EKO EDY SUSANTO, Peraih Radar Mojokerto Award 2008 Personal category Seni Budaya

ALUNAN gamelan, lelucon para pemain dan canda tawa para waria menjadi keseharian Eko Edy Susanto sedari kecil. Justru pada dunia suasana dan pengalaman yang tidak dimiliki anak-anak kecil pada umumnya inilah akhirnya Cak Edy Karya, panggilan akrabnya, jatuh cinta kepada ludruk.

Saat ini di Mojokerto seakan tidak bisa dipisahkan antara nama Cak Edy Karya dan nama Ludruk Karya Budaya. Diakui atau tidak, sejak ia memimpin kelompok kesenian tradisional ini, Karya Budaya seakan menjadi ikon ludruk Mojokerto. Pada saat kelompok ludruk lainnya jatuh dan tumbang, Karya Budaya tetap eksis setelah hampir empat dasawarsa berdiri.

Cak Edy Karya pula yang mampu mengangkat ludruk menjadi kesenian yang tidak hanya main di desa. Ia menjadi langganan juara festival ludruk di Jawa Timur. Setiap kali ada festival ludruk, maka Karya Budaya pasti akan tampil dan pulang dengan berbagai penghargaan. Mulai penyaji terbaik, penari remo terbaik dan sebagainya.

Karya Budaya akhir tahun lalu juga mendapatkan undangan istimewa dari Festival Kesenian Kota Solo untuk tampil di Sanggar Sriwedari. Ini merupakan ajang kesenian rutin tingkat nasional yang digelar Pemkot Solo dan Dewan Kesenian Kota Solo. Sayangnya, obsesinya untuk tampil pada acara Hari Pendidikan 2 Mei 2008 lalu di Kota Mojokerto justru tidak kesampaian.

Sebenarnya, ketenaran Ludruk Karya Budaya kini tidak lepas dari sejarah perpolitikan bangsa Indonesia tahun 1965. Saat itu, PKI sebagai parpol yang cukup dekat dengan rakyat desa memiliki kelompok-kelompok kesenian kerakyatan yang cukup banyak. Beberapa dianataranya berupa ludruk atau sejenisnya.

Pada saat G 30 S PKI terjadi, beberapa kelompok kesenian tradisional yang memiliki jaringan dengan PKI dibubarkan. Hanya kelompok-kelompok kesenian yang dekat dengan TNI dan Polri yang akhirnya bisa tetap eksis.

Di Desa Canggu, secara turun temurun sejak jaman penjajahan Belanda selalu berdiri grup ludruk. Makanya diamanatkan pada Cak Bantu yang anggota Polsek Jetis untuk mendirikan grup ludruk. Tepatnya 29 mei 1969 berdirilah ludruk yang diberi nama Karya budaya dipimpin oleh Cak Bantu dengan binaan Polsek Jetis. Cak bantu merupakan ayah Cak Edy Karya.

Menjelang pemilu 1971, ludruk Karya Budaya ditanggap Partai Golkar sebagai hiburan kampanye Golkar selama satu bulan berpindah dari desa ke desa. Hal tersebut sangat dimanfaatkan Cak Bantu mempromosikan ludruk Karya Budaya. Dengan keberhasilan pada setiap pementasan membuat ludruk Karya Budaya dikenal masyarakat.

Tahun 1993 Cak Bantu Karya wafat, dan secara aklamasi seluruh anggota memilih putra sulung Cak Bantu Karya memimpin ludruk Karya Budaya yakni Drs Eko Edy Susanto, Msi (lebih akrab dipanggil Cak Edi Karya, ludruk Karya Budaya mengalami perkembangan yang bertambah pesat. Merayakan ulang tahun ke-30 pada tanggal 29 Mei 1999, ludruk Karya Budaya resmi menjadi Yayasan Kesenian dengan SK Notaris No.06 melalui akte Notaris Grace Yeanette Pohan, SH.

Pada saat ini, Karya Budaya tidak lagi menjadi kendaraan parpol tertentu.Keberadaan nya justru sangat dinanti oleh para pedagang kaki lima (PKL) yang berkeliling mengikuti perjalanan Ludruk Karya Budaya setiap tampil dari satu desa ke desa lainnya.

Karya budaya menjadi kelompok ludruk yang memiliki rekor panggung terbanyak setiap tahunnya di Mojokerto dan sekitarnya. Dari setiap tahunnya rata-rata satu bulan penuh terikat kontrak manggung. Hanya, emapat bulan yang biasanya tersisa sepi dari pentas. Yakni empat bulan Jawa yang “haram” mengadakan hajatan. “Karena pada empat bulan ini jarang sekali orang menggelar hajatan,” kata Cak Edy.

Dengan ini, selain mampu menghidupi para pemain dan krunya yang berjumlah puluhan orang. Cak Edy Karya juga mampu membangkitkan ekonomi kecil para PKL yang mengais rejeki penonton di sela pentasnya. “Bahkan, jadwal manggung Karya Budaya saja bisa dijual di kalangan PKL,” katanya.

Meskipun menjadi pimpinan sebuah ludruk, Cak Edy Karya setiap hari masih tetap menjadi PNS dengan jabatan sebagai kepala Cabang Dinas P dan K Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. Justru dengan cara ini ia mampu mengolaborasikan antara kesenian dengan tugasnya sebagai abdi negara. (khoirul inayah, radar mojokerto).

Dimuat Harian Radar mojokerto, Minggu, 25 Mei 2008.

DATA TOKOH:
Nama : Drs H. Eko Edy Susanto,Msi
(Cak Edy Karya)
Jabatan : Pimpinan Ludruk Karya Budaya
Pekerjaan: Kepala cabang Dinas P dan K Kecamatan Magersari Kota Mojokerto
Alamat :Dusun Sukodono RT 02 RW 01 Desa Canggu Kecamatan Jetis
Kabupaten Mojokerto 61310
Jawa Timur
Telp 0321- 362847
HP 081 231 89 347
Email :cakedikarya@yahoo.com ,
Blog :http://ludrukkarya budaya.multiply. com

One Response

  1. waduh..waduh.. blog ini telat banget saya tahunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: