Kolaborasi Budaya di Festival Nusantara



SURABAYA – Sepasang Hudoq, makhluk bertopeng khas Dayak, Kalimantan, menari-nari di Sanggar Alang-Alang, Joyoboyo, kemarin. Rumbai-rumbai daun yang menghiasi tubuh mereka bergerak-gerak halus seiring goyang ritmis para penari tersebut. Begitu tarian yang biasanya diperagakan pada upacara pemujaan leluhur itu rampung, tepuk tangan sontak membahana.

Kemeriahan itu adalah bagian dari acara Festival Nusantara 2008 yang diadakan Pendidikan Seni Nusantara (bukan Dewan Kesenian Jatim seperti berita sebelumnya) dan Dinas P dan K Jatim. Anjangsana ke Sanggar Alang-Alang dimotori Pendidikan Seni Nusantara. Sedangkan Dinas P dan K Jatim memotori acara apresiasi seni di Supermal Pakuwon Indah (SPI).

Anjangsana itu diikuti 150 peserta yang terdiri atas para siswa dari berbagai daerah. Di Sanggar Alang-Alang, mereka saling unjuk budaya kesenian setempat. Setelah itu, masing-masing kontingen mengadakan tanya jawab.

Usai kesenian Hudoq tampil, berbagai pertanyaan muncul. Misalnya dari Agung, anggota Sanggar Alang-Alang. Dia menanyakan komposisi warna hitam, putih, dan merah pada topeng Hudoq. Salah seorang siswa dari kontingen Kaltim mengatakan, merah berarti berani, putih artinya suci, dan hitam menggambarkan jiwa manusia yang terkadang memiliki sisi hitam.

Kemarin kontingen Tasikmalaya, Jabar, memamerkan kepiawaian berangklung. Agus Awe, koordinator kontingen, menanggapi pertanyaan peserta soal klaim Malaysia bahwa angklung adalah kesenian khas negaranya. Agus mengaku geli. Sebab, menurut dia siapa pun tahu bahwa angklung dari Indonesia. “Saya tidak marah ke Malaysia. Tapi, saya marah ke pemerintah. Mengapa tidak melindungi budaya sendiri,” ucapnya disambut tepuk tangan para siswa.

Grup Ojo’ Ngono dari Pamekasan kemarin juga unjuk gigi. Kontingen yang mengenakan kaus khasnya, putih bergaris-garis merah, tersebut menyanyikan lagu Surabaya.

Selain tanya jawab dan unjuk kebolehan, mereka sempat berkolaborasi dalam memainkan alat musik dan menari. Misalnya, mereka memainkan semua alat musik yang ada secara bersamaan. Pada saat yang sama, peserta menarikan tarian adat sesuai daerahnya masing-masing.

Sementara itu, acara apresiasi seni di SPI diikuti 53 peguyuban peminat seni tradisi dari seluruh Jatim. Masing-masing juga unjuk tradisi. Misalnya, SMPN 1 Jember yang mementaskan ludruk berjudul Joko Bodho.

Achmad Fauzi, pelaksana program Festival Nusantara 2008, mengatakan, anjangsana itu untuk mengenalkan kesenian tradisional sejak dini. Selain saling kenal, para siswa berkesempatan menanyakan langsung segala sesuatu terkait kesenian tersebut. “Seperti sejarah, alasan pemilihan warna, maupun waktu lahirnya kesenian tersebut,” katanya.

Festival Nusantara 2008 berakhir hari ini. Sebelum meninggalkan Surabaya, kontingen akan berkunjung ke redaksi Jawa Pos. (eko/dos)
Jawa Pos, Rabu, 28 Mei 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: