Film tentang Problem Daerah

SURABAYA – Permasalahan di daerah terpencil jarang muncul ke permukaan. Namun, masalah tersebut bisa diangkat dan diceritakan secara lugas melalui film dokumenter. Kisah itulah yang ditampilkan In-Docs dalam acara screenDocs! Traveling 2008 di Kampus B Unair pada 13-15 Mei 2008

Misalnya, dalam film Crescent Moon Over The Sea (Bulan Sabit di Tengah laut) yang ditayangkan kemarin (13/5). Film berdurasi 50 menit itu mengisahkan seorang pemuda di Pulau Bungin yang terletak di daerah pedalaman. Tidak ada jalur transportasi menuju pulau tersebut, selain kapal boat.

Meski jauh dari perkotaan, Arif Rahman Hakim, pemuda itu, rela bersusah payah menempuh jarak yang tidak dekat untuk belajar di SMK di Mataram. Hingga akhirnya, dia lulus dan kembali ke kampung asalnya. Di kampungnya, Arif dihadapkan pada masalah masa depan. Kuliah, kursus, atau bekerja.

Belum mendapatkan gambaran masa depannya, dia terkena penyakit malaria. Berbagai tabib di kampungnya didatangkan, tapi ternyata tidak mampu mengobati. Akhirnya, dia dibawa ke sebuah poliklinik yang letaknya jauh dari rumah. Untuk menempuhnya, Makkadia, ayah Arif, menumpang kereta kuda.

Dalam film tersebut, Yuli Andari, pengarang cerita film, mencoba mengurai masalah daerah terpencil satu per satu. Mulai masalah pendidikan, kesehatan, hingga akses publik yang tidak terjangkau di Pulau Bungin. Cerita tersebut diakhiri dengan selamatan laut atas anugerah Sang Pencipta.

Dalam pentas film kemarin, tidak hanya penggemar film dokumenter atau mahasiswa yang melihat tayangan tersebut. Sepuluh siswa SMP Mardiputra, Pacarkeling, juga ikut menonton. Mereka didampingi Andarini, ketua Yayasan Mardiputra.

Andarini mengatakan, anak didiknya diajak menonton film tersebut untuk mengenalkan secara dini film dokumenter. Tujuannya menginspirasi siswa agar mau belajar dokumenter. “Dari melihat, mereka bisa belajar,” ujarnya.

Sayangnya, para siswa mengaku tidak paham dengan cerita yang dibawakan. Sebab, film itu menggunakan bahasa daerah yang tidak bisa dipahami, sedangkan arti teksnya menggunakan bahasa Inggris. “Tapi, tetap senang kok Mas,” kata Feriska, siswa kelas II SMP Mardiputra. (eko/dos)
Jawa Pos, Rabu, 14 Mei 2008,

One Response

  1. Benar juga kata Ktua yayasan Mardiputra itu. Karena dengan Film dokumenter kita semakin dekat dengan kehidupan sosial masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: