Ki Sumarsam, Duta Gamelan asal Bojonegoro di Amerika Serikat, di Mata Saudara dan Teman Kecilnya

Pernah Dimarahi karena Dianggap Bikin Malu Ayahnya yang Kades

Keberhasilan Ki Sumarsam, doktor ahli gamelan yang sudah 37 tahun mengajar di Wesleyan University, Amerika, tak lepas dari kegigihannya menggeluti dunianya itu. Ketika kecil, dia sempat dianggap bikin malu keluarganya karena menjadi panjak (penabuh gamelan).

ANAS A.G., Bojonegoro

———-

Mencari rumah Ki Sumarsam sangatlah gampang. Hanya berbekal informasi tentang nama dan kacamatan asal doktor ahli gamelan yang sudah 37 tahun mengajar di Wesleyan University, Amerika, itu, yakni Ki Sumarsam, asal Kecamatan Dander, wartawan koran ini tak kesulitan mendapatkannya. Begitu bertanya kepada seorang staf kecamatan setempat, langsung mendapat jawaban.

”Oh, rumah Pak Marsam yang sekarang di Amerika Serikat,” kata staf Kecamatan Dander yang dijumpai wartawan koran ini kemarin (20/6).

Dia kemudian menunjuk rumah yang berada di seberang jalan di depan kantor kecamatan. Jika dari arah Bojonegoro, sekitar 30 meter sebelum pertigaan kantor Kecamatan Dander, berada di kanan jalan. Jika dari arah Kecamatan Bubulan dan Temayang berada kiri jalan.

Rumah itu berpagar hijau. Ukuran bangunannya 6 meter x 10 meter, bergaya lama. Ruang tamunya sekitar 4 meter x 5 meter. Dindingnya terbuat dari kayu jati, sedangkan lantainya berkeramik.

Rumah itu kini dihuni salah satu kakak perempuan Marsam. Yakni, Soewarsi. ”Rumah ini dulu peninggalan ayah kami,” kata Soewarsi yang didampingi saudara tertua Marsam, Soewarni. Soewarni tinggal di rumah berbeda, namun masih satu kompleks (pekarangan).

Marsam adalah anak ketiga dari tiga bersaudara dari pasangan Partorejo dan Diwati. Ayah Marsam kepala Desa Dander pada 1942-1949, juga pedagang kain dan pakaian.

”Kalau dagang kain biasanya sampai nginap di Baureno,” ungkap Soewarni.

Soewarni sering mendampingi ayahnya saat berdagang kain. Sedangkan Marsam dan ibunya tinggal di rumah jika ditinggal berdagang.

Pendidikan dasar Marsam ditempuh di Sekolah Rakyat (SR) Dander. Lulus SR, dia melanjutkan ke salah satu SMP swasta di Dander. ”Saat itu hanya ada satu SD dan SMP, tapi saya lupa namanya,” sambung Soewarsi.

Marsam menghabiskan masa kecilnya di Dander. Saat dia berusia 6 tahun, ayahnya meninggal dunia. Setelah itu, praktis Marsam menjadi tanggung jawab ibu dan dua kakak perempuannya tersebut.

Kegemaran Marsam terhadap kesenian daerah, terutama gamelan, sudah muncul sejak kecil. Ada salah satu dalang yang mengajari dia bermain gamelan. Yakni, Ki Thokol. Rumah dalang ini berada di seberang jalan depan rumah Marsam.

Marsam selalu ikut ke mana saja Ki Thokol mendapatkan order mendalang. Dia menjadi panabuh gamelan (wiyaga) ketika Ki Thokol pentas.

”Kadang pulang dari tanggapan dia (Marsam, Red) membawa jajanan dan nasi sebagai upah,” sahut Soewarni lagi.

Suatu ketika, kebiasaan Marsam ikut Ki Thokol sempat membuat gelisah kedua kakak perempuannya. Persisnya ketika tanpa seizin orang tuanya Marsam ikut Ki Thokol. Saat itu dia sempat dicari sampai di Baureno, tempat ayahnya biasa berdagang. Padahal, dia ikut tanggapan di daerah Kecamatan Kapas (juga di Bojonegoro).

Karena sudah bikin bingun kelurga, begitu pulang tanggapan Marsam dimarahi. ”Ngisin-ngisini, wong anake lurah kok manjak (memalukan, anak kepala desa kok jadi penabuh gamelan, Red),” kenang Soewarsi yang juga marah saat itu.

Dimarahi seperti itu Marsam menjawab enteng saja. ”Yo ra popo, engko dilebokno radio (tidak apa-apa, nanti masuk radio, Red).” Saat itu warga Dander yang mempunyai radio belum banyak.

Meski kini tinggal bersama keluarganya di Amerika, Marsam masih sering pulang ke Indonesia. Hanya, pada kepulangannya kali ini dia tidak sempat ke kampung kelahirannya, Dander.

”Katanya sekarang (kemarin, Red) di Solo, tapi sudah menghubungi (via telepon) kalau tidak bisa mampir (ke rumah Dander) karena sibuk,” kata Soewarsi.

Juni tahun lalu Marsam juga pulang ke Dander. ”Nginep dua malam saja sudah lama. Biasanya hanya semalam atau kadang tidak menginap,” tambah Soewarsi.

Jika pulang, lanjut perempuan itu, yang menjadi tujuan utama Marsam adalah nyekar di makam ibunya, Diwati, di pemakaman umum Desa Dander. ”Ya sambil maringi nyotro dolar,” tutur dia sambil tersenyum. (bersambung)
Radar Bojonegoro Sabtu, 21 Juni 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: