Supali-Hardjono WS Sepanggung

MOJOKERTO – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tetap menjadi isu yang menarik dibicarakan. Termasuk, ketika para pemain lawak seperti Supali Cs manggung.

”Di zaman yang susah seperti sekarang, enak ya kalau aku jadi sabun, ayam jantan, ikan,” kata Cak Supali menghibur diri sambil membuat lelucon yang tentu saja penonton terpingkal-pingkal pada acara di Pondok Jula Juli Karya Budaya, di Dusun Sokodono, Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

Mengapa memilih menjadi sabun, ayam jantan dan ikan? Karena dengan menjadi barang-barang tersebut, tidak perlu memikirkan kenaikan harga BBM. ”Kita mesti mensyukuri apa pun kondisi kita. Tentunya, sebagai manusia paling menarik dibandingkan barang-barang tersebut,” katanya.

Pukul 21.57 lawak Cak Slamet, Cak Trubus, Cak Supali mulai mengocok perut penonton. Cak Slamet muncul dengan kidungan-kidungan yang kontekstual namun tetap menghibur. Cak Trubus dan Cak Supali muncul dan ketiganya terlibat diskusi soal kondisi rakyat yang semakin susah dengan kenaikan harga BBM. Kemudian, ketiganya menyanyikan dua lagu Kolam Susu (Koes Plus) dan Wakil Rakyat (Iwan Fals).

Tak lama kemudian muncul Liem Siok Lan sebagai bintang tamu. Justiani -panggilan akrabnya- mencoba menjelaskan kondisi negeri ini dengan cara sederhana. Pukul 22.36 Mayjen TNI Saurip Kadi muncul di atas panggung dengan seragam militer sebagai bintang tamu. ”Tiga puluh tahun lalu ketika bertugas di Brigif 16 Kediri, saya juga mendirikan ludruk dan waktu itu kami banyak belajar dari Cak Bantu, pendiri ludruk Karya Budaya. Karena itu, begitu saya mendapat informasi perihal Harlah ludruk Karya Budaya, saya langsung menyatakan sangat berminat untuk hadir,” ujar Saurip Kadi memberikan sambutan singkat sembari memberi hadiah buku Mengutamakan Rakyat dan Menembus� Batas �kepada Cak Edy Karya.

Hardjono WS, penyair dan ketua Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto tampil aktraktif membacakan dua puisi, Buat Pak Edy (khusus buat Cak Edy Karya dan baru ditulis beberapa jam sebelum acara dimulai) dan Kampungku Rumahku (dari antologi Puisi dan pizza).

Halim HD, budayawan asal Serang yang telah melanglang ke berbagai negara dan kini menetap di Surabaya, juga memberikan orasi budaya. Tampil rapi dan bersahaja, Halim HD menguraikan empat hal. Pertama, Desa Canggu sebagai situs kebudayaan yang masih kidup dan terus menyuarakan suara-suara rakyat kecil lewat pentas ludruk Karya Budaya. Kedua, ludruk Karya Budaya telah menciptakan peluang ekonomi bagi pedagang kecil dengan pentas malam ini juga pentas keliling terop.

Ketiga, Halim HD menyarankan untuk mematikan televisi untuk menghindari pengaruh buruk dari tayangan televisi yang sering tidak menawarkan nilai-nilai budaya yang mendidik. Empat, ludruk merupakan budaya perlawanan kepada nilai-nilai yang mapan sambil mengutip kidungan Cak Durasim ”bekupon omahe doro, melok nippon tambah sengsoro”. (in/yr)

Radar Mojokerto, [ Sabtu, 31 Mei 2008 ]

One Response

  1. sekedar blogwalking

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: