SUKA DUKA PESTA PENYAIR NUSANTARA 2008

Oleh : Jack Ponadi Efendi Santoso
Sekretaris Panitia Pelaksana Pesta Penyair Nusantara 2008 di Kediri Jawa Timur

Ketika hendak menulis naskah ini, diruang tamu di sebelah kursi saya, ada seekor cicak yang jatuh, maka istri saya loncat ke atas kursi karena takut dengan binatang cicak, yang kata orang-orang apabila ada seekor cicak yang jatuh di dekat saya, maka akan mendapat musibah. Namun dalam hati saya, saya merasa tertantang untuk segera menulis naskah ini yang berkaitan dengan pasca Pesta Penyair Nusantara 2008 yang digelar di Kediri Jawa Timur mulai tanggal 26 Juni 2008 sampai dengan tanggal 02 Juli 2008.

Jika naskah ini memang ditolak untuk dimuat di media massa, berarti klenik tentang jatuhnya cicak itu memang benar, tetapi bila naskah ini dimuat dimedia massa, berarti unen-unen tentang cicak itu adalah salah. Dan bila naskah ini dimuat, maka sekaligus mampu menjawab berbagai macam wacana dan prediksi yang berkembang di berbagai milis bila perhelatan akbar Pesta Penyair Nusantara 2008 di Kediri Jawa Timur tidak berjalan dengan sempurna.

Awal tahun 90-an tercatat suatu fenomena yang menarik, yakni munculnya kelompok-kelompok pegiat sastra di berbagai daerah di Indonesia yang menempatkan diri sebagai “sastra pinggiran” (pedalaman dan emperan), atau mengidentifisi diri dengan kota-kota kecil. Lahirnya berbagai komunitas sastra tersebut secara langsung maupun tidak langsung merupakan gejala penolakan terhadap pemusatan kesenian di kota-kota besar, seperti Jakarta dengan TIM dan Dewan Kseniannya. Kini aktifitas sastra bisa digelar di sembarang tempat, bahkan di rumah pedesaan atau pedusunan sekalipun. TIM dan DKJ-nya kini bukanlah satu-satunya sumber legitimasi kepenyairan Indonesia.

Kemudian, awal dari peta kesusastraan Nusantara terkini bermula dari gagasan, ide, pemikiran brilliant lewat penyair dari Medan, dengan mengambil tema Pesta Penyair Indonesia Sempena the 1st Medan International Poetry Gathering pada 25–28 Mei 2007. Dalam acara tersebut selain penyair Indonesia, teman-teman penyair dari Malaysia, Brunai Darussalam, Singapura, Thailand turut menyemarakkan. Di prakarsai oleh Laboratorium Sastra Medan sebagai pengendali acara tentunya menjadi awal gerakan kebudayaan & kesusastraan yang menancapkan tonggak peta kepenyairan di daerah-daerah, dan berarti sentral kepenyairan terkini tidak hanya terdapat di Jakarta, melainkan sudah merebak ke seluruh penjuru pelosok Nusantara.

Dr. Muklis Pa’Eni (Dirjen Nilai Budaya, Seni & Film Depbudpar RI) dalam kata sambutannya mengatakan bahwa ”Keberhasilan penyair dalam memperbaharui dan sekaligus memperbaiki fenomena kehidupan melalui karya-karya puisi (syair-syairnya) adalah teori penyemangatan dan penyiasatan terhadap tantangan kehidupan, … syair-syair yang mampu jatuh ke ruang terdalam perasaan penikmatnya akan berubah menjadi gunung kreatifitas atas badai inspirasi yang dapat di desakkan kemana saja, untuk menerjangi keterjalan perjuangan hidup yang riil”.

Kalau kita menengok ke belakang sejenak bahwa mayoritas pegiat sastra di berbagai daerah tersebut memiliki ciri yang sama, yakni lokal, bersifat nirlaba, dan merupakan usaha swadaya masyarakat, artinya kelahirannya dari inisiatif para pengarang sendiri, bukan dari pemerintah atau Dewan Kesenian. Jenis dan tempat kegiatan, teknik penggandaan dan distribusi penerbitan juga relatif berskala kecil dan sederhana. Kondisi demikian memberikan kesempatan yang luas bagi masyarakat banyak untuk berpartisipasi dalam kegiatan sastra, serta memungkinkan sastrawan lebih luas berkreasi. Sayangnya, justru karena keberadaan komunitas yang lokal dan sifatnya yang informal, aktifitas sastra tersebut kurang terdokumentasi dan perhatian dari pemerintah. Padahal fenomena ini sangat penting, karena menunjukkan dinamika bersastra secara riil, masih terpeliharanya kegairahan dan kebebasan berekspresi, serta tumbuhnya kesadaran masyarakat sastra memprakarsai pengembangan sastra melalui pendidikan informal.

Seperti teman-teman penyair di daerah, pada akhir April 2007, Dewan Kesenian Blitar Jawa Timur telah mengadakan “Festival Sastra Buruh”; Laboratorium Sastra Medan menggelar “Pesta Penyair Indonesia” (25–28 Mei 2007); Dewan Kesenian Kota Kediri (DK-3) Jatim menggelar “Festival Seni Kali Brantas” (7–15 Juli 2007); “Ode Kampung Jilid #2 mengadakan “Temu Komunitas Sastra se-Nusantara” pada 20–22 Juli 2007; dan mungkin masih banyak lagi aktivitas yang monumental digelar oleh kawan-kawan seniman, budayawan, dan sastrawan di daerah. Dalam pada itu sudah merupakan konsekuensi logis bahwa hasil keputusan Musyawarah Penyair Nusantara di Garuda Palace Hotel Medan Sumatera Utara pada 28 Mei 2007 untuk kita tindak lanjuti (follow up). Diantara keputusan Musyawarah Penyair di Medan antara lain sebagai berikut :

1. Nama acara tetap pertama penyair selanjutnya adalah Pesta Penyair Nusantara.
2. Di bawah nama acara tersebut dicantumkan “Sempena the 2nd Kediri Jatim International Poetry Gathering”.
3. Waktu penyelenggaraan acara adalah setiap setahun sekali; bulan Mei-Agustus.
4. Penyelenggaraan Pesta Penyair Nusantara Tahun 2008 adalah Kediri Jatim.
5. Struktur kepanitiaan terdapat dalam lampiran.

Untuk itulah maka, Pesta Penyair Nusantara 2008 di Kediri Jatim sebagai jembatan gerakan pemetakan kesusastraan Nusantara mencapai kesempurnaannya. Adapun tujuan pesta penyair nusantara 2008 di kediri ini adalah :
1. Sebagai forum silaturrohim dan komunikasi antara penyair se-Nusantara;
2. Sebagai ajang kompetisi Festival baca puisi se-Nusantara;
3. Sebagai wahana apresiasi penyair-penyair se-Nusantara;
4. Sebagai wadah pembentukan Komunitas dan pemetakan kesusastraan Nusantara;
5. Sebagai forum tertinggi dalam Musyawarah Penyair Nusantara;
6. Memperoleh gambaran yang terperinci dan akurat para pegiat sastra di Nusantara.

Manusia berencana, Tuhanlah yang menentukan. Tujuan mulia yang hendak diwujudkan oleh panitia pelaksana mengalami berbagai kendala dan hambatan. Akan tetapi, laksana “tak kayu janjang dikeping”, panitia dengan segenap daya upaya berusaha untuk menyelenggarakan pesta penyair nusantara 2008 sesuai dengan amanah yang diterima dalam Sempena the 1st Medan International Poetry Gathering.
Ketika musyawarah Pesta Penyair Nusantara 2007 yang diselenggarakan di Medan kemarin, telah menghasilkan keputusan, bila untuk Pesta Penyair Nusantara 2008 nanti yang menjadi tuan rumah adalah Kediri Propinsi Jawa Timur yang disaksikan oleh Dr Muklis Pa’eni (Dirjen Nilai Seni, Film dan Budaya Depbudpar RI), secara tidak langsung Depbudpar harus bertanggung jawab atas suksesnya Pesta Penyair Nusantara 2008 di Kediri ini, namun janji-jani yang dilontarkan oleh Dr. Muklis Pa’eni selaku Dirjen pada saat itu, ternyata hanya sekedar pemanis bibir saja. Atau bahasa gaulnya lips service only.
Belum lagi Ketua Panitia Pelaksana (Khoirul Anwar, SPd.I) setelah mengajukan proposal ke Dirjen pada bulan Juni 2007, mengalami musibah kecelakaan tabrakan sepeda motor di hutan Caruban Nganjuk Jawa Timur yang mengakibatkan kakinya patah selama 7 bulan tidak bisa jalan. Otomatis beliau tidak bisa mengontrol proposal yang sudah dimasukkan ke Dirjen tersebut.
Ketika di konfirmasi ke Dr. Muklis Pa’eni, pada bulan Januari 2008, ternyata beliau sudah tidak menjabat sebagai Dirjen Nilai Seni Film dan Budaya Depbudpar RI. Malah beliau menyarankan untuk mengkonfirmasi ke Dirjen yang baru yang dijabat oleh Cecep S. Parman. Namun ternyata proposal pengajuan Dana untuk Pesta Penyair Nusantara 2008 tidak diketahui keberadaannya. Sehingga Ibu Yosi (Staf Menteri Depbudpar RI) meminta agar Panitia Pelaksana Pesta Penyair Nusantara 2008 untuk segera memasukkan proposal yang baru. Demi merealisasikan acara ini, maka Panitia pun mencoba mengajukan proposal yang sesuai dengan saran ibu Yosi pada bulan Maret 2008.
Semenjak memasukkan proposal yang baru, sekretaris Pesta Penyair Nusantara 2008 sdr. Ponadi Efendi Santoso, SH dan didamping oleh Anggota Panitia Adhoc Sdri. Sarah Serena, SH.MH mencoba untuk menelusuri keberadaan proposal tersebut ke Dirjen secara langsung di jalan Merdeka Barat No. 7. Ketika ada di kantor Dirjen, kedua orang tersebut menemui sdri. Ibu Made (asisten Ibu Yosi). Beliau mengatakan bila proposal pesta Penyair Nusantara sudah di fax ke Staf TU menteri. Maka kedua orang itupun juga menemui Staf TU Menteri (Ibu Sumartini), dan menanyakan tentang tanggapan proposal yang dimaksud. Namun jawaban yang diterima tidak memuaskan. Selalu dilempar ke sana kemari.
Waktu terus berjalan, acara Pesta Penyair Nusantara 2008 sudah mendekati hari H. Dana belum ada yang masuk ke Panitia Pelaksana. Akhirnya seluruh Panitia spekulasi dengan “dana ghaib” yang disiasati dengan pembayaran uang untuk antologi dan biaya untuk mengikuti seminar Internasional sebesar Rp. 150.000,- dengan mendapat fasilitas : Kaos, sertifikat, blocknote, penginapan, konsumsi selama Pesta Penyair Nusantara berlangsung, dan tentunya dengan antologi puisi.
Kondisi keuangan yang tidak mendukung tersebut menyebabkan panitia terpaksa membatalkan para pembicara yang seharusnya berbicara dalam Seminar Internasional Pesta Penyair Nusantara 2008 karena tidak sanggup untuk memfasilitasi pembicara penggantian uang transportasi dan jasa pembicara. Rencana untuk mengadakan acara di hutan cakarsi, tosaren juga tidak dapat terlaksana, karena dana untuk membangun area tersebut tidak ada. Konsep awal peserta yang diinapkan dirumah kampung juga berubah karena Walikota Kediri, yakni Bpk. M. Maschut menginginkan agar para peserta menginap di wisma balai latihan dan penempatan Dinas Pendidikan Kota Kediri. Acaranya pun juga berubah lokasi, yang tadinya hendak diadakan di area hutan cakarsi menjadi di Universitas Kadiri (UNIK). Konsumsi untuk peserta pun juga seringkali datang terlambat karena menunggu dana turun dari donatur penduduk sekitar cakarsi, tosaren yang menyumbang untuk acara ini. Namun demikian, kehadiran para penyair seperti Ustadz Zawawi Imron, Diah Hadaning, Ibrahim Gaffar, Ahmadun Yosi Herfanda, Viddy AD Daery, Suyitno Ethex, Ibrahim Gaffar, Murdhock, Herman Rante, Anil Hukmah, Khamim Kohari, Petrus, Endang Sulistyowati, Daeng JB Kelana, Saiful Bakri, Fahruddin Nasrulloh, Subandrio(Yoyok), Bagus Putu Parto, Kuspriyanto Namma, Chamim Kohari, mampu menghapuskan rasa kecewa para peserta penyair nusantara 2008. Mereka banyak memperoleh ilmu yang jarang didapat dari pertemuan-pertemuan sebelumnya.
Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Tanggal 26 Juni 2008, acara Pesta Penyair Nusantara 2008 dibuka, tanggal 28 Juni 2008 Surat Jawaban resmi dari Dirjen atas proposal permohonan Dana tiba di sekretariat Pesta Penyair Nusantara di Padepokan Ki Ageng Mulang Sara’ jl. Kapten Tendean lingk. Cakarwesi Kelurahan Tosaren Kec. Pesantren Kota Kediri, diterima oleh Sekretaris. Ternyata surat jawaban resmi dari Dirjen itu mengecewakan, hanya ucapan terima kasih karena telah menyelenggarakan acara Pesta Penyair Nusantara 2008 dan tidak ada sumbangan dana sepeserpun dari Dirjen. Hal ini tidak menyurutkan semangat Panitia. Meski banyak omongan-omongan sumbang dari banyak orang, tapi Panitia tidak bergeming sama sekali. Acara Pesta Penyair Nusantara 2008 tetap berlangsung dengan sangat sederhana. Dan itupun tak menyurutkan para narasumber yang datang di acara pesta penyair tersebut. Diantara narasumber yang hadir pada waktu itu adalah : KH. D. Zawawi Imron dari Madura Jawa Timur, Ahmadun Yosi Herfanda dari Jakarta, Diah Hadaning dari Bogor, Dr. Dato Kemala dari Malaysia, Dr. Ibrahim Gaffar dari Malaysia, Dr. SM. Zakir dari Malaysia, Korri Layun Rampan (Balikpapan- makalahnya dipresentasikan oleh Santinet). Sehingga seminar acara Pesta Penyair Nusantara 2008 ini tetap meriah yang ditempatkan di Universitas Kadiri (UNIK) yang dibantu oleh dosen Universitas Kadiri, Subardi Agan ini tetap berjalan.
Memasuki hari terakhir pada tanggal 2 Juli 2008, bertempat di Universitas Kadiri, acara seminar membahas mengenai proses kreatif dalam kesusatraan melayu, pembicaranya Samsudin Otham, Ibrahim Gaffar, Saleh Rahamad, SM. Zakir dari Malaysia. Serta Santinet yang mewakili Korri Layun Rampan dari Indonesia dengan Moderator Viddi Ad Daery dari Indonesia. Acara kemudian dilanjutkan dengan Musyawarah Penyair Nusantara yang di pimpin oleh Drs. H. Ahmadun Yosi Herfanda dengan anggota panelis : Viddi Ad Daery, Dinullah Rayes, SM. Zakir, Sarah Serena, SH.MH, dan Khoirul Anwar yang menghasilkan keputusan sebagai berikut dibawah ini :

KEPUTUSAN
HASIL MUSYAWARAH PENYAIR NUSANTARA
Kediri, 2 Juli 2008

1. Nama acara tetap Pesta Penyair Nusantara
2. Dibawah nama Pesta Penyair Nusantara tetap dicantumkan :
3. Sempena, The 3rd ……International Poetry Gathering
4. Waktu penyelenggaraan acara tetap setahun sekali, antara bulan Mei hingga Agustus
5. Tempat penyelenggaraan Pesta Penyair Nusantara 2009 : Kuala Lumpur, Malaysia
6. Struktur nama kepanitiaan tidak lagi Tim Adviser, Panitia Adhoc, Dan Panitia Pelaksana, tetapi berubah menjadi Dewan Penasehat, Panitia Pengarah dan Panitia Pelaksana
7. Nama-nama yang bertanggung jawab dalam kepanitiaan penyelenggaraan Pesta Penyair Nusantara 2009 :

Dewan Penasehat :
1. Direktur Kesenian Depbudpar RI
2. Kepala Pusat Bahasa Depdiknas RI
3. Gubenur/Pejabat Daerah yang berwenang setempat
4. Ketua DPR Daerah Setempat/Pejabat yang berwenang setempat
5. Kepala Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Daerah Setempat/Pejabat yang berwenang

Panitia Pengarah :
1. Ahmadun Yosi Herfanda ( Jakarta-Indonesia)
2. Afrion (Medan-Indonesia)
3. Dinnullah Rayes (Sumbawa-Indonesia)
4. Diah Hadaning (Bogor-Indonesia)
5. Fakhrunnas MA Jabbar (Riau Pekan Baru-Indonesia)
6. Idris Pasaribu (Medan-Indonesia)
7. Dr. Ibrahim Gaffar (Malaysia)
8. Prof. Dr. Bahazen (Malaysia)
9. Khoirul Anwar (Kediri-Indonesia)
10. Moh. Saleh Rahamad (Malaysia)
11. Korrie Layun Rampan (Balikpapan-Indonesia)
12. SM. Zakir (Malaysia)
13. Subardi Agan (Kediri-Indonesia)
14. Viddy AD Daery (Lamongan-Indonesia)
15. Zeffri Arif (Brunei Darrussalam)
16. Ustadz Zawawi Imron (Madura-Indonesia)
17. Sarah Serena (Mojokerto-Indonesia)

Panitia Pelaksana :
Ketua Panitia Pelaksana : Encik SM. Zakir
Kepanitiaan Penyelenggaraan Pesta Penyair Nusantara 2009 berakhir tahun 2009

Ditetapkan
Di
Universitas Kediri, 02 Juli 2008
Kediri, Jawa Timur

Pimpinan Sidang

Ahmadun Yosi Herfanda
Viddy AD Daery
SM. Zakir
Dinnulah Rayes
Sarah Serena
Khoirul Anwar

Keputusan penyelenggaraan pesta penyair nusantara selanjutnya di Malaysia, didasarkan atas kesepakatan pada Pesta Penyair Nusantara sebelumnya di Medan. Dimana ketika itu disepakati bahwa penyelenggaran pesta penyair akan dua kali diadakan di Indonesia, sekali diadakan di negara luar Indonesia. Oleh karena saat ini yang hadir hanyalah perwakilan dari Malaysia, maka merekalah yang mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah Pesta Penyair Nusantara 2009. Namun demikian, Balikpapan yang dalam hal ini diwakili oleh Santinet, asisten dari Korrie Layun Rampan, juga telah menyatakan bila Balikpapan siap untuk menjadi tuan rumah Pesta Penyair Nusantara 2010.
Pesta Penyair Nusantara pada hakekatnya merupakan wadah untuk mempertemukan para penyair nusantara yang belum terakomodir dalam Pertemuan Sastrawan Nusantara. Hal ini dikarenakan Pertemuan Sastrawan Nusantara lebih bersifat tertutup, sehingga orang yang hadir dalam Pertemuan tersebut hanyalah orang orang tertentu saja. Akan tetapi lain halnya dengan Pesta Penyair Nusantara. Pesta ini lebih bersifat terbuka. Sehingga setiap tahunnya terlihat wajah-wajah baru yang bergabung dalam acara ini. Justru uniknya, peserta yang hadir dalam Pesta Penyair Nusantara di Medan sebelumnya banyak yang tidak hadir karena terkendala oleh dana transportasi. Wajah wajah baru ini menunjukkan betapa semaraknya dunia penyair Indonesia. Bahkan pesta penyair ini sendiri merupakan ajang pertemuan antara penyair senior dengan penyair junior yang selama ini jarang berkomunikasi karena alasan perbedaan cara pandang dalam membangun upaya perkembangan dunia puisi di daerahnya.
Pesta Penyair Nusantara ini juga menggalang persahabatan para penyair lintas propinsi maupun lintas negara. Tak jarang banyak penyair yang saling bertukar informasi mengenai kegiatan yang akan diadakan di daerah masing-masing. Disamping itu juga banyak penyair senior yang memberikan petuah kepada para penyair junior tentang cara mempertahankan eksistensi diri dalam dunia puisi. Seperti hal yang dilakukan oleh Ustadz Zawawi Imron dari Madura kepada Daeng JB. Maulana dari Jakarta, Asep Sutajaya dari Bandung, Ali Rahman dari Madura, Syarif Bae dari Ende, Flores, serta Apito Lahire dari Tegal. Mereka juga mengadakan diskusi sastra kecil diluar forum yang memperat tali persahabatan antara sesama penyair.
Satu hal yang berbeda dengan Pesta Penyair Nusantara sebelumnya yang cenderung individualis. Bahkan sebagai bukti persahabatan antar sesama penyair, Asep Sutajaya dari Bandung memberikan kenang-kenangan berupa baju kepada Jack “Ponadi” Efendi dari Mojokerto, juga demikian pula sebaliknya. Pemberian cindera mata tanda persahabatan tersebut juga dilakukan oleh Darwis dari Balikpapan, kepada Khoirul Anwar sebagai Ketua Pelaksana dari Kediri ketika acara dialog Mbah Benjo di Doho TV, yang notabene merupakan TV Lokal Kediri, pada tanggal 1 Juli 2008 pukul 22.00 WIB.
Inilah tujuan dari Pesta Penyair Nusantara 2008, mempertemukan para penyair dari lintas propinsi dan Lintas Negara, dengan segala keterbatasan yang ada membangun nuansa persaudaraan, membongkar paradigma para dunia penyair hanya untuk “sekelompok orang”. Anjing menggonggong, kafilah berlalu, biarpun sejuta hujatan, celaan, hinaan, makian, cemoohan, hingga fitnah yang tak beriba, namun faktanya Pesta Penyair Nusantara 2008 telah berlangsung dengan segala keterbatasan yang ada.

Sampai jumpa di Kuala Lumpur Malaysia.

Informasi:
Jack Ponadi Efendi Santoso

3 Responses

  1. maaf sebelumnya mas, ketika saya, asep dan kawan dari pekan baru berangkat meninggalkan kediri ngak sepat pamit dengan mas Ponadi, salam buat mbak sarah, semoga integritas dan loyalitasnya dalam dunia kesenian berbuah bahagia…, mas… kami peserta sebenarnya ngak kecewa, hanya saja kami berharap panitia lebih terbuka atas kesusahan yang di alami, jadi dari awal kegiatan peserta sudah mengerti hal yang sebenarnya. yah sudahlah… yang lalu biarlah berlalu… lembaran baru mesti kita ukir…, seperti motto saya berangkat ke pesta penyair ini adalah “KEMBALI KE DIRI”. sebagai penyair dan calon penyair semestinyalah mengerti diri mereka sebelum mengerti diri yang lebih luas (Masyarakat, bangsa dan negara). selanjutnya siapa yang pernah menyangka kita pernah bertemu, bercanda dan tertawa. ah.. kenangan selamanya selalu manis di ingat. oh ya mas.., mbak sarah itu butuh perhatian lebih.., terkadang penyair lebih romantis pada dirinya sendiri namun pada istriya tidak dapat berbuat begitu. ah kengan yang tak pernah ku lupa.. tertawa di malam buta, saat bus yang mulanya mengangkut peserta meninggalkan kita berempat. akhirnya hampir dua jam lebih kita tertawa dan menyaksikan monolog asep yang sedang kasmaran pada icha…, ah.. terlampau silit untuk kita lupakan. salam manis rekan dari medan.. Ali RAhman Kaban.

  2. niat ada nak datang ke kediri, apalagi sebelumnya tuang choirul anwar dah sempat pula bertandang ke rumahitam di batam. saya merasa malu tidak bisa hadir di kediri, padahal saya diundang juga sama tuan choirul anwar yang mulia itu. saya penggiat seni yang juga giat menggelar kegiatan seni, pad setiap kali kegiatan, ada saja cela yang disebut-sebut, itu konsekuensi. saya salaut kediri sudah berbuat, tak perlu risau dengan pendapat orang, ambillah sarinya.
    salam, tarmizi rumahitam, batam

  3. niat ada nak datang ke kediri, apalagi sebelumnya tuan choirul anwar dah sempat pula bertandang ke rumahitam di batam. saya merasa malu tidak bisa hadir di kediri, padahal saya diundang juga sama tuan choirul anwar yang mulia itu. saya penggiat seni yang juga giat menggelar kegiatan seni, pada setiap kali kegiatan, ada saja cela yang disebut-sebut, itu konsekuensi. saya salaut kediri sudah berbuat, tak perlu risau dengan pendapat orang, ambillah sarinya.
    salam, tarmizi rumahitam, batam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: