Surat Bantahan: "Mendobrak Konvensi Yesus dengan Amarah"

— On Mon, 7/14/08, noor ibrahim wrote:
From: noor ibrahim
Subject: Surat Bantahan: “Mendobrak Konvensi Yesus dengan Amarah”
To: redaksi@seputar- indonesia. com, marcomm@seputar- indonesia. com, sindojatim@gmail. com, adeksindo@gmail. com, “abdul malik” , freelancejourn@ yahoogroups. com, galnas@indosat. net.id, konsorsium_wartawan _kebudayaan@ yahoogroups. com, kwk@yahoogroups. com, media-jatim@ yahoogroups. com, pers-indonesia@ yahoogroups. com, wartawanindonesia@ yahoogroups. com, sosialisbingung@ yahoo.com, sekretariatnya_ aji@yahoo. com, sekretariat@ ajiindonesia. org

Date: Monday, July 14, 2008, 2:17 AM
Noor Ibrahim
Jl. Tropodo 1/ 253
Waru Sidoarjo
Telp. 08156870958
Email: noor_ibrahim77@ yahoo.com

Surabaya, 14 Juli 2008

Kepada Yth.
Pemimpin Redaksi Harian Seputar Indonesia
Sdr. Sururi Alfaruq
Menara Kebon Sirih Lt. 22,
Jalan Kebon Sirih Raya No. 17-19
Jakarta 10340
E-mail: redaksi@seputar- indonesia. com,
marcomm@seputar- indonesia. com

Dengan Hormat,

Berikut ini saya bermaksud meluruskan pemberitaan berjudul “Mendobrak Konvensi Patung Yesus dengan Amarah” di Harian Seputar Indonesia yang terbit di Jawa Timur, edisi Minggu, 13 Juli 2008..
Satu hal, dari pemberitaan yang telah diterbitkan itu, Sdr. Zaki Subaidi, wartawan Seputar Indonesia, telah salah menangkap banyak hal dari hasil wawancara yang saya berikan terkait tema tersebut. Akibatnya, isi berita “Mendobrak Konvensi Patung Yesus dengan Amarah” pada akhirnya sarat menyinggung SARA.

Perlu saya luruskan, bahwa “Amarah” yang dimaksud dalam judul tersebut, atau termasuk konten serupa yang terangkum di dalam isi berita, muncul dari kekecewaan saya terhadap karya-karya awal patung saya yang terlihat sama dengan karya pematung besar lainnya. Sebab karya-karya awal saya tersebut terlihat tidak jauh beda dengan karya-karya Picasso, Hennry Moor, Marino Marini dan lain sebagainya.

Atas kekecewaan itulah kemudian saya memukuli patung-patung karya saya tersebut hingga pesok. Namun dari pengalaman itu pada akhirnya saya menemukan bentuk karya patung saya yang khas sampai sekarang, yaitu penyok-penyok.

Bisa jadi pengalaman itu adalah sebuah proses penciptaan diri saya sebagai seniman sehingga menghasilkan bentuk yang pada akhirnya, menurut saya, yang penyok-penyok itu memiliki nilai seni bertekstur tinggi. Adapun karya-karya patung yang saya bikin penyok-penyok itu tidak melulu pada karya-karya Patung Yesus.

Dengan penejelasan itu sekaligus saya membantah telah menyatakan “Bahwa Patung Yesus yang ada selama ini kurang mewakili penderitaan Yesus dalam penyaliban di Bukit Golgota. (Dan) Karena itu patung Yesus saya buat penyok-penyok sebagai bentuk penderitaannya” , seperti yang dikutip dalam pemberitaan Seputar Indonesia.

Perlu saya luruskan pula bahwa karya saya, Patung Yesus “Inri”, bukan “Innri” sebagaimana ditulis Seputar Indonesia, tidak pernah berdiri di bukit Venesia. Terlebih tidak ada bukit di negeri Venesia. Yang benar, patung “Inri”, karya saya yang dalam pembuatannya turut diarsiteki oleh Sarjono Sani tersebut, berada di Gereja Katolik Regina Caeli, Pantai Indah Kapuk, Jakarta.

Adapun karya saya yang saya sertakan dalam Biennale Venesia tahun 2005 bukan “Inri”, melainkan “Go Higher” dan “Fosilize Behavior” yang keduanya bermaksud menceritakan tentang penderitaan orang Aceh yang ketika itu tertimpa bencana alam tsunami.

Lalu tentang karya saya yang berjudul “Pieta”, bukan menggambarkan tentang kemesrahan Yesus dengan Maria Magdalena seperti yang ditulis Seputar Indonesia. Patung “Pieta” yang selama ini diajarkan adalah gambaran kasih sayang ibu dan anak antara Yesus dan Bunda Maria. Memang, dalam wawancara dengan Sdr. Zaki Subaidi, saya sempat meberi analogi tentang ide inisiatif saya membuat Patung “Pieta” yang selama ini penuh kontroversi karena sebagian orang berpendapat bahwa patung ini adalah gambaran kasih sayang antara Yesus dan Maria Magdalena. Namun saya telah berpesan “Off The Record” dalam menceritakan kisah kontroversi itu untuk menghindari kontroversi yang lebih parah lagi.

Satu hal lagi, saya tidak pernah menyebutkan harga untuk keseluruhan masing-masing karya saya selama wawancara dengan Sdr. Zaki. Demikian akhirnya saya berharap bantahan saya ini bisa dimuat sebagai pemberitaan yang berimbang.

Hormat Saya,
Noor Ibrahim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: