Pringgo Jati Rahmanu, Dalang Cilik Asal Sidoarjo

Awalnya Tak Tertarik, setelah Kenal Akhirnya Ketagihan

Buah jatuh takkan jauh dari pohonnya. Seniman biasanya melahirkan seniman. Itulah ”takdir” Pringgo Jati Rahmanu, 13, yang dikenal sebagai dalang cilik. Pada tubuh anak kedua dari tiga bersaudara itu mengalir darah seniman. Ayahanda Pringgo, Subyantoro, 43, dan ibunya, Sri Mulyani, 33, juga seniman.

NUNGKI KARTIKA SARI, Sidoarjo

———-

Lingkungan ikut membentuk seseorang. Rumah tiga lantai di Perumahan Bluru Permai, yang juga berfungsi sebagai sanggar seni itu ikut membentuk karakter Pringgo Jati Rahmanu.

Kata Subyantoro, selama ini dia tidak mengarahkan anak-anaknya untuk menjadi seniman. Bahkan, Pringgo sama sekali tak menunjukkan ketertarikannya ke dunia seni yang ditekuni ayah-ibunya.

Namun, satu tahun terakhir, tepatnya awal Januari 2007, tiba-tiba Pringgo minta diajari melakonkan tokoh pewayangan.

Toro, panggilan Subyiantoro, tak kuasa menolak rengekan anak keduanya itu. Akhirnya, dia turun tangan mengajari putranya itu menjadi dalang.

“Melihat ayah (latihan mendalang, Red) setiap hari, kok lama-lama jadi kepingin nyoba,” tutur Pringgo.

Ternyata, bakat Pringgo tidak mengecewakan. Dalam tempo tak berapa lama, dia sudah berani tampil di depan umum. Bahkan, Pringgo akan menampilkan kebolehannya pada festival dalang cilik se-Jawa Timur di Taman Budaya Surabaya pada 2-3 Juli 2008 mendatang.

Toro mengaku tidak pernah memaksa Pringgo menjadi seperti apa yang dia inginkan. Sebab, dia ingin Pringgo tumbuh menjadi dirinya sendiri. “Kalau dia minta diajari sekarang, ya sekarang,” lanjutnya.

Sejak usia enam tahun, Pringgo sudah dikenalkan dengan dunia seni. Dia mengenal dunia seni dari ayah dan ibunya. Melihat Sri berlatih menari dan Toro menabuh gamelan, bukan hal asing bagi Pringgo. Sebab, bocah 13 tahun itu hampir setiap hari melihat orang tuanya beraktivitas seni di rumah.

Beberapa kali dia tampil di panggung bersama komunitas gamelan yang dibentuk Toro lebih dari 10 tahun. Siswa Toro sebagian besar memang berusia di bawah 15 tahun. “Pas, kalau dikompilasi dengan Pringgo,” tutur Pria asal Jember itu.

Setelah mengenal seni dalang, kini Pringgo ketagihan untuk mendalang. Setiap hari dia meluangkan waktu satu jam sebelum berangkat sekolah untuk latihan di rumahnya. “Kalau satu hari enggak pegang wayang, rasanya nggak enak,” tutur bocah berambut lurus itu.

Tidak ada masalah bagi Pringgo dalam membagi waktu antara belajar, bermain, dan berlatih mendalang. Untuk bermain, dia lebih suka mengisi waktu luang untuk membaca komik dan main game. “Kalau libur, suka main badminton,” ujarnya.

Dalam mempelajari naskah wayang, Pringgo biasanya membacanya, lalu mengimprovisasinya sendiri. “Sama saja, kayak baca buku pelajaran sekolah,” tutur siswa SMP Negeri 5 Sidoarjo itu.

Sempat beberapa kali dia salah menyebut tokoh. Pringgo juga sempat kesusahan menirukan suara tokoh dalam wayang. ”Namun, setelah sering dicoba, gampang kok,” imbuhnya.

Bocah yang memfavoritkan tokoh Werkudoro itu mengatakan, banyak manfaat yang dia ambil dari mempelajari penokohan di wayang. Antara lain, mengenal karakter teman-temannya. “Saya jadi tahu cara menghadapi orang lain sesuai karakternya,” lanjutnya.

Selain itu, Pringgo belajar disiplin, bertanggung jawab, dan konsisten. Kata Pringgo, semua itu dia dapat dari telaah tokoh dan cerita wayang yang dia pelajari dari ayahnya. “Ternyata ada pesan dalam cerita itu yang harus diresapi,” tambah Pringgo. (ib)

Radar Sidoarjo, Senin, 30 Juni 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: