Mengenang St Iesmaniasita, Mutiara yang Terlupakan dari Mojokerto

Pengarang Perempuan Pertama dalam Kesusastraan Jawa Modern

Bagi penikmat dan pengamat kesusatraan Jawa zaman kemerdekaan, St Iesmaniasita merupakan nama yang sudah tidak asing lagi. Banyak karyanya yang tersebar lewat majalah-majalah berbahasa Jawa, atau lewat kumpulan cerita pendek serta antologinya yang telah diterbitkan. Hasil karyanya berupa sajak (dalam sastra Jawa disebut geguritan atau guritan), cerita pendek (cerita cekak disingkat cekak).

KHOIRUL INAYAH, Mojokerto

———–

Pada saat Kota Mojokerto merayakan HUT ke-90 pada 20 Juni lalu, nama Iesmaniasita sama sekali tak terdengar. Mungkin saja para pejabat di Kota Mojokerto ini tidak kenal, bahkan belum pernah mendengar namanya. Padahal, nama ini sudah tercatat sampai di mancanegara.

St Iesmaniasita memiliki nama lengkap Sulistyo Utami, lahir di Terusan, Mojokerto pada 18 Maret 1933. Terakhir menjadi guru di Kota Mojokerto.

Dari buku Wawasan Sastra Jawa Modern karya Poer Adhie Prawoto disebutkan bahwa Bu Is, panggilan akrab St Iesmaniasita, menghasilkan karya tak kurang dari 82 cerita pendek, 514 geguritan, serta beberapa esai yang membicarakan kesusastraan Jawa.

Adapun buku kumpulan hasil karyanya adalah, Kidung Wengi Ing Gunung Gamping (Nyanyian Malam di Gunung Kapur) diterbitkan Balai Pustaka, Jakarta, tahun 1958, memuat 8 cerita pendek, masing-masing berjudul Kembang Mlathi Sagagang, Wengi ing Pinggir Kali, Lagu kang Wekasan, Lingsir ing Pesisir, Jugrug, Gerimis, Ing Sunaring Rembulan, Ing Sawijining Wengi.

Saat wartawan koran ini datang ke rumah keluarganya di Jl Jokotole No 19 Mojokerto, beberapa buku ini masih tersimpan di perpustakaan keluarga. ”Masih ada buku-bukunya, meskipun Bu Is sudah tidak ada,” kata Lutvi, keponakan Bu Is.

Ia pun sempat menyebut sejumlah karyanya yang belum diterbitkan dan tersimpan rapi di perpustakaan keluarga. Karya-karya tersebut terhimpun dalam manuskrip berjudul Lintang Ketiga (Bintang di Musim Kemarau) memuat 6 cerita pendek yang ditulis dalam kurun waktu tahun 1957-1963 dan 16 buah geguritan yang bertiti mangsa tahun 1955 sampai 1959. ”Adakah pihak yang bersedia menerbitkan menjadi sebuah buku?” tanya Lutvi balik.

Sedangkan beberpa karyanya yang sudah diterbitkan antara lain, buku kumpulan cerita pendek Kringet saka Tangan Prakosa (Keringat dari Tangan Perkasa) terbit tahun 1974 oleh Yayasan Penerbitan Jaya Baya, Surabaya, yang memuat cerita Tandure Ijo Kumlawe, Calon Ratu, Kringet saka Tangan Prakosa, Dinane Isih Riyaya, Atine Bocah. Buku Kalimput ing Pedhut (Tersaput Kabut) diterbitkan Balai Pustaka, Jakarta, tahun 1976, memuat 3 buah cerita pendek, masing-masing Lagu Lingsir Wengi, Kalimput ing Pedhut, Rembulan Kalingan Mega dan 20 geguritan. Geguritan (Antologi Sajak-Sajak Jawa) diterbitkan Pustaka Sasanamulya, Surakarta tahun 1975. Merupakan kumpulan geguritan 13 orang penyair dengan 76 geguritan, termasuk 7 geguritan karya St Iesmaniasita. Mawar Mawar Ketiga, merupakan kumpulan geguritan yang diterbitkan Yayasan Penerbit Jaya Baya, Surabaya, tahun 1996, memuat 35 geguritan.

Perihal sosok St Iesmaniasita, ada catatan menarik datang dari? Eko Edy Susanto, kepala Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. ”Setiap kali saya mengajukan pertanyaan kepada peserta Gus dan Yuk Kota Mojokerto, mereka selalu menjawab tidak mengenal sosok St Iesmaniasita,” kata Eko Edy Susanto.

Cukup ironis, mengingat St Iesmaniasita adalah sosok penting dalam khazanah sastra Jawa modern. Namanya pernah tercatat pada Dictionary of Oriental Literature (George Allen and Unwinn ltd., London, 1974), Javanese Literature since Independence (JJ Ras, 1979), dan menerima Hadiah Sastra Rancage tahun? 1999 karena jasa-jasanya dalam pengembangan sastra Jawa. Sejak 1958 menjadi guru di SD Negeri Purwotengah 2, lalu pindah ke SDN Wates 6 sampai menjadi kepala sekolah dan pensiun.

Selanjutnya, Cak Edy Karya -panggilan akrabnya- mengungkapkan, Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto dan Pemerintah Kabupaten Mojokerto pada 11 Maret 2005 memberikan penghargaan kepada St Iesmaniasita berupa uang Rp 3 juta? sebagai penghargaan pada karya-karyanya. ”Penghargaan ini disampaikan langsung oleh Bapak Achmady, Bupati Mojokerto saat itu,” ujar dia.

Saiful Bakri, Komite Sastra Dewan Kesenian Kota Mojokerto dalam kesempatan lain memberikan kesannya. ”Pertama kali mengenal Bu Is ketika peluncuran Antologi? Puisi Candi Terakota yang diterbitkan Forum Penyair Mojokerto. Orangnya pendiam, namun tegas,” ujarnya.

Abdul Malik, Redaksi Jurnal Kebudayaan Banyumili menambahkan, pada tahun 1998 Dewan Kesenian Mojokerto mengadakan Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional dan sepuluh 10 terbaik dibukukan. ”Jurinya waktu itu Ibu Is, Pak Hardjono WS dan Aming Aminoedhin. Adalah suatu kehormatan bagi panitia karena yang memilih judul Antologi Puisi Surat di Jalan Berdebu adalah Bu Is,” paparnya.

Malik pun bersyukur, Perpustakaan Umum Kota Mojokerto masih menyimpan koleksi 2 buku Bu Is. ”Masing-masing Kringet Saka Tangan Prakosa dan Kalimput ing Pedhut,” ungkap Malik yang saat ini juga menjadi sekretaris Redaksi Majalah Kidung Dewan Kesenian Jawa Timur.

Dikatakannya, pada sebuah Seminar Sastra Modern di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 13-15 Desember 1988, Prapto Yuwono membawakan makalah setebal 13 halaman khusus mengulas karya-karya St Iesmaniasita. Berikut ini adalah sebagian tulisan dalam makalahnya,” Ada kesan yang cukup mendalam setiap kali saya mengadakan pertemuan dengan puisi-puisi penyair ini. Kesan ini berlaku untuk sebagian besar puisi-puisinya, bahwa puisi-puisi penyair ini pada umumnya memiliki warna dasar kesedihan. Kesedihan-kesedihan itu dapat berupa: Karena perpisahan dengan kekasih, sehingga menimbulkan rindu, dendam, benci, dsb, karena kenyataan-kenyataan sosial yang memprihatinkan, karena bencana-bencana alam atau iklim alam yang menyengsarakan manusia, karena keinginan atau cita-cita tak sampai, karena dosa-dosa yang diderita manusia dsb. Demikian menyeluruh kesedihan yang diungkapkannya itu, sehingga kesan suram, kusam dan bahkan gelap meliputi puisi-puisinya. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa puisi-puisinya mengajak kita untuk juga turut bersedih, bahkan sebaliknya ada sikap-sikap yang selalu ingin ditampilkannya. Yakni, ketegaran, keangkuhan sekaligus kepasrahan, kerelaan dan rasa semangat untuk selalu bangkit dalam menghadapi kesedihan-kesedihannya itu. Dengan kata lain, tidak terasa sama sekali kesan ”cengeng” di dalam puisi-puisinya.” (*/nk)
Radar Mojokerto, Minggu, 29 Juni 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: