Busairi Arifin, Seniman Pembuat Alat Musik Tradisional Banyuwangi

Ciptakan Selentem Perunggu untuk TMII

Nama Busairi Arifin, sangat lekat dengan alat musik tradisional Banyuwangi. Kualitas alat musik buatan tangan lelaki 67 tahun sudah dikenal mendunia.

NIKLAAS ANDRIES, Banyuwangi

————

Bakat seni Busairi sebenarnya sudah terlihat sejak dia kanak-kanak. Mulanya hanya tertuang dalam coretan gambar di dinding rumah. Amarah orang tua yang memandang itu sebagai kenakalan anak-anak, seolah semakin mengasah naluri seninya.

Secara keturunan, tidak ada darah seniman mengalir dalam darah Busairi Arifin. Dia menganggap, bakat itu sebagai karunia Tuhan yang patut disyukuri. “Saya terus mendalaminya sembari bergabung dengan Sanggar Kelapa kala itu,” katanya.

Memasuki usia senja, Busairi tidak pernah berhenti berkarya di bidang seni. Dia berusaha untuk melestarikan warisan budaya tradisional. Meski itu diwujudkannya dengan membuat ukiran dan peralatan musik gamelan khas Suku Using.

Di rumahnya di Lingkungan Sritanjung, Kelurahan Temenggungan, Banyuwangi, bapak tiga anak ini menekuni pekerjaan membuat alat musik tradisional. Mulai gamelan, gong, hingga saron atau selentem mampu dibuatnya dengan tidak meninggalkan nilai unsur budaya Bumi Blambangan.

Tengok saja tahapan proses pembuatan mulai awal hingga dalam bentuk jadi dikerjakannya seorang diri. Untuk membuat sebuah selentem misalnya, Busairi harus membuat dulu desain bentuknya. Kayu sebagai penyangga harus dibuat sesuai dengan bentuk yang diinginkan.

Tahapan mulai menghaluskan, memahat, memberikan ukiran hingga pengecatan setidaknya membutuhkan waktu sekitar dua bulan. Setelah bagian tersebut selesai, tahapan berikutnya adalah pencetakan plat besi. Bagian ini pengerjaannya mendapat perhatian ekstra. Dikarenakan sangat mempengaruhi suara yang dihasilkan. “Biasanya bagian ini saya pesan di pandai besi,” ujarnya.

Bila semua komponen sudah lengkap, tiba giliran Busairi untuk menyusun semua bahan tersebut menjadi satu. Terbentuknya sebuah selentem belum menjamin alat tersebut bisa langsung digunakan. Bagian tersulit yaitu menyetem. Proses ini dilakukan agar bunyi yang dihasilkan bisa sesuai not yang ada.

Tahap menyetem dianggap tahapan yang paling rumit. Ini didasari bahwa alat musik Banyuwangi bila dilakukan standardisasi mulai ukuran, bentuk hingga suara boleh jadi tidak ada. Untuk mensiasatinya, Busairi menggunakan metode pentatonik sebagai rumus untuk menyetem selentemnya. “Kalau mau jujur, not dari alat musik Banyuwangi susah. Apalagi dimasuki unsur alat musik lain seperti gitar,” katanya.

Namun perkembangan alat musik modern rupanya sedikit banyak menolong perkembangan musik Banyuwangi. Metode ini seolah menjadi harapan baru agar suara yang dihasilkan bisa sering dengan alat musik masa kini seperti gitar misalnya. Keberadaan tuner sejauh ini dipandang mampu memberikan harapan itu.

Tidak heran bila kolaborasi alat musik Using dan modern pun melintas dibenak Busairi.

Di era 1980-an, dia sudah melakukannya dengan grup musik yang diberinama Gafilas. Kehadirannya bahkan sempat membuatnya dilirik produser rekaman atas karya yang dianggap lain saat itu.

Bak dayung bersambut, kemahiran dan kematangan Busairi di dunia seni rupanya berbuah manis. Dia pun mendapat order istimewa dari panitia grand opening Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta. Dia diminta membuat sebuah selentem. Dia juga diminta untuk manggung dalam acara tersebut.

Kepercayaan itu pun dijawab dengan memenuhi pesanan tersebut. Sebuah selentem terbuat dari bahan perunggu menjadi karya seni yang tidak terlupakan baginya. Alat musik itu kini berada di ibukota. “Saya sempat manggung juga saat awal pembukaan TMII dulu hingga beberapa bulan,” kenangnya.

Lalu berapa nilai order pembuatan seletem itu ? Busairi enggan menjawab. Hasil karyanya tidak untuk dijual. Kalaupun ada yang berminat, dia awalnya hanya ingin meminjamkan. Tapi bila tertarik, tawaran Rp 3 hingga Rp 4,5 juta merupakan nilai apresiasi hasil seni yang dihasilkannya.

Sementara itu, perjalanan Busairi menekuni profesinya tidak berjalan mulus. Hasil karya seninya pun kerap mendapat tudingan miring. Persoalan orisinalitas hingga pakem gaya yang digunakannya sempat membuat karyanya banyak dicibir orang.

Namun semua itu tidak membuat Busairi patah arang. Tuduhan miring itu lantas dijawab dengan bukti konkret. Kediamannya pernah didatangi bule dari Perancis. Turis ini secara langsung ingin membuktikan bahwa alat musik buatan pria asli Using ini sesuai dengan not modern.

Dengan kemahirannya, Busairi pun memainkan alat musik kreasinya sendiri itu. Sedangkan si turis hanya mengamati dentangan melodi melalui sebuah alat tuner sebesar telapak tangan. Hasilnya orang asing itu mengakui akurasi nada pada alat musik tersebut. “Dia datang cuma mau ngetes,” katanya.

Bukan kali itu saja hasil karya Busairi mendapat kesanksian dari orang lain. Lagi-lagi warna negara asing yang melihat hasil ukirannya di sebuah hotel dianggap karya seni hasil jiplakan. Kali ini bule Belanda datang ke rumahnya.

Turis itu menilai, pahatan Busairi sama dengan apa yang dilihatnya di Pulau Dewata itu. Reaksi turis itu dijawab dengan action. Didepan turis tersebut, Busairi mendemontrasikan kemahirannya memahat. Sekali lagi, mereka dibuat terkesima.

Soal cibiran rupanya bukan monopoli orang asing. Di kalangan sesama orang pribumi, karya Busairi kerap dipandang tidak memiliki ciri khas Blambangan. Motif ukiran pada selentemnya, banyak dituding merupakan gaya yang umum. “Memang mirip. Tapi ada bedanya dan itu gaya Using hasil kreasi saya sendiri,” sergahnya,

Saat pameran seni di Surabaya, dia dan beberapa tukang seni dari beberapa kota lain sempat rembugan. Pertemuan itu membahas perbedaan ukiran Banyuwangi dengan kota lain seperti Jepara, Madura, hingga Jawa. Nyatanya, mereka menganggap ukiran Banyuwangi memang lain. Motifnya merupakan gabungan dari ukiran kota-kota tersebut.

Menilik soal gaya ukir Kota Gandrung memang dianggap memiliki motif yang kaku. Gaya ukiran Blambangan sedikit banyak dipelajari Busairi saat bergabung dengan Sanggar Kelapa. Adalah Cungkup Blambangan yang dimiliki salah satu personel sanggar tersebut yang membuka cakrawalanya atas gaya ukir Banyuwangi. “Wujudnya dari tanah liat yang ada ukirannya,” katanya.

Tidak heran berbagai rintangan tersebut membuat pengalaman dan insting seni yang dimiliki membuat Busairi semakin teruji. Imbasnya dia pun dipercaya mengerjakan berbagai bagunan bernuansa budaya. Diantara empat tiang penyangga pada Pendapa Sabha Swagata Blambangan. Ukiran pada saka tersebut tidak lepas dari gaya seni pahat yang bermuara pada nilai estetika khas masyarakat suku Using.

Selain karya tersebut, masih ingat dalam ingatan dia mendapat order pengerjaan pahatan pada sebuah kapal laut ekspedisi. Di masa Samsul Hadi, Busairi dengan timnya bahu membahu mengukir kapal yang disebut-sebut sebagai kebanggan warga Blambangan itu. Kapal yang diberi nama Umbul-umbul Blambangan itu tidak lepas dari tangan seninya.

Dia kemudian bergumul dengan papan kayu yang dipahat. Tenggat waktu penyelesaian selama 30 hari menjadi tantangan tersendiri baginya. Tak dinyana melalui kerja kerasnya, target penyelesaian pahatan pada sisi kapal itu malah rampung sebelum deadline. “Kerjanya cepat jadi 20 hari sudah rampung,” katanya.

Malah bukan hal aneh bila kemampuan tersebut merupakan aset berharga bagi masyarakat kota gandrung. Kematangannya di bidang seni membuat Busairi menjadi sosok yang perlu mendapat apresiasi lebih. “Dengan sekali melihat saya sudah tahu ukiran itu dari daerah mana,” ujarnya. (bay)
Radar Banyuwangi, Rabu, 25 Juni 2008

3 Responses

  1. Bisa minta tolong dikirimin gambar dari alat musik Saron.
    Ditambah dengan keterangan yg Lainnya.
    ni aLmat e-mail saya :
    keyko.dini@Gmail.com

  2. hmm, tolong krimin dunk, foto Bapa yang membuat alat musik ini, dan foto alat musik nya ya ke e-mail saya, fmunggaran@yahoo.com

  3. cukup bagus tapi banyak sekali kekurangan pada alat-alat musik gabungan (namanya) contohya gamelan dari Jawa timur di di situ ada alat musik gong dan lain – lain gitu tau……………………………………………………………………………Bagaimana orang indonesia pintar kalau ada banyak se kali kekurangan……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: