Menyoal Pembinaan Kesenian Tradisional di Mojokerto

Yang Redup Tapi Tak Mati dari Seniman dan Tradisi
Pagi itu bergulir, sinar mentari menyeruak segar, hangatnya seolah menguatkan semangat, sesuatu yang rutin melanskapi geliat warga kota Mojokerto. Adakah yang lebih menggugah di saat-saat demikian? Tentu, tidak musti terbayang begitu. Dan inilah yang mungkin bisa dipetik dari dari kegiatan yang bertajuk Pembinaan Kepada Peminat Kesenian Tradisional di Kota Mojokerto tahun 2008 yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Kota Mojokerto, pada hari Selasa, 24 juni 2008 pukul 8.00-12.00, di Hotel Surya Majapahit, Kota Mojokerto.
Acara ini dihadiri oleh sejumlah seniman, dari berbagai instansi dan disiplin seni-budaya. Sebagai pembuka, Bapak Walikota Mojokerto, Ir. Abdul Gani Suhartono, memberikan seuntai tilikan yang berinti pada upaya memupuk kadar semangat reaktualisasi dan implementasi yang konkrit untuk terus memberdayakan seniman dan kesenian tradisional.
Dua narasumber yang di hadirkan dalam forum tersebut masing-masing Heri “Lentho” Prasetyo, Ketua I Dewan Kesenian Jawa Timur yang menorehkan gagasannya lewat tulisan “Mencari Organisasi Kesenian Ideal”. Lalu Henri Nurcahyo, Direktur Lembaga Ekologi Budaya, Sidoarjo, mengupas dengan “Manajemen Produksi dan Pemasaran Seni (Beberapa Catatan)”. Sementara sebagai moderator adalah Drs. H. Eko Edy Susanto, MSi, yang dikenal sebagai pimpinan Ludruk Karya Budaya Kota Mojokerto.
Yang tidak membosankan dari diskusi ini ketika dibuka sesi dialog. Sambutan yang segar dan menukikpun segera muncul dari beberapa penanya juga penanggap. Pertama, menyoal perihal sejauh mana kesenian tradisonal memberdayakan diri dalam mengembangkan segenap kreativitasnya dengan segala inovasi yang niscaya kini diperhadapkan pada dunia hiburan kontemporer yang kian menggila pengaruhnya. Kedua, menyinggung seberapa peran andil pemerintah dalam membina dan menyuport seniman dan kesenian tradisional tersebut.
Sudarwati, seorang seniwati macapat “Among Tani Mojopahit” (yang sebelum acara ia dan rekannya menembangkan tetembang tersebut), menggelontorkan tanya soal tradisi macapatan yang kian terpencil dan nyaris tak diopeni dan diuri-uri. Barangkali para pengopennya tinggal yang tua-tua. Bagaimana dengan generasi muda? Entah meminatinya atau bahkan tak menggubrisnya. “Ini ironi. Seharusnya ada tindakan konkrit plus taktis. Penuh integritas dari seniman dan pemerintah, jika kedua komponen ini benar-benar bisa bersinergi dengan baik, gigih, dan jujur. Semisal menerbitkan pendokumentasian buku macapat, lalu diterbitkan, dibedah keliling ke sekolah-sekolah. Dengan catatan, pemerintah menyokong gerak-kerja ini.” demikian pembayangan kritis Fahrudin Nasrulloh, seorang penelusur buku kuno dan Redaksi Jurnal Kebudayaan Banyumili.
Kegelisahan sejumlah peserta juga kian menyemarakkan diskusi. Sebut saja dari Elyta Dimawan dari Sanggar Sangra Laksita, “Saya merasakan adanya krisis dukungan terhadap seni tradisi. Karena itu sanggar kami juga aktif melakukan terobosan pada seni non tradisi semisal modern dance, acting course dan entertainment school.” Elyta Dimawan dan Sanggar Sangra Laksita tengah menyiapkan pentas ludruk anak dan wayang suket. Cak Slamet Riyadi, sebagai pelawak ludruk Karya Budaya, menekankan pentingnya regenerasi pelawak ludruk. Wiwik Widiyastuti, dari Paguyuban Peminat Seni Tradisi (PPST) SMPN 1 Kota Mojokerto ,”Bagaimana kita menggarap kolaborasi seni teater, tari dan musik yang baik? Bagaimana dukungan dana dari Pemkot apabila kami mendapat undangan pentas keluar kota ?” Sebanyak 70 peserta mengikuti kegiatan kemarin termasuk Warid, pimpinan Ludruk Sekar Budaya yang akan mewakili Kota Mojokerto dalam pentas di Taman Mini Indonesia Indah bulan Juli 2008 dengan lakon Yuyu Kangkang.
Acara ditutup tepat pukul 12.00 wib oleh Ibu Yayuk dari Bagian Perekonomian Pemkot Mojokerto yang sebelumnya memaparkan secara singkat program kerja yang telah dilakukan Dinas Pariwisata Pemkot Mojokerto antara lain memfasilitasi Ludruk Karya Budaya Kota Mojokerto ke Pekan Budaya dan Pariwisata Kabupaten Kediri, 20 Juni 2008 di kawasan wisata Simpang Lima Gumul.
Radar Mojokerto, 25 Juni 2008

2 Responses

  1. blog nya bagus sekali……

  2. wah…
    keren…
    maju terus kesenian Indonesia.. ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: