Choirijatun, Wanita Pelukis Asal Surabaya yang Eksis di Jerman

Jadi Koleksi Museum Italia, Bikin Patung Kota Dusseldorf
Hijrah ke Jerman tidak hanya mengangkat nama Choirijatun menjadi seniman pop art yang diperhitungkan. Wanita kelahiran Simolawang, Surabaya, itu juga mampu mengharumkan nama Indonesia. EKO PRIYONO

Dalam beberapa goresan, kanvas berukuran 60 x 70 cm itu sudah menampakkan gambar dua wajah perempuan. Di bawahnya sapuan cat warna biru laut dengan gelombang kecil mengapungkan ikan-ikan yang riang berenang di permukaan.

Itulah demo melukis yang ditunjukkan Choirijatun di lobi Garden Palace Hotel Surabaya, Senin (12/5) lalu. Wanita 37 tahun itu memang dikenal sebagai seniman serbabisa. Selain melukis, dia juga pematung andal, sekaligus penari yang hebat. Hebatnya lagi, ketiga bidang seni itu mampu dijalaninya berbarengan.

Sudah dua bulan ini, Chori -panggilan Choirijatun-mudik ke kampung halaman. Selain kangen dengan suasana Surabaya dan sanak saudara, kedatangan Chori kali ini juga untuk menggelar pameran lukisannya. Chori memajang 23 lukisan yang dibuatnya sejak 2004. Dia memamerkannya di lobi Hotel Garden Palace mulai 8 Mei hingga 14 Mei hari ini.

Lukisan yang dibuatnya Senin itu diberi judul Lady’s Metropolis. Chori mengaku terinspirasi sosok para wanita Surabaya masa kini yang tampak maju pesat. Karena itu, untuk menandai kepulangan dan pamerannya kali ini, dia menyempatkan untuk memotret fenomena itu dalam bingkai kanvasnya.

“Wanita metropolis kan modern, gaul. Karena itu, aku perlu memberi warna-warni pada cat rambutnya,” ujar Chori dengan bahasa Indonesia yang mulai kaku.

Chori sudah tujuh tahun tinggal di Jerman bersama suami dan seorang anaknya. Suaminya, Jurgen Walker Weber, adalah pematung yang cukup diperhitungkan di sana. Bisa dimaklumi bila kemudian Chori mulai kagok berbahasa Indonesia, juga bahasa Suroboyoan, bahasa kampung halamannya. “Sorry yo kalau bahasaku jelek,” ujarnya minta permakluman.

Chori memulai karir sebagai pelukis justru di negara lain. Dia sempat “berpetualang” dari satu negara ke negara yang lain. Dan, perkenalan dengan Jurgen Walker Weber yang kemudian menjadi suaminya, adalah sejarah hidupnya yang tak terlupakan.

Sejak menikah pada 2000 dan menetap di Jerman, pada 2001, Chori makin giat melukis. Dan, tahun itu juga dia sudah berani memamerkan karyanya di sana. “Pameran itu persis satu tahun sejak aku mulai melukis,” katanya dengan bahasa Suroboyoan. “Yang menggembirakan, pada pameran pertama itu sudah ada yang langsung tanya harga lukisanku. Sebuah apresiasi yang menarik.”

Pameran perdana itu membuatnya terlecut untuk terus berkarya dan berpameran. Bahkan, dalam perkembangannya kemudian Chori tidak hanya berpameran di kota-kota di Jerman. Dia mulai merambah negara lain seperti di Abu Dhabbi (Uni Emirat Arab), Russia Museum St. Petersburg dan tentu saja negara asalnya, Indonesia. Salah satu karyanya bahkan menjadi koleksi Museum Malta Biennale, Italia (2003).

Wanita berambut panjang itu mengakui, lukisannya memang mempunyai ciri khusus. Dia sering mengambil objek bernuansa tradisional dan etnik Jawa sebagai konsep. Misalnya memberi simbol selendang, batik, maupun bentuk pakaian adat lain. Itulah yang menjadi nilai lebih dari karyanya dibanding lukisan para pelukis di Jerman.

“Yang juga khas dari lukisanku, pasti ada gambar ikan-ikan warna-warni. Bagiku, ikan adalah simbol kebebasan dan simpati,” ujar Chori yang hingga kini tetap berstatus sebagai warga negara Indonesia itu.

Pada lukisan Lady’s Metropolis, dia menggoreskan cat akrilik dengan gambar wanita modern, wanita karir yang dikesankan sangat sibuk. “Aku ingin menjadikan simbol-simbol etnik Indonesia jadi corak dalam lukisanku. Itulah yang membedakan karyaku dengan yang lain,” ucap wanita kelahiran 1971 itu.

Nilai lebih yang dimiliki lukisan Chori itu terbukti menarik perhatian para kolektor lukisan di Eropa. Dia memang tidak ingin meninggalkan jati dirinya sebagai warga negara Indonesia meski telah menikah dan menetap di Jerman. “Aku ingin orang-orang di sana kenal dengan budayaku, Indonesia,” ucapnya.

Chori tidak hanya mahir melukis. Dia juga mahir menari dan membuat patung. Tubuhnya yang ramping membuatnya lincah meliuk-liukkan anggota tubuhnya. Seperti dalam lukisan, dia juga memasukkan unsur tari daerah dalam koreografi kontemporer karyanya.

Contohnya, tari berjudul Outside. Sekilas musik yang mengiringi mirip hip hop atau disko. Tapi di tengahnya dia beri tetabuhan musik tari kecak dan remo. Demikian pula dengan gerakan tari yang semula kontemporer, di beberapa bagian dimasuki unsur-unsur tari tradisi Jawa. “Aku selalu menarikan tarian itu setiap membuka pameran lukisan di mana pun. Aku bangga karena senua karyaku sendiri,” ucapnya.

Bakat Chori tidak berhenti sampai di lukis dan tari. Seni patung juga digelutinya. Berbagai ragam bentuk patung telah dibuatnya. Sama seperti kedua keahliannya itu, dia juga membubuhkan unsur etnis Indonesia dalam karya patungnya.

“Aku menggeluti semua dengan profesional. Tidak asal-asalan,” tuturnya.

Kemahirannya membuat patung mendapat apresiasi publik seni di Jerman. Salah satu buktinya, secara mengejutkan, Chori terpilih menjadi seniman yang dipercaya membuat patung di tengah Kota Düsseldorf. Tidak main-main, patung tersebut dibangun dengan biaya Rp 5 miliar.

Patung itu, kata Chori, dibangun di atas lahan seluas 200 meter persegi. “Kayak Monumen Bambu Runcing (di Jl Panglima Sudirman, Red) itu lho,” jelasnya.

Dalam rancangannya, bentuk patung itu berupa sosok perempuan dan ikan. Dia menceritakan, dalam patungnya nanti, sosok perempuan dibuat sedang duduk di pinggir kolam yang di dalamnya terdapat ikan besar. Dia mengaku karyanya itu terinspirasi simbol Kota Surabaya yang digambarkan ikan dan buaya.

“Tapi aku tidak ingin ambil buayanya. Di sana sudah banyak buaya (laki-laki buaya, Red),” selorohnya dilanjutkan dengan tertawa.

Dari Surabaya, Chori langsung bertolak ke Jakarta untuk pameran di Galeri Nasional. “Sudah fiks pameran di sana,” tuturnya. (ari)
Jawa Pos, Rabu, 14 Mei 2008,

3 Responses

  1. lamknal dari Jerman juga

  2. minta keterangan ttg pamerannya ato no kontaknya dong… anyone?

  3. i love art…paint

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: