Melihat Pementasan Wayang Potehi di Kelenteng Hwie Ing Kiong

Tampilkan Cerita Bersambung hingga Satu Setengah Bulan Lebih
Sejak beberapa hari terakhir ini, Klenteng Hwie Ing Kiong mengadakan pementasan wayang potehi. Tidak mudah untuk memainkan wayang itu. Selain bakat seni, perlu keterampilan khusus dan proses latihan panjang.

PURWANTI – Madiun

DUA boneka mengenakan busana tradisional Tiongkok itu terus bergerak lincah. Satu memakai jubah warna merah bermotif naga. Satunya lagi jubah bermotif bunga warna ungu. Sesekali boneka itu menggerakkan langkah kaki dengan mantap. Lalu saling menghantam dan beradu senjata. Prang, prang, bunyi seperti dua senjata tajam beradu mengiringi.

Sementara di deretan kursi penonton, seorang wanita parobaya tampak serius menyaksikan pementasan itu. Di depan panggung, beberapa bocah juga asyik menikmati tontonan tersebut. Meski, dialog dalam pertunjukan itu menggunakan bahasa campuran Hokian dan Indonesia.

Pementasan wayang potehi (poo thay hie) itu sejak beberapa hari ini ditampilkan di halaman Klenteng Hwie Ing Kiong. Pertunjukan wayang yang didatangkan khusus dari Jombang ini digelar dalam rangka peringatan ulang tahun kelenteng.

Wayang tersebut dipentaskan di panggung yang bentuknya mirip sebuah rumah berukuran sekitar 4×4 meter dan tinggi kira-kira 6 meter. Sedangkan bagian semacam pakeliran untuk pertunjukan wayang potehi berukuran sekitar satu meter persegi. Nuansa Mandarin tampak kental dengan hiasan ornamen oriental serba merah.

Di balik panggung itulah Sesomo, sang dalang, dan empat pemain musik pengiring beraksi saat pertunjukan. Puluhan tahun bergelut dengan wayang potehi membuat lengan dan jari-jari pria asli Jawa ini begitu terampil.

Untuk memainkan sebuah cerita yang umumnya tentang legenda Tiongkok masa lalu, Sesomo juga dibantu seorang asisten. Tugasnya membantu gerakan wayang yang sulit ditangani dalang. “Tapi kalau suaranya saya sendiri yang memainkan,” ungkap Sesomo.

Sesomo mengaku sudah menekuni seni wayang potehi sejak usia 12 tahun. Hingga usianya yang kini menginjak 63, Sesomo masih antusias memainkan wayang ini.

Kemahiran Sesomo memainkan wayang yang telah menjadi bagian tradisi Tiongkok ini diakui berkat latihan secara otodidak. Tempat tinggal Sesomo saat kecil yang tak jauh dari sebuah kelenteng di Surabaya membuatnya tertarik belajar wayang potehi. “Karena biasa nonton, lalu saya jadi ingin memainkan,” ungkapnya.

Sayangnya, lanjut Sesomo, pamor wayang potehi kini kalah dengan media hiburan elektronik. Minat masyarakat untuk menonton pun semakin menurun. “Apalagi ceritanya ini berseri. Bisa satu bulan lebih baru selesai,” jelas Sesomo.

Pria yang sering berkeliling memainkan pertunjukan wayang ini mengaku menjadi dalang memberikan tantangan yang besar. Ada beberapa cerita sakral dari wayang potehi yang menuntut sangat hati-hati memainkannya. Terutama cerita yang penokohan, harus benar-benar sesuai pakem. “Di potehi kita tidak bisa membuat variasi cerita,” akunya.

Pada pementasan di Klenteng Hwie Ing Kiong kali ini, Sesomo dan krunya harus memainkan dua cerita bersambung hingga satu setengah bulan lebih. Pementasan sore, digelar pukul 15.30, mengambil judul Poei Sie Giok Bak Lui Tay. Menceritakan tentang tentang pergulatan sebuah perguruan silat besar Shaolin menghadapi kebijakan politik pemerintah Tiongkok.

Sedangkan malam hari mulai pukul 19.00, mereka kembali memainkan wayang dengan judul Cap Pwe Lo Hwan Ong. Sebuah kisah yang menderitakan tentang pemberontakan 18 pendekar sakti untuk menggulingkan pemerintahan yang tiran. Penonton pementasan malam yang berdurasi dua setengah jam ini biasanya lebih banyak.

Pramono, pengurus Kelenteng Hwie Ing Kiong, menjelaskan biasanya setiap hari pementasan itu ditanggap oleh seorang warga. Kemarin (8/5) misalnya, Yap Min Oe, salah satu warga Jalan Kutai Kota nanggap wayang itu. “Kalau untuk pementasan hari pertama ditanggap langsung oleh kelenteng,” ungkapnya. (isd) *****
Radar Madiun, Jumat, 09 Mei 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: