Pergelaran Seni Langka Sandur Kalongking

Padukan Magis dan Akrobatik

Salah satu kesenian tradisional yang meski langka tapi masih ada di Bojonegoro adalah sandur kalongking. Selasa (24/6) malam lalu kesenian ini dipentaskan di Kelurahan Jetak, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro.

TONNY ADE IRAWAN, Bojonegoro

———-

Sekelompok orang mengenakan udeng (ikat kepala) duduk sambil asyik bernyanyi diiringi dua alat musik yang bersahut-sahutan. Tempat mereka duduk dibatasi dengan tali rafia. Di tiap-tiap jarak tertentu pada tali rafia itu terdapat jajan pasar yang diikatkan.

Kegiatan itu dipimpin seorang kakek. Di depan tempat sang kakek duduk terlihat sesaji. Isinya, antara lain jajan pasar, kemenyan yang sudah dibakar, serta bunga yang direndam di dalam panci berisi air.

Saat nyanyian mencapai puncak, seorang lelaki yang duduk di deretan terdepan tiba-tiba menggelepar-gelepar. Beberapa orang kemudian menghampiri dan memegangi tubuh temannya itu. Kakek yang memimpin menyayi juga bangkit. Sambil membawa pecut (cambuk), dia kemudian mengambil jaran kepang (kuda lumping) dan menyerahkannya kepada orang yang menggelepar itu.

Seakan disuruh, lelaki yang menggelepar kemudian menaiki kuda dari anyaman bambu itu. Dia kemudian dituntun untuk memakan kembang yang telah direndam air dalam panci.

Begitulah bagian awal dari pertunjukan seni sandur kalongking yang dipertontonkan di halaman Gedung Perak, Kelurahan Jetak, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro, Selasa (24/6) malam lalu.

”Kalau seperti itu (menggelepar kemudian makan kembang, Red) berarti sudah kesurupan, dan orang yang sudah kerasukan itu biasa disebut sulur pandan yang fungsinya menjaga keamanan (dari gangguan makhluk halus, Red) selama berlangsungnya pertunjukan,” kata Masnun, kordonator pertunjukan malam itu. Menurut Masnun, sandur memang seperti drama, tapi berbau magis.

Menurut dia, pemeran utama dalam drama itu hanya empat orang. Yakni, tokoh utama disebut Pethak, pemeran lelucon Tamsil, tokoh penyeimbang Balong, dan satu tokoh wanita yang berperan sebagai sindir biasa disebut Cawik.

Masnun menerangkan, kisah dalam drama itu sangat panjang. Mulai dari saat Pethak mencari kerja, panen, rabi (kawin), dan setersunya. ”Namun, malam ini dibatasi hanya Pethak cari kerja,” katanya.

Di akhir cerita, ada pertunjukan kalongking. Menurut Masnun, pertunjukan ini menceritakan saat Pethak berburu kalong (kelelawar besar) di atas pohon, bersama teman-temannya. Kalong dalam drama ini diperankan seseorang yang bisa berjalan, tidur, ngitir (berputar) di atas tali.

”Semua dilakukan di atas ketinggian lebih dari delapan meter,” tegasnya.

Yang tak kalah menarik dalam seni sandur kalongking menurut Masnun adalah suasana magisnya. Di antaranya, ada orang yang kesurupan.

”Memang dulunya ini adalah mainan anak yang diadopsi menjadi pertunjukan orang dewasa,” katanya.

Hanya, seni tradisional itu kini sudah langka. Pemainnya juga minim. Warisno, 50, saat ini merupakan satu-satunya pemeran kalong yang belum ada penggantinya.

”Anak muda sekarang hati dan pikirannya tidak mantep,” kata Warisno di sela-sela pertujukkan tersebut.

Karena tidak mantep itulah, lanjut dia, tidak ada anak muda yang berani menggantikan perannya sebagai kalong di pertujukan tersebut.

Dia menambahkan, selama ini kelompoknya tak pernah latihan rutin. Latihan hanya dilakukan sekali sebelum ada pertunjukan. ”Namun, kebanyakan tidak pernah latihan,” ujarnya.

Menurut dia, dulu sering sekali orang nanggap sandur. Misalnya, saat punya hajat atau saat panen. Namun, sekarang jarang sekali ada orang nanggap. Padahal, biaya nanggap sandur hanya Rp 2 juta sampai Rp 5 juta. ”Terakhir ditanggap ya sekitar setahun lalu saat acara valentine,” tuturnya.

Dia mengaku dua tahun lalu tampil saat ditanggap Dinas Pariwisata Provinsi Jatim. Saat itu dia dan kru sandur hanya dibayar Rp 50 ribu. ”Padahal taruhanya nyawa saya,” katanya. (*)
Radar Bojonegoro, Kamis, 26 Juni 2008

2 Responses

  1. Wah, betul kesenian langka tuh. Lain kali kalau ada show, sebaiknya direkam dan diulas biar generasi penerus tak kehilangan sejarah seni. Jeleknya bangsa kita ini kan tidak bisa memelihara seni milik sendiri, seni yang berasal dari luar justru yang diagung-agungkan. Merasa ketinggalan kalau kagak ikut. Padahal kalau kita amati, banyak sekali orang/seniman/mahasiswa/pengamat asing yang trampil/fasih/mahir kesenian tradisional kita. Bahkan mereka menguasai filosofinya segala. Sayang kan !!!!!

  2. Saya Sependapat dengan usul pak Tjipto….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: