukau lewat sajaknya sendiri, Kacang Tanam dan Walennae (Aslan Abidin). Disusul oleh penyair lainnya.

Kepala Disparbud Kabupaten Mojokerto, Ir Bunawi, Msi, mengatakan salu atas ajang seni yang digelar cukup meriah ini. “Saya berharap DKKM dan Disparbud dapat menjadi partner yang baik. Saya akan studi banding ke beberapa daerah untuk mengkaji dana operasional pembinaan dewan kesenian. Saya berharap. dengan yang kecil dapat menghasilkan yang besar,” katanya.

Wakil Ketua DKKM, Drs H Eko Edy Susanto, Msi, berharap sarasehan ini dapat membawa angin segar bagi seniman. Harapan lain, DKKM dapat mengusulkan ikon seninya. Dana operasional yang kini dari Rp 40 juta per tahun dapat ditingkatkan, mengingat beberapa daerah di Jatim sudah ada yang mencapai Rp 1 milyar per tahun. Seperti Kabupaten Sumenep, Blitar, dan Magetan.(gim)

Surabaya Post, | Selasa 22/07/2008 16:37:14 |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: