Dua Pelukis Tua Pameran Reuni di Surabaya


Antara Pasar dan Wanita Semitelanjang
Bertitel Pameran Persahabatan 45 Tahun, dua pelukis kawak, Huang Fong, 73, dan Wu Tung Dhay, 71, menggelar reuni. Tak kurang dari 24 lukisan dipajang di Melati Room, Garden Palace Hotel, mulai tadi malam hingga Senin (26/5).

EKO PRIYONO

DUA wanita Bali telanjang dada duduk di atas tikar. Seorang tampak sedang berbicara, yang lain membelakangi. Sesisir pisang plus enam buah apel dalam piring anyaman, gulungan benang, dan alat penggulung di latar belakang.

Dua kakek asyik menikmati lukisan berjudul Beda Pendapat (Usai Kerja) itu. Berbisik, kemudian tertawa terkikik-kikik. “Lukisan ini saya buat dengan model asli, bukan dari foto,” kata Huang Fong, salah seorang kakek tersebut.

Beda Pendapat merupakan salah satu di antara 14 karya Huang yang dipamerkan. Seluruhnya realis. Warga Ubud, Bali, yang keluarganya tinggal di Jl Kalianyar Wetan, Surabaya, itu memang lebih suka objek yang tidak ruwet. Semisal kejadian sehari-hari.

Suasana pasar dan perempuan -beberapa di antaranya telanjang dada- mendominasi karyanya. Huang memang menggandrungi objek perempuan semitelanjang. “Perempuan itu punya seribu keindahan. Misalnya, lekukan tubuh, mata, dan bagian-bagian tubuh lainnya,” ungkapnya.

Keindahan kodrati yang menempel pada perempuan itu selalu memberinya ilham untuk berkarya.

Selain Beda Pendapat, lukisan berjudul Ni Wayan Endah Nengah Gembala Domba menunjukkan kegandrungan Huang. Dalam lukisan 80 x 100 sentimeter itu, dia menggambarkan perempuan Bali berkerudung yang sedang menggembala domba.

Perempuan itu hanya mengenakan kain yang dililitkan di tubuh bagian bawah. Sedangkan dadanya dibiarkan terbuka. “Saya harus merayu perempuan seperti pacaran agar mau dilukis telanjang,” katanya. Diakui, sulit menemukan wanita yang mau dilukis telanjang. Umumnya, mereka malu membuka pakaiannya.

Karena itu, Huang lebih banyak mengandalkan kedekatan. Jika tidak kenal dekat, kata dia, hasil lukisannya tidak bagus. “Ekspresi yang ditampilkan berbeda. Intinya sama-sama tahu,” ujar kakek lima cucu itu.

Seperti lukisannya, Huang tak perlu repot mencari ide. Jalan-jalan ke pasar di dekat rumahnya sudah cukup mendapatkan ide. “Saya dulu sering jalan-jalan ke Pasar Petekan dan Pabean. Setelah jalan-jalan, biasanya jadi satu lukisan,” tegasnya.

Lukisan-lukisan itu semua sudah terjual. Karyanya berjudul Pasar Tegalalang merupakan salah satu pasar Huang yang dipajang dalam pameran ini.

Pamerannya kali ini punya arti penting bagi Huang. “Kami hanya ingin reuni dalam nuansa berbeda,” jelasnya.

Reuni dengan Wu Tung Dhay, yang sudah menjalin persahabatan dengan dirinya selama 45 tahun. Dhay memajang sepuluh lukisan bercorak impresionis.

Kakek yang jalannya masih tegap itu mulai melukis pada 1961. Saat itu, dia dan Dhay berguru pada Nurudin B.S., salah seorang pelukis Surabaya era 60-an.

Namun, tak lama kemudian, guru pelukis Jansen Jasien itu harus pindah ke Bali. “Saya menuruti kata hati, ingin menekuni sebagai pelukis,” katanya. Sedangkan Dhay tetap tinggal di Surabaya, di kawasan Dukuh Kupang.

Di Bali, Huang ibarat tak ada hari tanpa melukis. Dia sadar, latihan akan membuat dirinya makin piawai menggores kuas.

Pada 1969, pria kelahiran Banyuwangi tersebut untuk kali pertama menggelar pameran tunggal di Balai Budaya Jakarta. Sejak itu, pameran demi pameran dilakoni. Delapan tahun sejak pameran tunggal perdana, Huang berpameran tunggal di East West Gallery, Australia. “Ya pede saja. Seni tidak punya ukuran bagus atau jelek. Bergantung dari mana dan siapa yang melihatnya,” katanya.

Huang pun terus berkelana dari pameran ke pameran di luar negeri. Sebut saja Hongkong, Jepang, dan Korea. Tahun lalu, dia kembali mengadakan pameran tunggal di Paragon Gallery, Singapura. Karyanya yang kini dipajang dijadwalkan dibawa ke Kuala Lumpur pada 2 September mendatang.

Lukisannya, yang seakan menengok masa lalu itu, juga pernah masuk dalam Asian Excellent 1995. Dia juga pernah mengukir prestasi dalam lomba Art Magazine of America pada 1996 sampai babak final. “Saya hanya coba-coba ikut,” ujar bapak tiga anak tersebut. Dengan keberhasilan itu, dia yakin seniman Indonesia sejajar dengan luar negeri.

Beberapa karyanya pernah ikut dalam pelelangan di Rumah Lelang Christie. “Lukisan saya berjudul Ikan Mas dilelang di Belanda pada 1995 bersamaan dengan lukisan Basuki Abdullah dan Affandi,” katanya.

Ada pula pelelangan yang dilakukan di Jakarta. “Tapi, saya lupa judulnya dan tahunnya,” ujarnya.

Huang tak tahu-menahu bagaimana lukisannya bisa masuk rumah lelang yang biasanya melelang barang-barang bernilai seni tinggi itu. Sebab, “Orang lain yang mengikutkan, bukan saya. Saya hanya tahu dari kolektor yang menelepon saya.”

Dhay tentu saja gembira bisa pamer bareng sahabatnya dalam satu panggung. Dia terkesima dengan semangat Huang yang terus berkarya seni. “Saya salut,” tegasnya. Huang pun menepuk-nepuk bahu Dhay. (cfu)

Jawa Pos, Kamis, 22 Mei 2008,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: