Joni Ramlan dan Idealisme Dunia Lukisnya

Idealisme? Ah, Preketek…

Joni Ramlan adalah satu-satunya pelukis yang karyanya termasuk dalam 36 finalis karya seni Indonesian Art Award 2008. Prestasi itu diumumkan pada 7 Juli. Untuk masuk final, Joni menyisihkan 3.200 karya seni. Di antara 3.200 kontestan itu, 2.900 adalah lukisan.

———-

Apa lukisan yang ideal menurut Anda?

Lukisan yang ideal adalah lukisan yang dianggap baik oleh perupanya. Lukisan tersebut sudah memenuhi ide-ide dan keinginan perupa dan sudah dianggap tepat, komposisi, teknik, dan sebagainya.

Anda termasuk pelukis yang idealis?

Saya tidak tahu bagaimana mengatakannya. Tapi, idealisme saat ini sudah dianggap barang lama. Perupa sekarang, kalau dengar idealis, ah preketek (ungkapan cemooh untuk sesuatu yang tidak penting, Red). Jadi, banyak yang mulai menganggap idealisme itu seperti sesuatu yang dibuat-buat. Bagi saya, yang paling penting berkarya dan saya anggap karya itu ideal.

Apa aliran lukisan Anda?

Saya tidak mau terkotak pada aliran tertentu. Era lukisan saat ini adalah era lukisan yang tidak beraliran. Aliran akan mengotak-ngotakkan seorang perupa hingga membuat mereka seperti terbatas kreativitasnya.

Bukankah aliran itu menjadi spesialisasi pelukis?

Bisa jadi. Tapi, saya cenderung tidak memilih untuk beraliran. Yang jelas, dunia seni sangat memberikan keleluasaan kita untuk berekspresi baik secara teknik, ide-ide, maupun pemikiran. Itu bisa terungkap secara visual. Maka, sah-sah saja tiap perupa memiliki cara pandang sendiri dalam berkesenian.

Saya cenderung menganggap saat ini era lintas aliran. Yang penting adalah ide. Apa pun aliran kita itu tidak jadi soal.

Bagaimana ide Anda dalam bahasa visual?

Banyak cara dan variasi yang bisa dilakukan. Yang jelas, saya ingin selalu berbeda dan kreatif dalam membuat sebuah lukisan. Jangan sampai apa yang saya lakukan sudah pernah dilakukan seniman lain.

Paling tidak, kesenian hendaknya memiliki komitmen sosial agar ia memiliki peran dalam kehidupan. Karena pada dasarnya bidang apa pun yang kita geluti, tujuannya adalah mengabdi kepada masyarakat. Maka, dalam setiap karya, saya selalu berusaha dekat dengan masyarakat.

Apa pertimbangan Anda dalam melukis?

Kadang dalam melukis, seorang seniman tidak perlu banyak pertimbangan. Mengalir saja. Sebab, kebebasan dalam berkarya adalah keindahan itu sendiri.

Anda mengkhususkan pada satu tema tertentu?

Keinginan untuk mengambil tema tersebut sih tidak. Tapi, memang beberapa tahun belakangan ini saya sering melukis isu-isu peradaban dalam sebuah kota.

Kenapa?

Sebab, kota itu selalu menarik perhatian orang. Kota itu seperti magnet yang menarik banyak orang dari berbagai desa untuk mendatanginya. Banyak orang menganggap kota itu sebagai simbol kesuksesan. Orang dianggap belum berhasil apabila belum sukses di kota.

Lukisan berjudul Jakarta Memang Manis, misalnya (lukisan tersebut adalah satu-satunya lukisan yang masuk dalam Indonesia Art Award 2008). Saya menggambarkan Kota Jakarta tidak melulu Monas, tidak melulu macet, tidak melulu simbol-simbol, yang itu sudah terlalu banyak dipakai. Saya justru melihat Jakarta dari jarak sangat jauh. Seperti kita melihat peta. Saya gambarkan wilayah Jakarta seluruhnya dengan warna merah.

Bagaimana Anda memaknai lukisan tersebut?

Saya lukis Jakarta dengan warna merah manis. Itu ibarat peribahasa ada gula ada semut. Gula yang sangat manis mampu menyihir banyak orang untuk terus datang berebut. Jakarta atau kota pada umumnya sering dianggap sebagai ukuran sukses seseorang.

Apakah hanya perkotaan yang Anda lukis?

Tidak, justru itu saya tidak ingin terkotak-kotak. Saya memang melukiskan bagaimana orang-orang memadati kota-kota, namun saya juga lukiskan akibat dari semua itu. Misalnya, saya gambarkan desa-desa yang mulai kekurangan orang karena semua pergi ke kota. Saya lukiskan itu untuk menggambarkan akibat yang timbul dari gejala yang saya gambar di perkotaan.

Dunia seni mengenal dua kutub. Yakni, kutub populer yang mengikuti selera pasar dan kutub idealisme. Di mana Anda memosisikan diri Anda?

Saya akui, saat ini dunia seni lukis sedang booming. Semakin banyak orang yang mencintai lukisan. Itu memang sangat menguntungkan kami sebagai perupa. Permintaan masyarakat tak selalu bisa dituruti. Meresponsnya mungkin iya, dalam hal wacana masyarakat yang saat ini berkembang apa.

Tapi, kalau hanya menuruti keinginan masyarakat, janganlah. Itu membuat pelukis tidak punya ide-ide sendiri. Dia hanya membuat lukisan agar bisa dijual dan dapat pemasukan.

Dalam sebulan, berapa banyak lukisan yang bisa Anda buat?

Entahlah. Saya tidak tahu pasti. Bisa ada satu atau lebih lukisan. Bisa jadi malah tidak ada sama sekali. Aktivitas dalam sebulan itu tidak selalu melukis. Ada saat saya harus jalan-jalan untuk hunting dan diskusi mengenai tema yang akan saya lukis.

Saya justru tidak suka melihat lukisan dalam produktivitas tiap bulan seperti itu. Itu kan melihat lukisan dalam bingkai produksi. Seperti pabrik saja. Lukisan diciptakan tidak melihat waktu, tapi bagaimana ide-ide kita mampu tersalurkan, itu saja.

Apakah Anda selalu ingin memberi ciri khas tertentu dalam lukisan Anda?

Saya tidak terlalu suka untuk menunjukkan bahwa ini lho ciri khas karya saya. Saya tidak membuat ciri khas tersebut. Itu kan bisa membatasi. Orang akan tahu sendiri kok. Yang menilai dan memberi anggapan bahwa kita memiliki kekhasan tertentu itu orang lain. Saya cenderung membiarkan masyarakat memiliki penilaian sendiri.

Bagaimana Anda menilai diri Anda sendiri?

Saya selalu ingin menunjukkan bahwa seorang seniman itu tidak harus tua, berjenggot dengan rambut yang sudah memutih. Lalu, pakaiannya kumal dan cat berlepotan di mana-mana. Perupa tidak mesti seperti itu. Saya justru ingin memberi gambaran bahwa seorang pelukis tidak harus seperti itu. Seniman harus selalu berkembang dan berbeda.

Apabila tidak ada inspirasi, apa yang biasanya Anda lakukan?

Kalau sedang tidak melukis, saya biasanya membaca buku-buku mengenai hal-hal yang berbau visual. Kebetulan, saya memiliki perpustakaan pribadi. Paling tidak, itu menambah pengetahuan saya.

Selain itu?

Apabila sedang tidak melukis, saya biasanya memain-mainkan kuas begitu saja. Meski tidak melukis apa pun, saya ayun-ayunkan kuas itu. Ya, untuk melatih teknik melukis juga. (agung putu iskandar/dos)

Jawa Pos, Minggu, 13 Juli 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: