Alfie Fauzie, Mantan Pemakai Narkoba yang Sembuh dengan Melukis

Dari Senang Tenis, Bermusik, sampai Menjadi Pelukis Abstrak
Melukis ternyata bisa menjadi salah satu cara terapi narkoba. Alfie Fauzie telah membuktikan itu. Bahkan, kini kegiatan kreatifnya tersebut telah mampu menorehkan sederetan panjang pameran, baik di Indonesia maupun mancanegara.

KHOIRUL INAYAH, Mojosari

Kerinduan pada tanah kelahiran, membawa Alfie Fauzie kembali ke Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Belasan tahun melanglang di Pulau Dewata sebagai pelukis abstrak, tampaknya belum mampu menghapus kenangan kecilnya. Ia pun memilih balik ke kampung halaman, meskipun kedua orang tuanya telah tiada.

Ditemui di rumahnya di Jalan Brawijaya, Panjer, Mojosari, ia tampak sibuk. Dia sedang menyelesaikan satu karya berjudul And The End berukuran 198 centimeter x 300 centimeter. Di rumah inilah Awik -panggilan akrabnya- Alfie Fauzie berkontempelasi. “Karya saya ini lahir karena kegundahan dan kemirisan saya pada kondisi lingkungan di sekitar tempat tinggal saya,” ujarnya mengawali pembicaraan.

Munculnya persoalan-persoalan yang sederhana di dalam dirinya dan lingkungan terdekat, ternyata bisa menyebabkan kerugian di dalam diri sendiri maupun orang lain. “Karya saya juga merupakan respons atas kerisauan saya pada global warming. Karena saya pelukis, ya saya ekspresikan lewat lukisan,” ujarnya sambil mengepulkan asap rokok.

Inilah salah satu karya Awik untuk merayakan seabad Kebangkitan Nasional pada Mei ini. Pelukis kelahiran 25 Juni 1971 ini bersama beberapa pelukis lainnya akan menggelar pameran seni rupa bertajuk “keBANGETAN” di Galeri Surabaya, Jl Pemuda 15 Kompleks Balai Pemuda Surabaya.

Dia diundang Djunaidi Kenyut dari Kelompok Kecil Kerja Seni, Surabaya. Jumlah peserta keseluruhan adalah, sepuluh pelukis. Masing-masing adalah, Anas Etan (Ubud, Bali), Asmuliawan Bogel (Surabaya), Elyezer (Banyuwangi), Imam Sucahyo (Tuban), M. Yunizar Mursidi(Surabaya), Tasiman (Yogyakarta), Romy Setiawan (Mojokerto), Romdhon (Magetan), Sigit Tamtomo (Surabaya) dan Alfie Fauzie (Mojokerto).

Awik menamatkan pendidikan di SMAN 1 Mojosari, dan kuliahnya di Universitas Dr Soetomo Surabaya Jurusan Manajemen hanya semester pertama. Sewaktu kuliah, ia justru aktif dalam kegiatan musik. Namun, narkoba menjadikan semua rencananya saat itu berantakan. Dia hijrah ke Bali.

Beruntung, pada saat dirantau itulah, ia berkenalan dengan kegiatan melukis. Dan melukis pulalah yang merupakan salah satu terapi penyembuhan dari kecanduan narkoba. “Syukurlah sampai hari ini saya sudah tidak menyentuh barang haram tersebut!” tegasnya sambil mengirup kopi kental yang tinggal separo.

Di rumahnya saat ini Awik tinggal bersama dua saudaranya, Andhik Faishol dan Alfan Firdaus. Kedua orang tuanya, Mutta’allim dan Hanifah sudah meninggal.

Kenapa memilih menjadi pelukis? “Sewaktu sekolah di SMPN 1 Mojosari saya malah menjadi juara tenis meja. Mungkin darah seni mengalir dari ayah saya yang juga dikenal sebagai penulis naskah drama berjudul Penghuni Gua Kusta. Sayang, naskah tersebut terselip entah kem ana. Nama pena ayah saya Tanjung Baraba. Beliau meninggal delapan belas tahun lalu. Sewaktu kuliah saya bermusik dan setelah menetap di Ubud, saya memilih melukis menjadi jalan hidup saya sampai saat ini,” kenangnya.

Perjalanan panjangnya sebagai pelukis telah ditorehkan pada sederetan panjang pameran bersama, baik di Indonesia maupun mancanegara sejak tahun 2000. Antara lain Perupa Jawa di Bali (Dana Corner Restauran, Ubud, Bali), Kolaborasi Dua Kebudayaan Jogja Bali (Art Centre, Kuta, Bali), Berita Kami Saat Ini (Raos Galery, Batu), Damai Itu Indah (Ndag Gallery, Ubud, Bali), Nuansa Ubud(Koi Gallery, Jakarta), Silaturahmi Besar Nasional (Bharata Gallery, Ubud, Bali), Open Air (Jembawan Art Community, Bali), Deshan Gallery Australia (2005) Tanda Tanya Besar (Nandya Galery Bali), Satu Abad Kota Blitar, Padamu Kami Peduli (Galeri Merah Putih, Surabaya), Virus Abstract (Galeri Surabaya). Membuat karya mural Dream Scape I di Sanur Bali (2002) dan Dream Scape II di Panestanan, Ubud Bali (2003).

Mengadakan pameran tunggal The Naked Eyes I (Tree Monkey, Ubud, Bali, 2003), The Naked Eyes II (Rhum Restauran, Kuta, Bali, 2004) dan Life is Beautiful (Galeri Surabaya, 2007).

“Saya bangga bahwa salah satu karya saya dapat menjadi koleksi Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto (DKKM). Saya berharap, DKKM dapat melanjutkan program pembelian karya perupa Mojokerto,” katanya lebih lanjut.

“Saya kagum pada lukisan-lukisan karya Awik. Meskipun minimalis, dengan warna hitam-putih karya lukisan abstraknya seolah memiliki irama kalau saya menikmatinya secara tenang,” demikian komentar M. Nur Badri, fotografer yang rajin mendokumentasikan karya-karya Awik.
Sementara itu, Pak Cip -panggilan akrab Hadi Sucipto- ketua Biro Seni Rupa Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto mengungkapkan, pulangnya Awik ke Mojosari dari Ubud membuat Komunitas Perupa Mojokerto bertambah marak. “Kami jadi lebih intens berdiskusi, nonton pameran, memutar film dan lebih memahami tentang sikap dalam berkesenian,” ujar Hadi Sucipto. (*)

Radar Mojokerto, Minggu, 11 Mei 2008

4 Responses

  1. tukang kontemplasi yang top! sampai bisa ngilangin budaya narkoba, perjalanan panjang lelah. Semoga berbuah manis untuk semua perjuangannya. Merdeka untuk semua pecandu narkoba di Indonesia, berubah untuk keindahan nyata

  2. siiiiippppppp…. mas awik selamat ya…. semoga sukses terus.

  3. OK. Salam kenal juga, saya sudah buka blognya, bagus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: