Kesenian Ujung yang Mulai Terlupakan

Satu Permainan, Satu Pemain Dapat Upah Rp 10 Ribu

Kabupaten Mojokerto banyak menyimpan sejarah dan kesenian. Kesenian tersebut kebanyakan peninggalan Kerajaan Majapahit. Salah satunya adalah kesenian tarung yang bernama seni Ujung. Saat ini, Ujung sudah mulai terlupakan.

AIRLANGGA, Mojokerto

———————————————————————

SUASANA ramai sangat terasa di sepanjang jalan Desa Salen Kecamatan Bangsal Kabupaten Mojokerto. Di sisi kanan-kiri jalan desa selebar lima meter itu dipenuhi para penjual makanan. Di ujung jalan, terlihat banyak orang berkerumun sambil berteriak. Suara gendhing karawitan terdengar kencang saat mendekati sebuah rumah yang saat itu sedang melakukan hajatan sunat.

Ratusan warga berkumpul mengelilingi sebuah panggung berukuran 5×5 meter. ”Ayo gepuk, ojo loyo (ayo pukul, jangan lemas, Red.),” teriak seorang bapak yang mengenakan peci hitam dari bawah panggung berteriak menyemangati dua orang yang bertarung di atas panggung.

Dari atas panggung tampak dua lelaki bertubuh kekar saling berhadapan.dengan tatapan tajam, keduanya siap bertarung. Setelah seorang berpakaian hitam mengangkat tangan, keduanya saling melangkahkan kaki ke depan sambil mengangkat tangan yang memegang kayu rotan. Saat melangkah ke depan, keduanya berjoget mengikuti irama musik karawitan yang mengalun.

Salah seorang pemain pun memukul tepat mengenai punggung hingga mengeluarkan darah. Namun tidak terllihat rasa sakit. Kedua pemain saling tersenyum, bahkan sesekali tertawa sembari berjoget.

Setelah memukul, kini pemain tadi harus bersiap menangkis pukulan lawannya. Atraksi pukul memukul dilakukan secara bergantian. Kedua orang tersebut bukanlah akan bertinju, apalagi sedang melakukan atraksi pencak silat. Namun, keduanya sedang melakukan pertunjukkan seni ujung.

Dengan menggunakan kayu rotan, kedua lelaki tersebut saling memukul secara bergantian. Setelah terpukul ataupun memukul, kedua lelaki tersebut berjoget mengikuti irama lagu karawitan.

Selain kedua ”petarung” di atas panggung juga terdpat tiga lelaki berpakaian serba hitam. Ketiga lelaki ini biasa disebut sebagai kemlandang atau juri. Salah satu dari kemlandang membawa bakul (tempat nasi, Red) yang di dalamnya berisi beras kuning. Sedangkan dua lainnya melihat apakah terjadi pelanggaran atau tidak.

”Ayo beri semangat, tepuk tangannya,” ujar kemlandang kepada para penonton agar terus menyemangati para pemain sementara keduanya berjoget setelah saling memukul.

Kedua pria yang bertarung saling memukul lawannya secara bergantian. Tak jarang, dari mereka mengeluarkan darah. Namun hal tersbeut tidak mengurangi rasa bahagia atau pun menimbulkan rasa takut bagi pemainnya.

Setelah hampir tiga menit saling memukul, keduanya dipisahkan dan saling bersalaman tanpa adanya dendam. Saat di bawah panggung, tampak beberapa orang memberikan kulit pisang yang ditempelkan ke luka akibat terkena sabetan rotan. ”Ini gunanya untuk mempercepat sembuh luka,” ujar Akhmad, 34, salah seorang pemain. ”Pertama kena ya rasanya panas dan perih, tapi namanya juga kesenian, ya begini ini,”tambah Akhmad.

Setelah kedua pemain turun dari panggung, kedua pria lainnya kembali naik panggung. Kebanyakan para pemain adalah penonton pria. Bahkan diantara mereka ada pria yang sudah lanjut usia ataupun anak-anak. Tentu saja lawan mereka disesuaikan dengan umur.

”Kesenian ini bukanlah pertandingan, jadi tidak ada yang menang ataupun yang kalah,” ujar Sri Waluyo Widodo, 55, pemimpin Paguyuban Seni Ujung Moyang Mulia.

Menurutnya, kesenian adalah peninggalan zaman dahulu kala. Awalnya, kesenian peninggalan Majapahit ini merupakan suatu ritual yang bertujuan untuk meminta hujan pada Tuhan Yang Maha Esa. ”Tetapi karena perkembangan zaman, maka seni ujung dijadikan suatu kesenian yang perlu dilestarikan,” ujarnya sambil tersenyum.

Lebih lanjut, menurut Sri Waluyo Widodo, di dalam seni Ujung tidak ada unsur permusuhan ataupun unsur balas dendam. ”Seni ujung juga tidak ada yang kalah atau menang, ini hanya seni,” tambahnya.

Meski saling memukul, kesenian ini juga memiliki peraturan. ”Daerah badan yang boleh di-bonggol (dipukul, Red) hanyalah bagian badan saja, sedangkan bagian kepala, leher dan bagian di bawah badan tidak boleh dipukul,” ujarnya.

Kedua pemain juga mendapatkan upah yang diberikan setelah permainan. Satu kali permainan biasanya tiap pemain akan diberikan honor sebesar Rp 10 ribu. ”Honor tersebut akan ditambah hingga Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu jika keduanya sama baiknya,” jelasnya.

Sebelum melakukan kesenian ini, biasanya dilakukan ritual yang bertujuan untuk keselamatan. ”Sebelum dilakukan acara ujung, selalu diadakan bancakan (syukuran, Red.). Proses ini biasanya seperti semacam tumpengan tapi ada sandingannya yaitu makanan yang diletakkan di sisi tumpeng seperti pisang, kelapa dan beras,” jelasnya.

Sandingan yang dimaksud memiliki arti di setiap makanan yang disajikan. ”Gedang (Pisang, Red) berarti Ndhang-ndhang, maksudnya agar keinginan yang diharapkan segera tercapai. Beras berarti Wos , maksudnya adalah menghilangkan rasa waswas atau rasa takut. Sedangkan kelapa atau klopo artinya tidak terjadi apa-apa atau agar tidak ada sesuatu yang tidak diinginkan,” jelasnya.

Menurutnya, kesenian ujung saat ini memang terlupakan oleh generasi muda saat ini. ”Saat ini memang terlupakan, setahu saya hanya di Desa Salen yang ada paguyuban kesenian ujung,” katanya.

Paguyuban kesenian ujung yang dipimpinnya memang jarang melakukan pertunjukan. ”Dalam setahun paling hanya lima kali, itu juga kalau ada yang nanggap (menyewa, Red),” katanya.

Paguyuban yang dipimpin oleh Sri Waluyo Widodo memang paguyuban yang bertujuan untuk melestarikan kesenian ujung. Paguyuban bernama Moyang Wijaya ini sudah lama berdiri. ”Saya meneruskan tradisi ayah saya, sebelumnya yang mengurus paguyuban memang ayah saya,” katanya.

Kini, meski tanggapan sepi, tetapi paguyubannya memiliki anggota berjumlah 60 orang. ”Mereka selalu latihan di paguyuban secara rutin, latihannya seperti cara menangkis, membonggol (memukul, Red) yang benar,” katanya. (yr)

Radar Mojokerto, Senin, 14 Juli 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: