Mendekonstruksi Tokoh Wayang Dengan Modifikasi Animanik

suarasurabaya.net| Sebagai warisan budaya leluhur, wayang kulit punya fungsi yang juga luhur pada jaman keemasannya. Sebagai media komunikasi gagasan, wayang kulit pernah sangat efektif digunakan para Sunan di era Mataraman. Namun seiring semakin kompleksnya media, wayang kulit kini tergeser. Fungsinya tak lagi menjadi pure penyampai gagasan, namun sudah berubah menjadi identitas tradisional.

Tergerusnya wayang dari deru debu peradaban teknologi informasi ini dirasakan sepasang anak muda lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. SANTI ARIESTYOWANTY dan MIKO BAWONO merasakan keresahan ini. Dari sebuah diskusi yang tidak serius akhirnya timbul gagasan besar untuk ‘menyelamatkan’ wayang kulit dengan mendekonstruksinya. Memberi napas budaya pop dan kontemporer yang sarat nuansa pemberontakan anak muda.

“Mulanya dari sebuah diskusi, akhirnya kesamaan gagasan membuat kami berdua membentuk Indie Guerillas. Kami memang mengkhususkan diri pada rancangan grafis yang mengeksplorasi konten lokal dengan modifikasi kekinian,” kata SANTI saat ditemui suarasurabaya.net.

Mengapa wayang kulit yang dipilih? Menurut MIKO, sebenarnya bukan hanya wayang kulit, Indonesia punya begitu banyak karakter tradisional yang kaya filosofi. Sebut saja Punakawan, Roro Mendut, Pandawa Lima, dimana filosofinya tak lekang oleh jaman.

Hanya saja, ujar MIKO, perlu ada modifikasi dalam bentuk tampilan fisik karakter tersebut agar lebih mudah terekam dalam pemikiran anak muda era kini. Derasnya hembusan karakter-karakter impor versi Hollywood atau Jepang saat ini, ujar MIKO, tak bisa lagi ditahan. Untuk menginternalisasi wayang dan filosofinya ke benak anak muda jaman sekarang, kata MIKO, beberapa modifikasi harus dilakukan.

SANTI mencontohkan karakter Cakil yang dalam dunia pewayangan digambarkan dengan sosok rahang bawah lebih panjang dari rahang atas, perawakan besar nan raksasa, dan bersenjatakan keris (dalam cerita Perang Kembang, Cakil tewas akibat kerisnya sendiri-Red).

“Karakter yang digambarkan dalam wayang secara konservatif mungkin agak sulit dicerna oleh anak muda. Untuk itu kami memodifikasinya dalam bentuk yang lebih bersahabat. Cakil digambarkan mengenakan jaket skate warna doreng, mengenakan sepatu sneaker. Namun ciri khasnya berupa rahang bawah yang lebih panjang dari rahang atas tetap kami pertahankan,” kata SANTI.

Selain sosok Cakil, SANTI dan MIKO juga tertarik menggarap legenda, seperti Roro Mendut. Menurut SANTI, agak lebih mudah menggarap karakter ini lantaran tidak pernah ada gambaran yang baku tentang sosok Roro Mendut dalam khasanah folklore Nusantara.

“Yang kita ketahui kan Roro Mendut itu tokoh yang khas sebagai penjual rokok. Konsep lama tentang Roro Mendut kita rombak dan kita bangun kembali pencitraan Roro Mendut sebagai pribadi yang independen. Ia merombak pranata sosial yang menindas dan ini sebenarnya sangat cocok dengan konsep yang kitatawarkan ke anak muda, yakni mandiri, kreatif, dan membebaskan,” kata SANTI.

Ada juga karakter Limbuk dan Cangik. Dalam khasanah pewayangan, dua karakter ini digambarkan sebagai ibu-anak. Cangik Sang ibu yang kurus kering bersifat boros dan ganjen, sedangkan Limbuk digambarkan sebagai sosok yang gemuk pendek.

Oleh SANTI dan MIKO, dua tokoh dalam pewayangan ini ‘disulap’ sedemikian rupa. “Saat mengerjakan Limbuk, entah kenapa, selalu terlintas di pikiran saya penyanyi rap AS MISSY ELLIOT. Jadi saya buat karakter ini mirip dia sedang menggotong bakul berisi cat semprot. Sedangkan tokoh Cangik saya gambarkan menggendong bakul berisi sepatu sneaker. Saking borosnya dia sampai membeli sepatu sneakers sangat banyak,” kata dia sambil terkekeh.

Karakter-karakter ini kemudian diperkenalkan perlahan lewat media stiker di Yogyakarta dan ternyata animo anak-anak muda Yogyakarta cukup antusias. Setelah stiker, mulailah Indie Guerillas merambah diantaranya ke T-Shirt, mug, boneka, mural, buku, majalah, dan bahkan lukisan.

Gagasan demi gagasan terus keluar dari kepala SANTI dan MIKO, namun tetap dengan konten lokal sebagai ciri khasnya. “Kami memang ingin dikenal di komunitas desainer dunia sebagai desainer dengan ciri khas. Ya ini yang kami garap,” ujarnya.

Pernah dikecam kaum konservatif karena ‘mengobrak-abrik’ pakem pewayangan yang ada? SANTI mengaku tekanan macam itu pernah ia dapat. Namun sesuai prinsip awalnya yang ingin memperkenalkan budaya wayang dengan filosofinya ke anak muda, SANTI berpendapat apa yang dilakukannya ini sah-sah saja.

“Saya rasa setiap komponen sesuai segmennya bisa berjuang demi sesuatu. Kalau negara melakukan show wayang kulit keluar negeri untuk mempromosikan wayang, maka sah saja jika kami berupaya memperkenalkan wayang dalam bentuk yang lebih dimengerti anak muda jaman sekarang,” kata SANTI.

Sebagai sebuah proses kreatif, MIKO agak bingung ketika ditanya masuk aliran apa karya yang dihasilkannya. Ada yang mengatakan ini sebagai bagian dari seni kontemporer. Tapi banyak juga yang mengatakan ini masuk seni kasta rendahan, sebagai anak haram seni rupa. “Kami lebih senang karya kami diapresiasi sebagai karya animanik,” ungkapnya singkat.

Sebagai sebuah ladang mencari nafkah, kata MIKO, gagasan-gagasan ini sangat menjanjikan. Setengah berkelakar, ia bahkan mengatakan kebutuhan pribadi untuk 10 tahun ke depan sudah terjamin lewat jalan hidup yang dipilihnya ini. Saat ini, Indie Guerillas sudah bisa memiliki kantor sendiri dengan beberapa staf di Perumahan Banteng Baru, Jl. Kaliurang km 7,8, Gg Banteng Baru VII/8, Kayen, Condong Catur, Yogyakarta.(edy)

Teks Foto :
1. Tokoh Limbuk dengan modifikasi animaniknya, mirip MISSY ELLIOT.
2. Karakter Cangik, lebih bersahabat dengan anak muda.
3. Sosok Buto Cakil yang dimodifikasi. Lebih cool….
4. SANTI dan MIKO
Foto : dok Indie Guerillas & EDDY suarasurabaya.net

2 Responses

  1. iya nih kita-kita yang katanya anak muda berpikiran inovatif menginginkan simbol wayang tidak hanya nampak sebagai gambar dan bentuk tapi lebih memaknai wayang menjadi implementasi kehendak

  2. Sebagai generasi setua saya yg masih mencintai wayang, bener2 pengin selalu bergabung untuk sambung rasa.

    Mengapa Wayang..?
    Konon saya mempromosikannya kepada kawula muda di zaman sekarang adalah sebagai ajang Evaluasi.
    Wayang mengajak kita ibarat kita seorang sopir mabil yang melaju kencang, tatapan lurus kedepan, tetapi jangan lupa sesekali hrs menengok kaca spion, karena di belakang ada sesuatu yang berguna agar kita tdk.kesandung pada batu yg sama.

    Salam Wayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: