Djuari: Ujung adalah Uang dan Keberanian

Oleh : Agus Bing

Djuari, demikian pria 54 tahun ini biasa disapa, merupakan tokoh ujung yang cukup kondang, terutama di tempat asal tradisi ini: Mojokerto, Jawa Timur. Bapak 3 anak buah perkawinannya dengan Sufariyasih ini dikenal konsisten dalam menggeluti kesenian ujung. Ia tidak hanya menciptakan regenerasi, tapi juga berusaha memelihara tradisi yang semula hanya sebagai media mendatangkan hujan.

Tidak tanggung-tanggung, untuk merealisasikan hal ini Djuari sampai merelakan dua anaknya yang masih berusia 12 tahun terlibat dalam permainan ujung. Walaupun cukup riskan, tapi semua ini hanya semata-mata agar ada perwarisan kesenian ujung. “Coba sampean bayangkan, siapa lagi kalau tidak anak-anak yang akan meneruskan jejak saya. Tapi itu dahulu, sekarang anak saya sudah dewasa, Farid (33 tahun) dan Fajar (28 tahun) sudah jadi pemain yang hebat”.

Pada satu sisi, apa yang dikemukakan oleh Djuari bisa dipahami sebagai sebuah pengorbanan. Hal ini didorong rasa tanggung jawab karena ia menganggap ujung tidak sekedar warisan leluhur yang wajib diuri-uri. Tapi ujung juga bagian dari sarana yang berperan menghidupi keluarga maka keberadaannya harus tetap di jaga. “Saya dahulu juga gitu. Tapi entah mengapa saya merasa tidak pernah kesakitan, apalagi takut akibat pukulan rotan. Sebaliknya, saya merasa senang dan bangga bisa bermain ujung. Apalagi setiap main mendapatkan imbalan uang” demikian komentar Djuari sambil berupaya memberi pemahaman mengenai makna ujung bagi dirinya dan keluarganya.

Bagi Djuari, apa yang dilakukannya sebenarnya lebih pada persoalan tradisi keluarga. Ia pertama mengenal ujung juga dari bapaknya yang notabene tokoh ujung kesohor di zamannya, bernama Pak Bronto. Saat itu usianya juga baru 12 tahun dan masih duduk di bangku klas 5 Sekolah Dasar (SD). Dalam memberikan bimbingan bapaknya cukup keras. Yang diajarkan tidak saja soal pertarungan, tapi juga terkait cara membina kelompok agar tetap bersatu. Hal ini tidak lepas dari keberadaan tradisi ini, yang bagi keluarga Djuari telah dijadikan mata pencaharian. Bisa jadi, berangkat dari alasan inilah regenerasi diangap penting karena tidak semata-mata untuk pelestarian, tapi juga membangun rasa tanggungjawab (?).

Bagi Djuari, persoalan mempertahankan kelompok agar tetap utuh, merupakan upaya yang tidak bisa ditawar-tawar. Sebagai pimpinan ujung Desa Kedundung, Mojokerto, ia punya tanggung jawab terhadap nasib 20 orang anggotanya yang sebagian besar terhitung keluarga dekat. Maka, bilamana kelompoknya sedang ramai menerima job ia pun lantas berusaha membagi seluruh pendapatan secara adil. Dengan tidak berupaya merinci berapa besar pembangian yang diberikan untuk setiap anggota, tapi Djuari mengatakan secara jujur bahwa rata-rata ia menerima job berkisar Rp. 2 juta s/d 3 juta, untuk main mulai jam 15.00 hingga 17.00,- wib. Dengan hasil undangan main yang rata-rata datang pada bulan Mei sampai Juli ini Djuari menyatakan cukup menikmati walaupun hasilnya tidak seberapa.

Namun, lepas dari upaya pewarisan, sesungguhnya ada hal yang cukup menarik dari Djuari ini, yaitu keberaniannya dalam melakukan pertarungan. Walaupun sosoknya tidak besar (tingginya kurang dari 165), bahkan bisa dikatakan sebenarnya kurang idial sebagai pemain ujung yang identik dengan kekerasan, tapi dalam melakukan duel ia terhitung cukup punya nyali. Terbukti beberapa kali ia berhasil mengalahkan lawannya yang lebih besar, bahkan ada yang kehilangan telinga! Hal ini, praktis membuatnya kondang seantero jagad seni ujung. Sampai-sampai, ada peristiwa yang cukup dramatis, kira-kira sekitar tahun 80 an, kelopoknya pernah ditantang kelompok ujung Tulungagung. Tapi sebelum terjadi pertarungan kelompok Tulungagung sudah menyatakan menyerah. Ia tidak mengetahui secara pasti mengapa Tulungagung tidak berani, tapi yang jelas ia sudah menyiapkan rotan khusus untuk dijadikan alat pertarungan. Yaitu, rotan yang sudah direndam air cabe selama 4 hari, dan setelah itu di jemur. Menurutnya, cara ini digunakan tidak sekedar untuk melukai, tapi bisa menjadikan luka memborok dan bernah. “Tapi untungnya mereka (Tulunggagung) membatalkan niatnya untuk bertarung melawan kita” Kata Djuari bangga, tapi tidak menjelaskan alasan pembatalan tersebut.

Selain tantangan, tidak kalah seru adalah terkait pertarungan. Sebagai pemimpin ia tidak jarang mendaptkan hal-hal yang tidak dinginkan, misalnya diganggu para pemain ujung yang sengaja ingin bikin masalah. Mengahadapi hal seperti ini, ia selalu bersikap ngalah, dan berusaha mencari solosi dengan bermusyaarah. Tapi bila tidak ada jalan keluar maka ia akan melayani tantangan setiap orang yang akan bikin rusuh. Tidak jarang lawan yang ia hadapi lebih besar dan lebih memiliki tenaga. Tapi ia tidak gentar. “Bayangkan saja kalau rotan yang dipukulkan ke tubuh saya tepat mengenai sasaran, pasti akan menimbulkan luka dan berdarah. Tapi, bagi saya itu biasa karena sejak kecil saya sudah diajarai oleh oleh orang tua saya, termasuk sering puasa” Nampaknya, puasa inilah yang kemungkinan kunci dari kesuksesannya dalam menekuni kesenian ujung. Hingga membuatnya dikenal tidak hanya dalam lingkup Mojokerto, tapi juga kota-kota yang telah menjadi langanannya, seperti: Ponorogo, Kediri , Blitar, Sidoarjo Nganjuk, Surabaya dan Malang .

Berbicara mengenai job, yang paling sering diterima adalah untuk acara hajatan: pernikahan, khitanan atau ruwatan. Tapi adakalanya Djuari juga menerima job untuk memeriahkan kegiatan partai atau ulang tahun kota . Menurutnya, ujung sekarang berbeda dengan ujung dahulu. Kendati awalnya untuk ritual, tapi ujung kini berubah menjadi seni hiburan. Bisa jadi, karena unsur tarian dan musiklah yang menjadikan ujung, walaupun sarat dengan kekerasan, enak dilihat dan dinikmati. Para pemain ujung sambil tidak henti menari-nari diiringi seperangkat instrumen: gendang, seruling, gong, dan penerus, sambil terus berusaha berupaya menjatuhkan lawannya dengan cara memukul: punggung, paha, dada, lengan dan bahkan batok menggunakan rotan sepanjang 1,10 meter.

Bagi Djuari, ritual atau tidak yang penting ia bisa berekspresi melalui ujung. Ujung baginya ibarat: “Uang dan Keberanian”. Jadi, apapun yang terjadi dengan ujung, muaranya cuma satu yaitu untuk tujuan mendapatkan uang. Kendatipun seluruh badan penuh bilur-bilur berwarna merah darah, tapi inilah resiko yang harus diterima para pemain ujung. Tapi kalau hal ini dilakukan dengan sportif tidak soal. Tapi kalau dengan cara curang alias penting dapat duit, kelihatannya hal ini harus segera dicegah. Kalau tidak maka akan banyak menimbulkan keributan. Kata Djuari, setengah mengingatkan bahwa tidak jarang muncul perkelaian akibat tindakan kurang sportif. Kendati permainan sesungguhnya juga ada aturan mainnya. Tapi tetap saja ada yang berupaya menang denga jalan curang. Apakah kesembronoan ini lantaran setiap pemain ingin berusaha menjadi pemenang dan bisa mendapatkan bayaran? Mendengar pertanyaan ini pria yang keseharian bekerja sebagai tenaga keamanan di terminal Mojokerto, diam membisu, sepertinya sedang membayangkan sesuatu. Ah, seandainya saja ujung hanya difungsikan untuk memanggil hujan pasti ceritanya akan lain. Kemungkinan inilah pikiran yang tertanam dibenak Djuari, sang pendekar ujung dari Desa Kedundung, Mojokerto.

(Dimuat Majalah GONG edisi 101)

– Terima kasih Cak Malik yang sudah memposting naskah ini — (hn)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: