DKJT Rancang Direktori Kesenian

SURABAYA – Banyak ragam kesenian Jawa Timur yang tidak terdokumentasi. Akibatnya, rawan terjadi penjiplakan atau bahkan dicuri negara lain. Mengantisipasi hal tersebut, Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) tengah membuat direktori semua jenis kesenian. Khususnya, kesenian yang saat ini tidak pernah muncul lagi di masyarakat.

Beberapa kesenian Jatim yang termasuk kategori tersebut, antara lain, wayang beber dari Madiun. Wayang itu tergolong unik karena memiliki konsep seperti sinematografi modern. Yaitu, berbentuk gambar pada kain. Kain tersebut digulung di sisi kanan panggung.

Saat dimainkan, gulungan itu diputar ke arah gulungan yang berada di sisi kiri panggung sehingga gambar wayang “berjalan” di panggung. Dalang dalam wayang beber hanya bercerita dan tidak menggerakkan badan wayang seperti dijumpai sekarang. “Sekarang wayang jenis itu hampir tidak pernah dimainkan lagi. Padahal, kita punya itu,” kata Ketua Umum DKJT Achmad Fauzi kemarin (13/5).

Selain wayang beber, ada banyak kesenian lain. Misalnya, seni topeng dari Madura, Malang, Situbondo, dan Bondowoso. Selain itu, ada dongkrek, seni tari jalanan yang bentuknya mirip reog.

Fauzi mengatakan, direktori itu dibuat untuk mencatat ragam kesenian yang ada di Jatim. Tidak hanya nama dan jenis, direktori tersebut akan menjelaskan secara rinci sampai pada bentuk. Dia mencontohkan, bentuk seni topeng antara yang ada di Madura, Malang, Situbondo, dan Bondowoso berbeda.

“Kalau hanya jenis, mungkin sudah rampung. Tapi, bentuknya yang buanyak,” ucapnya. Hingga sekarang, progress yang dilakukan baru 60 persen. Padahal, proses itu dimulai sejak empat tahun lalu.

Pria yang rambutnya dikucir itu mengatakan, dokumentasi tersebut hanya langkah awal untuk mengenal jenis kesenian. Dia berharap, setelah dicatat, pemerintah mematenkan kesenian itu. Sebab, harus diakui bahwa kesenian jarang dipatenkan. “Akibatnya, kita kelabakan seperti ketika Malaysia mengklaim kesenian reog sebagai miliknya,” ungkapnya.

Dia menambahkan, perhatian yang minim membuat kesenian Jatim rawan dicuri. Apalagi, negara tetangga yang kaya mampu membeli apa pun, termasuk kesenian. Dia mencontohkan, sekarang di Malaysia terdapat penggiat seni reog dan perajin batik. Mereka di sana memiliki tempat khusus untuk memublikasikan karyanya. Menurut dia, tidak aneh jika nanti sewaktu-waktu ada klaim bahwa batik milik Malaysia. (eko/dos)
Jawa Pos, Rabu, 14 Mei 2008,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: