"BAHAYA LATEN MALAM PENGANTIN" Tercabut dari Akar Daerahnya

Surabaya – Surabaya Post, Ajang sastra, berupa pembacaan sajak, peluncuran buku dan diskusi digelar Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) di Gedung eks Museum Mpu Tantular, Senin (14/7). Buku antologi puisi yang dibedah berjudul Bahaya Laten Malam Pengantin karya Aslan Abidin (Makassar) dan Surat Hening karya Herry Lamongan (Lamongan).
Dalam sesi diskusi, peserta yang berdatangan dari berbagai daerah, termasuk Madura, lebih banyak menyoroti karya-karya Aslan. Ada yang curiga, karena Aslan lebih banyak menghadirkan sosok feminimmisme atau wanita dalam karyanya. Ada yang mengatakan karya Aslan ini tidak membumi atau tercerabut dari akar ke-Bugis-sannya (Makassar).

Bahkan, menurut seorang pemerhati seni, Riadi Ngasiran, Aslan justru memasuki ranah Jawa. Misalnya dalam karyanya menyebut atau memunculkan kata “Tut Wuri Handayani” dan sosok Nawang Wulan yang justru kental di masyarakat Jawa.

Namun bagi Aslan, bahasa ungkap para penyair zaman sekarang, persoalannya, dinilainya sama. Mereka tidak banyak atau kental dengan bahasa ibu atau kedaerahannya. Menurut Aslan, karena perkembangan zaman dan kita sudah dijadikan satu “negara” oleh republik ini.

Apa yang kita serap saat ini, bukan lagi rasa Bugis, rasa Jawa dan lainnya tapi lebih ke rasa Indonesia. Kita bicara bahasa Indonesia, pendidikan juga ala Indonesia dan buku-buka yang kita baca juga dibaca olah masyarakat Indonesia.

“Kalau masa kecil saya, sejak usai dua tahun hingga sekolah SD, saya masih Menggunakan bahasa ibu. Tapi setelah sekolah SMP hingga perguruan tinggi, saya bergaul dengan berbagai masyarakat dan literature Indonesia. Saya kira itu persoalannya,” ujar penulis sajak Lakon Losari ini.

Ketika diminta bicara tentang proses kreatifnya, pria yang lagi keliling Jawa untuk meluncurkan antologi puisinya itu, mengaku tidak sengaja. Pria yang lahir di Soppeng, Makassar Mei 1972 ini, saat kecil senang membaca dan menulis.

“Namun karena ini bicara seni, maka tulisan itu juga saya buat indah. Seperti juga tulisan lainnya. Misalnya cerpen, novel maupun tulisan ilmiah lainnya,” jelas pria yang kini sedang menyelesaikan tugas akhir sebagai mahasiswa Sastra Pascasarjana di Universitas Gajah Mada (UGN) Jogjakarta.

Tentang kumpulan sajak Aslan ini, kata Anwar Jimpe Rachman dalam pengantarnya, awalnya berjudul Buah Dada Aslan namun tidak bertahan lama. Aslan kemudian menyodorkan judul lebih “menantang”, yakni Kelamin dari Timur yang merupakan plesetan Ayam Jantan dari Timur, gelar pahlawan nasional Sultan Hasanuddin.

“Sayangnya, meski disambut hangat, judul itu kami diubah lagi, lantaran beberapa masukan dari teman dekat. Akhirnya judul ditentukan, Bahaya Laten Malam Pengantin,” katanya.

Sementara Herry Lamongan yang saat itu membacakan empat sajaknya, ketika diminta bicara tentang proses kreatifnya, mengaku malu dan banyak yang sudah lupa.

Namun yang diingatnya, sejak kecil dia bercita-cita menjadi pelukis terkenal. Saat itu harga kanvas mahal dan tidak terjangkau, maka pria kelahiran Bondowoso Mei 1959 itu gagal menjadi pelukis. “Begitulah kira-kira,” ujar pria yang akrab dengan topi ini.

Gagal menjadi pelukis, Herry masih ingin menjadi seniman. Dia banyak menulis, banyak berkorespondensi atau sahabat pena. Dia juga membaca media yang saat itu, satu-satunya adalah Swadesi. Penulis yang masih diingatnya adalah Isbedy Setiawan dan Redi Panuju, saat masing-masing masih kuliah di Jogjakarta.

Mereka ini, kata seorang guru SD ini, kemudian disurati dan dijadikan guru dan diajak dialog. Dari ketelatennan itu, akhirnya membuahkan hasil dan nama Herry kini sangat dikenal. Karya Herry, kata seorang penggemar, berbeda dengan penyair Lamongan lainnya.(gim)

Surabaya Post, | Selasa 15/07/2008 – 12:08:19 |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: