Mata Pelajaran Seni Budaya Tersingkir

MALANG – Pendidikan seni dan budaya di sekolah cukup memprihatikan. Itu bisa dilihat dari marjinalisasi mata pelajaran seni dan budaya dibandingkan mata pelajaran sains dan teknologi. Padahal, pendidikan seni dan budaya merupakan simbol kebanggaan, keluhuran, dan harga diri bangsa.

Kondisi itu akan berdampak pada kehidupan berbangsa. “Dampak paling nyata adalah masyarakat merasa asing terhadap kebudayaan sendiri,” kata pengamat seni dan budaya Universitas Terbuka (UT) Prof Paulina Pannen.

Paulian mengungkapkan hal itu dalam seminar Implementasi Nilai-nilai Luhur Budaya Lokal dan Global sebagai Basis Pengembangan Kurikulum Pendidikan Seni di Gedung Sasana Budaya. Acara itu sendiri digelar Jurusan Seni dan Desain FS (Fakultas Sastra) UM (Universitas Negeri Malang) Senin (19/5) lalu.

Bagaimana mengantisipasinya? Paulin mengatakan, orientasi akademik harus luwes untuk pengembangan nilai-nilai kemanusiaan itu. Sehingga, bisa membentuk kreativitas siswa melalui piranti pendidikan seni terstruktur. “Mulai mata pelajaran, muatan ekstrakurikuler dan terpadu alias lintas kurikulum,” ungkapnya.

Pendidikan seni, kata dia, merupakan kelompok mata pelajaran estetika. Muatan ini untuk meningkatkan sensitivitas dan kemampuan mengekspresikan keindahan dan harmoni pada diri siswa. Harapannya, jati diri siswa akan tumbuh dan berkembang dalam konteks berbudaya.

Sementara, pembicara lain, Prof A. J. Soehardjo dari jurusan seni dan desain FS UM menambahkan, sampai saat ini guru-guru masih kesulitan untuk mengembangkan kompetensi dasar pendidikan seni dan budaya. Dalam KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan) guru dituntut mengembangkan pelajaran sesuai potensi daerah. Padahal, untuk pelajaran seni dan budaya tidak bisa dikotak-kotak berdasarkan daerah.

“Sehingga guru pun kesulitan untuk memilih materi pokok pembelajaran yang menunjang kompetensi,” ungkap Soehardjo.

Dalam KTSP, lanjut dia, tidak diungkap secara eksplisit apa tampilan seni yang bermuatan budaya itu. Yang tersurat hanya penggolongan. Terdiri dari enam kategori dalam tiga klasifikasi, meliputi karya seni daerah setempat, karya seni corak daerah setampat, karya seni nusantara, karya seni corak nusantara, seni manca negera, dan karya seni corak manca negara. Akibatnya, tidak dapat difungsikan sebagai tolok ukur. (hap/war)

Radar Malang, Kamis, 22 Mei 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: