Wayang Beber Menuju Kepunahan

Gunung Kidul, Kompas – Regenerasi pedalangan di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, masih belum berjalan dengan optimal. Wayang beber yang merupakan seni tradisi khas dari Gunung Kidul mendekati kepunahan. Daerah ini hanya memiliki satu gulungan wayang beber yang sudah berumur ratusan tahun. Gulungan wayang dari kertas panil tersebut sudah sobek tanpa ada upaya pengadaan baru.

Hingga kini hanya ada satu sanggar pedalangan yang memberi pendidikan dalang bagi para generasi muda. Selain di sanggar, sebagian peminat wayang belajar melalui jalur kursus individual secara langsung ke setiap dalang. ”Anak-anak muda menjadi semakin jauh dari pengenalan seni tradisi wayang, penggemar masih didominasi orang tua-orang tua,” ujar guru dalang, Slamet Haryadi, Jumat (11/7).

Satu-satunya sanggar dalang di Gunung Kidul tersebut dibuka pertama kali pada tahun 1999. Minat masyarakat untuk mengenalkan seni pedalangan kepada generasi muda sebenarnya cukup tinggi. Saat ini sanggar asuhan Slamet sudah memiliki sembilan murid. Mereka berasal dari hampir seluruh kecamatan di Gunung Kidul dan berlatih secara rutin dua kali dalam satu pekan.

Jenis wayang di Gunung Kidul cukup beragam, mulai dari wayang kulit gaya Surakarta, wayang kulit Yogyakarta, hingga wayang beber. Sayangnya, gambar wayang di gulungan wayang beber sudah aus dan tak layak lagi ditampilkan dalam pementasan. Tanpa gulungan tersebut, regenerasi dalang wayang beber juga terhambat. Di Gunung Kidul saat ini hanya Slamet yang bisa mendalang wayang beber.

Slamet mengaku sudah menyiapkan seorang bocah untuk menjadi dalang wayang beber. Namun, upaya tersebut tetap terkendala oleh tidak adanya gulungan wayang beber yang representatif. Selain sudah tua, satu-satunya gulungan wayang beber tersebut juga dikeramatkan sehingga tidak bisa sembarangan dibuka, apalagi untuk latihan.

Pendidikan dalang bagi generasi muda belum berorientasi mencetak dalang profesional. Namun, lebih pada pengenalan serta pelestarian budaya. Beberapa siswa dalang dari Gunung Kidul sudah meraih juara di berbagai pementasan, seperti juara terbaik se-Jawa. ”Kapan pun ada siswa yang mendaftar pasti diterima. Regenerasi dalang masih sangat kurang,” lanjut Slamet.

Untuk mendongkrak minat generasi muda terhadap seni wayang, Kepala Desa Wiladeg, Karangmojo, Sukoco sengaja memfasilitasi pementasan dalang cilik pada pagelaran rakyat, seperti bersih desa. ”Kami berupaya terus mengeksplorasi budaya yang berkembang di masyarakat, sekaligus melestarikannya,” ujar Sukoco. (WKM)

Kompas, Sabtu, 12 Juli 2008 | 01:01 WIB

NB: Tulisan ini saya posting karena slama ini ada anggapan bahwa Wayang Beber hanya ada dan khas Pacitan. (henri nc)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: